Sepulangnya dari #LiburanKeluargaTelo di tahun ini beberapa minggu lalu, saya berpikir mau menulis di blog seperti apa yah. Tepatnya bagaimana memulai lagi. The first step is always the hardest. Lama juga menimbang nimbang. Tapi kemudian saya mendapat insight bahwa a FIRST experience to anything is always a good start. Jadi, daripada memulai dengan bercerita tentang jejak Bapak Freddy, Saya, dan Mika Telo selama di #MikadiSpanyol dan #MikadiSwiss, saya mau berbagi informasi yang berguna dulu dari pengalaman pertama yang baru.

blog2

Travelling bawa anak bayi nanggung di tahun 2018 ini bukan yang perdana bagi saya dan suami. Dua tahun lalu plesir ke Itali November 2016, kami sudah menghadapi tantangan asik dan mengenal betul tindak tanduk tetek bengek karakteristik Mika selama di negri asing. Alhamdulillah punya anak ga rempong seperti Mika, he’s open to new experiences, termasuk kebutuhan dasar alias makanan. Apa aja mau, lidah maupun perut nya nrimo, bukti bahwa ia anak Jawa tulen yah.

Nah, yang baru adalah travelling membawa Mika who’s officially a toddler sembari hamil lagi, kata dokter hamil tua, masuk trimester ke-3. Liburan kami berkisar selama 15 hari. Saya hamil anak kedua, ketika berangkat tepat memasuki usia kandungan minggu ke-27, ketika pulang tepat di akhir minggu ke-28. Alias hamil 6 bulanan lah, masih nyaris menyelesaikan 7 bulan. Dokter kami dari awal kehamilan sudah mendorong untuk “sana…. pergi liburan, monggo, biarpun di minggu ke 30, yang penting sehat”. Namun kuatir juga karena perjalanan kami jauh dan hanya bertiga, tanpa menemui teman atau sanak saudara di negri asing. Lebih lanjut, gara-gara prinsip demi tiket murah, jadinya untuk sampai ke Spanyol sebagai destinasi liburan pertama aja kudu menempuh 11 jam KL – Istanbul, Turki. Transit. Lanjut 4 Jam Istanbul – Amsterdam, Belanda. Lanjut 2 jam Amsterdam – Barcelona, Spanyol. Lanjut lelah tak berdaya setelah 20 jam jadi musafir.

Sehingga. Kali ini kami lebih berjaga-jaga dan ga boleh cuek asal jalan-jalan tanpa research atau rencana mengenai travelling while pregnant (AND pregnant big time!). Hal yang paling penting dan genting itu dipelajari dulu, utamanya jangan sampai ada batu kerikil yang tidak terantisipasi dan membuyarkan kenikmatan berlibur.

Sharing saya di sini fokus mengenai jaga-jaga, mengantisipasi worst case scenario. Ketika dibaca kok keliatannya parno banget yah mau liburan aja. Tapi nyatanya kami ngga sewas-was itu ko (kecuali tiap ketemu dokter). Ini semua justru tips supaya pas liburan jadi worry-free ataupun ribed-free, seperti yang kami jalani, Alhamdulillah semua lancar sehat menggembirakan penuh keseruan tanpa halangan yang berarti.

Simak coba apa yang kami persiapkan sebelum berangkat – selama liburan – dan setelah kembali ke rumah. CIye, kaya operasional Palapsi aja yah, selalu bahas pre-, during dan post.

..

SEBELUM BERANGKAT

blog3

Do! Research everything about Airline Policy for Expecting Woman / Pregnant Traveller.

Jalan-jalan ketika hamil muda, atau seringnya orang pergi “babymoon” di trimester kedua pas lagi fit-fitnya itu nyantai, ga perlu mikirin ini. Tapi kalau hamil tua lain cerita.

Banyak yang udah tahu atau sering dengar bahwa ketika sedang hamil di usia kandungan tertentu, maskapai penerbangan punya kebijakan yang berbeda-beda mengenai aturan main supaya Ibu Hamil boleh ikut terbang. Di antara airlines yang besar dan ternama, umumnya mulai kehamilan minggu ke-28, penumpang disyaratkan untuk membawa surat atau sertifikat dari dokter yang menerangkan usia kandungan ke-berapa, dan bahwa kita “fit to fly” dalam kondisi yang sehat.

Yes, ini udah banyak yang tahu. Tapi lalu jangan terpaku pada informasi kebutuhan surat pengantar dari dokter saja, melainkan pelajari lebih lanjut apakah ada ketentuan sertifikat harus dibuat per tanggal H minus x hari sebelum terbang.

Saya sendiri baru ngeh karena ada teman di kantor yang cerita bahwa dia sempet di”halau” dan ditolak secara baik-baik oleh petugas maskapai karena surat yang ia persiapkan dari dokter menunjukkan tanggal yang udah lebih dari 1 minggu jaraknya sebelum hari H ia terbang, surat miliknya berusia 8 hari. HIks, nyesek. Kan gondok yah (nangis miris tepatnya} kalau dilarang masuk pesawat, atau kudu beli tiket baru lalu reschedule penerbangan di hari kemudian, atau malah ga jadi liburan hanya karena kurang teliti persiapannya. Meski demikian, jangan sedih. Biasanya di bandara terdapat klinik yang bisa (inshaAllah loh) menghadirkan dokter untuk memproduksi surat keterangan terbang. Hanya sajaaa, bisa jadi darah tinggi kalau fasilitasnya ngga tepat waktu dengan jam penerbangan kita. Makanya sempet-sempetin pre-natal check up sama dokter spesialias kandungan / ObGyn langganan Anda kalo bisa sehari atau 2 hari sebelum berangkat.

Kalo bisa dan kalo berani! Hahhaa. Saya aslinya deg-degan, takut pas checkup sebelum berangkat, malah Allah “Kun Fayakun” yang tiba-tiba akan memicu dokter untuk melarang saya bepergian. kami udah sempet siap2 mental mengikhlaskan batal liburan demi melestarikan health on top of anything. Tapi Alhamdulillah ternyata tetep dikaruniai sehat dari Allah buat kami sekeluarga  Hhhhhh, gini yah kalau travelling udah ga solo atau duo sama suami lagi. Dulu mah cuek banget ngga pernah mikir apa-apa, sekarang dikit-dikit bisa cemas keringetan sampe basah ketek. Tapi seru banget kok.

Don’t! Try to hide your pregnancy from the airline officials.

Sebenernya sih kebebasan masing-masing pribadi mau melapor atau ngga sama petugas airlines. Kalau udah nyata kasat mata perut blendung mah ga bisa di-umpetin lagi. Tapi kalau masih langsing kaya saya, heheheh, bisa aja. Ngga ada hukuman atau penalti yang pernah saya baca juga kalau ketahuan hamil di saat kita tidak melapor tapi nyelinep terbang. But like any other rules, aturan itu diciptakan untuk mencegah dan mengurangi kondisi chaos, yang jelas untuk kebaikan khalayak ramai.

Bayangin misalnya kita ngga bilang siapa-siapa kalau sedang hamil, walaupun pas berangkat segar bugar Terus, Nauzubillah Min Zalik, tiba-tiba kondisi berubah 180 derajat. Contohnya kaki bengkak ga bisa jalan lah, atau kontraksi akut kah, atau worse come to worst terjadi pre-term labor di dalam pesawat, kan yang shock jadi lebih banyak. Saya mah takutnya disuruh bayar ganti rugi kalau2 mengakibatkan kepanikan di udara seandainya ada situasi emergency dari kehamilan saya. Di sisi lain, ngarep juga bisa dapet upgrade ke business class kalau flightnya sepi terus pramugarinya kasian melihat saya dijajah space duduknya  oleh anak sendiri di kelas ekonomi. Hahaha. Sayang bukan rejeki.

Do! Research everything about healthcare facilities (especially in emergency cases) in the travelling destination.

Minimal, coba Googling klinik atau rumah sakit terdekat dari tempat kita menginap. Jaga-jaga aja in case kita perlu ketemu dokter, jadi ngga kalang kabut nyari medical center, walaupun bisa aja nanya orang di jalan. But in a panicky situation, we tend to neither think clearly nor efficiently.

Do! Equip yourself with Insurance Coverage.

Asuransi terbaik sepanjang masa adalah ALLAH, apapun dimanapun jangan lupa minta sama Allah. Namun, khusus artikel ini (ciye, siapa bilang ini artikel) terkait travelling pas hamil hampir tua, punya asuransi itu penting di kala genting. (I like it when everything rhymes!)

Dalam konteks perjalanan keluarga kami di Eropa, biaya rumah sakit itu edan mahal banget dibandingkan berobat di tanah air tentunya. Membeli overseas healthcare insurance bisa membantu menghilangkan resiko ngeluarin duit upfront ketika harus dirawat (amit amit jabang bayi) selama berlibur.

Plus, punya asuransi juga memudahkan hal kecil seperti registrasi di klinik untuk urusan minta surat keterangan terbang. Ini saya alami ketika persiapan flight kembali ke KL. Sertifikasi fit to fly yang saya dapatkan untuk berangkat hamil minggu ke-27 sudah expired berdasarkan Turksih Airlines policy (yang maksimal 7 hari dari kunjungan dokter). Jadinya saya harus mengunjungi dokter ketika di Switzerland.

Jangan lupa print atau catet semua nomer hotline atau nomer kontak si Asuransi untuk kondisi emergency.

..

SELAMA LIBURAN

blog1

Don’t! Carry your toddler too often. But DO! Shower him with love and no less attention

Selain hamil, kita udah punya si bocah toddler yang lagi lucu-lucunya. Jangan banyak cemas soal bayi di perut, inshaAllah kuat dan sehat selama kita happy-happy menikmati moment. Inget, happy mother, healthy pregnancy. Yang penting abang/kakak toddler jangan sampai surut perhatian.

Mika sendiri anaknya lagi aktif banget di usia 30 bulan. Selain suka lari-lari, anaknya lagi manja, suka minta peluk cium dan gendong! Hobinya nyanyi, ngoceh, nanya ini itu kaya ngga ada finish line. Ngga dipungkiri kudu super duper ultra sabar jadi orang tua. Tapi melihat kebahagiaan Mika tiap hari selama liburan itu bikin hati makin bahagia buat kami berdua. Saya udah ngga kuat gendong depan . Alhamdulillah banget kalau kita memiliki partner yang super keren seperti Bapak Freddy selalu siap siaga gendongin Mika. Terutama karena kita kena cobaan “stroller Mika lenyap oleh Turkish Airlines”. Pinggang patah tiap hari. Tapi aku juga keren kan Pak? Cheers for good teamwork!

blog4

Do! Bring your Pregnancy Pink Book

Alias buku progress kehamilan yang selalu ada catatan dokter kandungan kita. Sehingga kalau dibutuhkan untuk mengunjungi dokter di destinasi travelling karena alasan satu dan lain hal, dokter asing yang kita konsultasikan secara tiba-tiba bisa tahu riwayat kehamilan atau kesehatan kita.

Do! Bring your vitamins and pregnancy supplement

Rajin diminum yah ,dan minum air putih yang banyak supaya kaki ga bengkak  di saat jalan 20,000 langkah sehari.

Don’t forget to listen and be kind to your body AND your baby in the womb

Kalau capek, jangan dipaksa. Kalau laper, jangan menunda makan. Kalau kuat-kuat aja mah hajarrrr, jangan ragu-ragu untuk tetap bugar selama travelling. Ini juga teamwork sama utun di perut yah.

..

SETELAH KEMBALI DARI LIBURAN

Do! Be mindful to maintain your health.

Walaupun sampai rumah kembali dalam keadaan sehat juga, jangan lengah untuk terus menjaga makan minum dan suplemen keluarga. Apalagi kalau keadaan cuaca di antara lokasi jalan-jalan dan tanah air/tempat tinggal semula kita berbeda ekstrim. Seperti Mika yang pulang dari Swiss yang bersalju, kembali ke KL kebetulan pas ada heat strike, gerah dan panas menusuk banget.

Beres-beres laundry nya nanti aja, yang penting istirahat.

Do! Bersyukur karena makin banyak bersyukur makin ditambah rejekinya.

Hahahaha. Udah males nih nulisnya udah sampai sini. Udah banyak kan tipsnya. Mudah-mudahan dengan bersyukur, rejeki jadi nambah berkali-kali lipat. Next jalan-jalan kami udah berempat formasinya dengan Tuan Puteri di perut. Aminnnn.

..

Semoga bermanfaat. Salam dari #keluargaTelo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s