Remember Weaning With Love? Yes, Mika and I made it!

Another history marked, and we are in hype to celebrate!

Ini kisah keberhasilan menyapih Mika Jalandra Andreas pada usia nya 2 tahun 2 bulan. Syukur alhamdulillah dapet rejeki untuk bisa memberi ASI selama 2 tahun full, thanks to si anak yang posesif sama nenen Mama.

Metode apa yang membantu saya berhasil mendukung Mika transisi ke tahap perkembangan hidup yang berikutnya? Jawabannya adalah Weaning With Love (WWL).

Tapi. Dalam prosesnya, saya mengaku sempat pernah “murtad” dari WWL. Malah saya mencoba WW seri yang lain seperti Weaning With Lipstick, Weaning With Coffee, Weaning With Deception (tipu-tipu), Weaning while hoping there’s an easy way out. Namanya juga manusia kan.

Lalu kemudian. Saya mendapat EUREKA moment, like Aha!!! Sehingga saya kembali mencoba Weaning With Love. Hanya dibutuhkan satu jam berkualitas di antara saya dan Mika untuk menyukseskan program menyapih. Satu jam saja, dan itupun tanpa drama, tanpa embel-embel menjanjikan reward mainan atau hiburan. The key is the love.

Aga susah untuk menjelaskan kuncinya, tapi mudah-mudahan bisa ditangkap melalui kisah perjalanan Mika (sebelum si satu jam WWL penuh kemenangan).

Catet bahwa WWL itu membutuhkan banyak komunikasi antara Ibu dan Anak, perlu banyak assurance of love, instead of assurance of reward (and this was my first mistake). Coba amati dan ambil lesson-learned dari semua chapters of my weaning exercise (please bear with me, tadinya mau nulis pendek aja, tapi I can’t help to share and tell).

Chapter 1. The Triumph of The First Trial

Berawal dari 1 Juni 2017 saya menulis satu post tentang perdana mempraktekkan Weaning With Love (WWL) alias menyapih dengan cinta, tergerak dari seorang adik angkatan jaman kuliah di Psikologi dulu yang sukses menjalaninya. Saat itu targetnya adalah untuk menyapih secara bertahap, yakni ngga ingin langsung berhenti mengizinkan ASI, melainkan mencoba supaya putra mahkota berhenti nenen di siang hari, selebihnya setelah waktu isya sampe pagi masih boleh minta nenen. This attempt ended so swell.

Mengapa demikian? Here’s why:

Saya dan suami sounding ke Mika bahwa dirinya akan segera menginjak usia 2 tahun. Isi persuasinya kira-kira seputar begini. Nanti kalau sudah ulang tahun, Mika bukan bayi lagi. Udah besar. Nah, tandanya anak udah besar itu udah ga nenen lagi. Nyenengin banget kalau ulang tahun jadi anak besar. Bisa tiup lilin, potong kue, dan pake topi ulang tahun. Kalau rejeki, dapet kado ulang tahun juga.

Saya mengasosiasikan beranjak besar dengan milestone ulang tahunnya, dengan begini anaknya semangat banget. Terbukti, bahwa sounding kami berhasil membuatnya berhenti nenen during daylight. Kadang masih minta sih kalo siang, tapi hanya dengan diingatkan akan ulang tahunnya, sudah bisa efektif untuk membuatnya stop meminta. Tanpa rengekan sama sekali.

Yes, we concluded that we reached a small victory. But we didn’t realize the method was just not right yet. Mengapa demikian? Here’s what happened:

Perhatikan bahwa kami bukannya memberikan assurance of love, melainkan malah membagi iming-iming reward. Yaitu si tiup lilin lah, si potong kue lah, si kado ketika ulang tahun lah. Sebenarnya showering our child with rewards is not completely wrong, it’s not a bad thing. In fact, dalam ilmu psikologi diajarkan bahwa memberikan reward (berupa pujian, mainan, hiburan, tambahan uang jajan maupun voucher berbelanja) bisa menjadi salah satu cara untuk mendorong atau mempertahankan perilaku yang baru dan lebih baik (atau yang kita inginkan dari seseorang), istilahnya sebagai bentuk positive reinforcement. Hanya saja dalam pengalaman saya dengan Mika, saya menemukan the right way to LOVE. Kata orang kan mencintai itu tanpa syarat dan tanpa pamrih, jadi harusnya dalam mempraktekkan WWL, ya ga pake jurus ngasih-ngasih reward materi/mainan. Masih penasaran kan? Gimana sih praktekkin LOVE nya. Baca terus yah.

Chapter 2. The Fall of the Babylon-tong Empire

SI bayi lontong yang udah jangkung sehingga ngga padet kaya lontong lagi kemudian menginjak ulang tahunnya yang ke-2 menjadi toddler labil.

Rejeki banget saat itu di bulan Augustus 2017 Mama dan adik saya beserta keluarga besarnya (istri, ipar, mertua, adik-kakak, ponakan) keroyokan bertandang ke Kuala Lumpur dan meramaikan ulang tahun Mika.

Pada saat ini, saya terbuai dengan kemenangan semu yang kami capai di Chapter 1 dan lupa kalo WWL harus terus berlanjut. Pikir saya, ah, mumpung rame ada keluarga besar di rumah, kita hajatan dulu. Persis sesuai yang di-sounding sejak 2 bulan sebelumnya. Yakni dengan tiup lilin, dengan potong nasi gudeg (gantinya kue), dan dengan tiup lilin lagi dan lagi (anaknya terobsesi banget sama tiup lilin).

Eh, kok ya tepat keesokan paginya setelah acara ulang tahun usai, anaknya minta nenen lagi di pagi dan siang hari. Sambil ngerengek pulak. Mau saya tegaskan dan biarin dia rewel, ngga enak juga karena takut menyebabkan kebisingan dan ganggu anggota keluarga yang sedang berlibur, padahal lagi bertamasya bersama. And so all my guard fell down. Anaknya pun kembali nenen.

Mengapa demikian? Here’s why:

Seperti yang sudah ditebak, ketika di Chapter 1, the lowlight is that we only associated his growing-up and being “anak besar” dengan event dirinya mencapai usia 2 tahun, lebih spesifik lagi dilekatkan dengan acara ulang tahun kaya akan tiup lilin. Nah, acara ulang tahun dan tiup lilinnya udah usai, semua buah dari usaha untuk internalisasi bahwa anak besar ga boleh nenen lagi nya pun langsung bubar jalan.

Di tahap ini saya jadi males, hahaha. Apalagi kata Mamah saya (Nin nya Mika), biarin aja anaknya masih mau nenen kok, kan kasian. Nanti juga bosen sendiri. Akan ada masanya dia bisa mengerti harus berhenti. Mungkin bukan sekarang.

Nah tapiiiii, di saat yang sama (inget kan masih dalam rangka kunjungan kenegaraan yang paling besar, adik saya membawa mertuanya yang sangat dekat dan baik hubungannya dengan kami, kami memanggilnya Nenek CI alias Nenek Ciledug Indah, hehe), Nenek ini punya saran yang konvensional dan agak ekstrim kiri. Beliau rekomen begini “udahhh, kasih kopi aja tetenya, biar pahit” sembari pura-pura merintih, kasitau Mika kalo tete Mamah udah berubah, gada susu lagi, sekarang item. Biar anaknya juga simpati dan bakalan ngga tega untuk melanjutkan nenen.

Lucu juga jadinya liburan keluarga CI di Malaysia jadi ajang rame2 membujuk Mika supaya berhenti Nenen. Semua anggota keluarga mulai dari Nin, Nenek, Paman Nevis, Mama Linda, Mama Uci, Mama Pipit, Uwa’s Ayah Ifqan, Om Billly, Kakak Vanya sampai Diva (yang lahirnya cuma beda 4 hari dari Mika) pada berupaya meyakinkan bayi lontong kalo doi udah waktunya stop nenen.

“Mika ko masih nenen? Malu ihh” sampe Diva yang sambal ngedot pun ikuta-ikutan “Malu ih” hahahah.

Chapter 3. Putus hubungan dengan WWL. Deception Era.

Ketika mendengar ide Weaning With Coffee dari Nenek Ce’ik, tergiur bukan main untuk mencoba, lebih tepatnya penasaran. Siapa tau berhasil kan? Sebelumnya, kebetulan saya membaca posting seorang blogger (alodita.com) yang berhasil menyapih anaknya dengan instan menggunakan cara oles-olesin lipstik di nipple. Weaning with Lipstick? Hmmm.

Wuih, pokonya murtad dari jalan WWL, I was open to any idea. Saya putuskan untuk mencoba yang simple, dan preferably mana yang ngga bikin payudara kotor, haha. Jadinya saya ikutin trik dari Alodita. Merah seperti darah penampakan nenen nya Mika setelah saya sapukan gincu di situ.

Setiap Mika nagih ASI dan saya perlihatkan kondisi tete saya, spontan Mika terkejut diam. “Itu kenapa?” ujarnya prihatin. Saya jawab payudara Mamah sakit, jadi Mika udah ga bias nenen lagi yah. Iyah (sambal angguk-angguk). “Obatin ya mah” (terharu anaknya perhatian dan concerned begini).

TIpu-tipu begini berhasil dipertahankan 2 hari saja, karena selebihnya anaknya merengek “obatiiiiiiiin, cepetaaaaan”. Yang malang, saya lupa kalo lipstick YSL saya ada rasa manisnya, it tastes really good. Walhasil ketika Mika udah ngga peduli lagi soal kondisi payudara saya karena doi maksa mau tetep “cobain” nenen, ehhhh anaknya malah makin doyan karena lipstiknya enak. Mission failed.

Hari-hari berikutnya lanjut ke metode pake kopi. Saya bubuhkan kopi yang merata di sekitar putting. Reaksi Mika ketika nagih nenen itu kocak banget. Bayangin mukanya yang excited buka baju dan bra saya, pas lihat realitanya berwarna hitam kasar karena bubuknya besar2 kaya kerikil, mukanya shock. “jijik ih”

Doi langsung nutup baju saya tanpa basa basi atau ingin tahu kenapa. Hahaha. Saya pun ambil kesempatan untuk menyisipkan pesan-pesan dan sounding kembali betapa dirinya sekarang udah beranjak besar. Udah pinter, “harusnya” minum susu UHT dari kulkas. Sebentar lagi mau masuk sekolah (padahal belum), kenalan sama temen-temen. Temen-temen Mika juga semua udah pada ga nenen. Inget kan kata Nenek, Kakak Vanya dan Diva, kalo masih nenen “malu ih”. Gitu.

I didn’t realize how I wasn’t giving the right kind of LOVE by saying these kind of things. Only a lot later on that I did.

Oiya, metode menyapih pake kopi pun akhirnya gagal karena Mika ketika tidur malam hari ia bangun minta nenen, ga tahan, maksa mau ASI sampe-sampe ngga peduli kalo bentuk nenennya hitam kasar menjijikan (lebih tepatnya lupa atau ngga kelihatan karena lampu kamar selalu mati pitch black kalo tidur malam), hingga doi hajar sikat nenennya (sambil sekali melepeh bubuk kerikil, hahaha). Pas bangun keesokan paginya, mulutnya celemotan warna coklat, hahhaa. Gagal total.

Percaya ngga percaya, ada juga tipu-tipu lainnya yang saya praktekan kepada Mika, termasuk ngumpetin putting ketika buka Bra. Saya turunkan branya hanya sampai batas payudara di atas nipple, trus bilang “lohhh, nenen nya ilang, lagi ngga ada”. Dan lucunya Mika percaya, tapi seperti biasa semua tipu muslihat ini ngga ada yang memberi efek jangka panjang.

Mengapa demikian? Here’s why:

Intinya anak belum mendapat insight dan understanding untuk move-on ke fase perkembangan hidup yang berikutnya. Karena asupan informasi yang saya beri hanya alih-alih bohong-bohongan semua. Tambah lagi, bukannya anak diberi rasa sayang yang membangun self-esteem nya, saya malah mencoba membuat nya berhenti nenen dengan menjatuhkan kepercayaan-dirinya tiap kali saya cerita “kalo masih nenen, malu ih”.

Akibatnya anak tidak paham, dan belum yakin bahwa it’s alright to move on, dan Mama masih akan sayang sama Mika. Ngomong-ngomong, sebenernya hal ini saya sadari ketika di Chapter 4.

Chapter 4: The New Age, Return of Weaning With Love

The pivotal moment happened from a conversation in the Watsaap Group. Ada anak dari teman baik kami di Ronin group, Alesha binti Agung Nugroho, yang ulang tahun di akhir September. We talk about everything and anything in our WA group. Hari itu, selain mengucapkan selamat dan berbagi doa untuk si kecil Alesha, kami bertukar kabar. Agung cerita bahwa anaknya udah ga nenen lagi. Dan kita semua penasaran gimana caranyaaa. Paling (dan selalu) bikin penasaran adalah apakah melalui drama nangis2an yang lama. Jawabannya jelas: Iya. Nangis2an ada lah satu dua hari, setelah itu si Alesha lupa, dan berhenti minta nenen dengan sendirinya. Cerita keberhasilan Sasa (Mamanya Alesha yang ofcourse play the biggest role in the success) itu mendorong saya untuk gigih harus bisa menyapih Mika!

Ga buang-buang waktu, malam itu langsung saya bilang sama Bapak suami untuk siap-siap keberisikan (doi paling ngga seneng tidur malamnya terganggu nangis berisiknya Mika). Apa pun itu rengekannya, saya ngga akan kasi nenen sama sekali. Tapi sebelum heading to Mika’s final slumber, saya minta Bapak suami yang tuck Mika to sleep. Karena Mika itu anak Bapak banget. Kalo di puk-puk bobonya sama suami, doi cepet tidur pules dan ajaibnya, lama.

Si Pak Freddy malam tersebut lucky to be unlucky. Alias “beruntung” karena dirinya lagi sakit flu berat, kami sepakat supaya ia tidur di depan tivi, ngga di kamar. Jadinya pas menghadapi “THE mission” saat nanti Mika bangun malam hari/pagi buta, Bapak ngga keganggu tidurnya.

Pukul 03.30 pagi Mika bangun “Maaah, mika mau nenen plis”.

Seperti biasa, ia jawab sendiri “Oke boleh” sambal kucek-kucek mata ngantuk.

Saya menyambut dengan jawaban “ngga lagi yah, Mika udah besar”

Slowly but surely, louder and louder, tangisannya tumpah bersenandung. Anaknya merengek maksa pengen nenen, sebagai Ibu saya ngga tega melihat momen tersebut. Namun terharu juga karena usaha menyapih ini ngga hanya satu arah dari Ibu, tapi saya sadari it’s a joint effort dengan si kecil. Makanya belum apa-apa aja saya udah bangga sama Mika. Let’s do this, son. Bismillah..

Energi dan positive thinking ini yang tiba-tiba membawa intuisi saya sebagai Ibu menjadi lebih tajam. What do I need to do now? Sambil menimang dan meluk Mika yang saya biarkan puas menangis dulu, saya mengajak diri untuk flashback evaluasi all the lesson learnt dari Chapter 1 sampai Chapter 3 perjalanan usaha menyapih. Kemudian merenungkan ciri-ciri dan karakteristik Mika saat ini, dia lagi seneng apa sih, lagi melewati tahap perkembangan apa sih. Saya bukan Ibu yang rajin membaca buku tentang tahap perkembangan anak, jadi teori ataupun lagi di tahap apa Mika tepatnya, saya ngga tahu. But I’m his mother! Bapak Freddy and I are the only ones who know what he is going through now, jadi saya harus tahu, saya pasti tahu, ga perlu buku pedoman. We just need LOVE. Berikut percakapan dan dinamika antara saya dan Mika selepas Mika nangis 10 menit.

***

Ayo Mika, ayo Mika! Mika pasti bisa! Semangat, jangan nangis sayang. Mika pasti bisa tanpa nenen. Kan udah besar. Mama bangga banget sama Mika. Ayo Mika!

lesson 1: limpahkan semangat dan keyakinan bahwa anak kita hebat. Pour all the positive remark and be his personal cheerleader.

***

Hebat deh Mika, udah seperti mas Sky. Mika sama kaya mas Sky yah? Sama-sama udah besar yah?

Lalu Mika berhenti nangis, “iya, sama kaya mas Sky” jawabnya. Masih lanjut terisak-isak. (Sky Hernandi bin Alvin Hernandi adalah ponakan saya, cucu pertama di keluarga besar Mama dan Papa. Mika admire and looks up to Mas Sky a lot)

lesson 2: Manfaatkan karakter saudara/teman sekitar yang lebih tua sebagai tokoh idola dan pedoman (rata-rata anak kecil selalu mau deket-deket, meniru dan mengimitasi anak yang usianya di atas doi, dibanding anak yang sebaya atau lebih muda). Tujuannya supaya Mika termotivasi untuk menyerupai dan mengikuti atribut / perilaku “anak yang sudah besar” dari tokoh ini

***

Seneng yah udah jadi anak besar seperti mas Sky. Kalau udah besar, bisa ngerjain apa-apa sendirian. Hebat kan? Nanti Mika harus keren seperti mas Sky yah.

Mika lanjut mendengarkan dengan khusyuk, udah ngga lagi menangis (dasarnya si Mika emang jarang nangis lama-lama, and he’s a good listener. Kalau diajak cerita, akan menyimak)

(mama lanjut cerita…) Misalkan nih, udah besar berarti bisa ngisi air botol sendiri. Bisa juga pecahin endog sendiri kalo mau makan telor. Nanti setiap mau nganter Mamah ke kantor, Mika yang masukin kunci mobil dan nyalain mesin. Bisa pasang seatbelt sendiri. Naik odong-odong (mainan goyang-goyang yang kudu masukin koin) di mall juga ga perlu dipegangin Mama Bapak, Mika naik sendiri, sekali-kali boleh masukin koin deh, mau yah? (Bapak Mamanya irit, ga pernah ngasih anaknya naik odong-odong goyang-goyang pake koin, ngabisin duit aja).

Kalau selama ini Mika bantuin masak cuma boleh aduk-aduk sama potong-potong, nah sekarang udah jadi anak besar bisa bantuin pecahin endog loh! Seru banget yah (entah kenapa anak kecil suka terhiptonis oleh pesona telur bulat, ya ngga Ibu-ibu?)

“Mika mau pecahin endog” anaknya mengiyakan.

Lesson 3: Dari mengamati kelakuan bocah, usia segini anak mencapai tingkat penasaran dan kesotoyan maksimal yang hakiki. Segala-gala mau ikutan ngerjain, ingin mengeksplor dan membuktikan skill motoriknya. That’s a sign of kebutuhan otonomi di dalam diri anak (toddler autonomy). Oleh karena nya, daripada iming-imingin mainan/hiburan ataupun bentuk reward materi, acknowledging and giving our toddler the independence he needs menurut saya lebih berarti bagi anak. Zero ongkos, dan efektif. Anak jadi merasa tertantang dan termotivasi. Ini juga bentuk orang tua meningkatkan self-esteem nya (daripada justru menjatuhkan dengan komen seperti “malu ih udah gede masih nenen”)

***

Selagi bertukar dialog, saya terus-menerus membelai Mika, meluk, cium, puk-puk punggung dan pantatnya, mencurahkan kontak fisik supaya anak merasa dukungan Mama. Ngga berhenti juga tiap jeda cerita satu ke cerita lainnya (sambal mikir mau cerita apa lagi yaaah), saya selalu menyemangati Mika lagi. Ayo Mika, anak Mama hebat, Mika pasti bisa, semangat ya sayang. Semua diulang-ulang demi supaya anaknya inget terus the meaning and value of moving on to his next development stage.

***

Lambat laun anaknya tenang, meskipun masih ada tanda-tanda gelisah. Salah tingkah karena bingung mau ngapain kalo ngga nenen coba. Akhirnya saya tawarin “kan udah besar, gimana kalo Mika seperti mas Sky ambil susu di kulkas aja yuk. Minum itu aja ya sayang”. Ia setuju.

Setelah ambil susu dari dapur, lanjut minum di kamar sampai satu kotak UHT habis dilahap. Anaknya masih gelisah. Akhirnya saya tawarin untuk mendengarkan dongeng-dongeng dari buku cerita kesayangannya Mika, yang favorit adalah the Underwater Bear (beruang favorit), lalu kura-kura, harimau, dan kawan-kawannya. Biarpun ngga nangis lagi, tapi masih gelisah.

Akhirnya anaknya minta “Mama ngaji sambil pangku Mika plis”. Huhuhuhuhuh, Mamanya terharu. Anak soleh, nagih Mamanya ngaji sambil peluk doi dalam posisi nenen. Di tengah prosesnya, anaknya masih ngendus-ngendus payudara saya, hahaha, kocak.

Saya menengok jam di dinding, menunjukkan pukul 4.30, tepat satu jam dari “kebangkitan” Mika dan start dari proses menyapih kembali dengan WWL. Anakku sayang pun tertidur, sampai pagi. Alhamdulillah ya Allaaaah, sama sekali ngga sedrama yang dibayangkan. Yang terpenting, berhasil!!!!!

***

Guess what? Hanya malam itu lah proses menyapihnya. Di kemudian hari berlanjut sampai kini sudah 3 minggu, anaknya sudah mengerti bahwa ia bukan bayi yang nenen lagi. Sekarang Mika sudah besar. You did it, son! We did it! Horeeeee

P.S. Penglaman ini saya bagi dan ceritakan tanpa mengikuti maupun memahami teori apa-apa karena saya ngga hafal teori apa-apa walaupun dulu pernah jadi mahasiswa Psikologi.

This story is written from my personal experience as a first time mother to a whole new encounter of kid’s change. Harapan nya bisa membantu ibu-ibu lain yang juga melewati proses menyapih bersama anaknya. Salute to all the mothers on this planet.

There’s a reason why we’re called Pejuang ASI. Ngga hanya dalam usaha memberi, menyediakan, mencukupkan untuk anak kita ASI, tapi juga dalam usaha berhenti memberi ASI pun kita harus berjuang. May the force be with all the mothers! Semangat never give up!

 

With love, Terry

 

 

2 thoughts on “Remember Weaning With Love? Yes, Mika and I made it!

  1. Good Job mama Tey and Mika !!
    Tante novi dan adek Ghassan akan memulai perjuangan persapihan juga (dua bulan lg siih hehhee)… Doakaan ya 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s