Dari sekian banyak ilustrasi point of interest di peta Roma yang menunjukkan piazza, fountain, basilica, garden, monumento, dan castel, ada 2 tempat populer yang terlongkap oleh kami (1) Piazza Navona dan (2) Pantheon. Kalau mau diinget-inget alesannya kenapa ngga mampir, saya ngga inget, hahaha. Tapi sebagai orang tua beranak nanggung seumuran Mika, kami udah mengikhlaskan liburan bergaya amazing race, yang kudu ambisius lihat ini itu, mampir sini situ, terutama mengingat perjalanan carefree kami berkat tanpa stroller. Ada highs and lows nya style jalan-jalan begini. Nilai plusnya adalah kami ngga ribed, pergerakan serba gesit (kami paling anti sama yang lelet-lelet), sat set, cekatan, dan anak nempel kaya kangguru pakai baby carrier, sehingga akan sulit jadi target bagi kriminal-kriminal penculik anak (ya namanya di negara asing, ngga ngerti kejahatan macam apa yang bisa terjadi, jadi boleh waspada, asal jangan parno). Nilai jongkoknya, adalah turunnya kebugugaran pinggang kami. Hahahah.

308665_10150457860196303_1946241676_n.jpg
Photo throwback Rome 2011

Makanya kalau mau pakai JARAK sebagai alesan kami nge-skip Piazza Navona dan Pantheon, ngga juga, soalnya kedua objek ini bukannya jauh, its’ still a considerably close walking distance. Tapi, bisa jadi karena pinggang pegel, jalan-jalan jarak dekat pun jadi kalah prioritasnya. Walhasil setelah puas Mika main di Vatikan, nyicil belanja oleh-oleh di lorong sekitaran St. Petersburg, kami langsung balik arah naik Metro train, nenen di public garden, dan main sama burung lagi di sekitaran Colosseum dan the Roman Forum sampe sore.

297814_10150457802836303_51945657_n.jpg
Photo throwback Rome 2011

Kedua attraction point ternama yang absen dari jejak liburan kami memiliki kesamaan, yaitu sama-sama muncul di buku fiksi Angels and Demons by Dan Brown, salah satu novel (yang dijadiin film) thriller favorit saya dan favorit semua orang harusnya.

Piazza Navona adalah crime scene simbolis di film tersebut, karena satu Pope termangsa dan mati di Fontana dei Quattro Fiumi . Sedangkan Pantheon itu lokasi Professor Robert Langdon (dimainkan Tom Hanks) menjalankan investigasi, mencoba memecah teka-teki sang pembunuh dan mencegah gerakan terorejing berikutnya. Scene di film Angels and Demons memamerkan kecantikan dan kemegahan si Pantheon, luar dalem.  Cantik banget, and indeed the place is really beautiful.

Ngga menengok objek wisata Piazza Navona bukan masalah, ngga nyesel, karena banyak sekali Piazza lain yang kami datengin, ciri-cirinya hampir sama semua: lapangan besar, patung di atas kolam air mancur, gelateria (toko gelato), street artist yang rajin melukis dan street performers yang seru. Kadang street beggars alias pengemis juga ada. Haha.

308251_10150457858876303_1805811972_n.jpg
Photo throwback Rome 2011
321287_10150457858106303_1693427165_n.jpg
Photo throwback Rome 2011

TAPI ngga ngajak Bapak suami ke Pantheon itu yang lumayan kezelll, kenapa oh kenapa…

Padahal saya punya cerita khusus yang sangat berkesan dari berlibur bersama almarhumah mb Tika dulu pas mengunjungi Pantheon. Dan saya selalu suka dongengin kisah libur kami ke teman-teman yang juga kenal almarhumah. It’s a daunting story happening in a an exquisite site.

Alkisah…

Short Preface: Almarhumah mb Tika Sugianto adalah mentor, senior sejak kerja di SLB Indonesia, dan menjadi temen yang sama-sama dapet assignment kerja di Dubai. She claims to have sixth sense ability, walaupun ngga menyukai bakatnya ini, tapi banyak juga energi, roh, hantu, you name it… yang suka “menjiwit” alias “poke” mb Tika. It’s up to people whether they want to believe it or not, for me, I still respect and appreciate the stories she shares out of the so called sixth sense exposure and experience.

Karena dasarnya saya suka dongeng, jadi cerita apa pun, apalagi yang super intriguing macem kisah hantu, percaya-ngga percaya aja kaya nonton tivi serial berjudul X-Files. Whatever it is, the truth is out there…. Eng ing engg….

312987_10150457801331303_1540015024_n.jpg
Photo throwback Rome 2011

Menjalang akhir bulan Oktober 2011, kami singgah 3 hari 2 malam di Roma. Tiba masa “menemukan” Pantheon di hadapan kami selepas berbelok di altar jalan yang sempit, ada reaksi kekaguman yang menggelitik di perut. Gothic banget bangunan ini. Tempat apakah gerangan? Berdiri berbentuk silinder, atapnya adalah dome, teras entrance nya dihiasi gagah pilar-pilar tinggi dan muka bangunan didekor dengan pedimen klasik. It definitely gave a wow effect, terutama ketika kami sampai di situ, matahari sore memancar ke wajah Pantheon, memantulkan warna keemasan di tulisan kuno yang terpahat pada kolom di sela pedimen dan pilar. Ukiran tersebut berkilau memamerkan ayat ini: M. AGRIPPA L.F. COS TERTIUM FECIT.

Artinya: Marcus Agrippa, son of Lucius, three-time consul (one with a power like a king) made this.

Bisa disimak di link ini profil dan penjelasan singkat soal Pentheon: http://www.ancient.eu/Pantheon/.

381960_10150457857426303_1947439748_n
Photo throwback Rome 2011

Masih terbengong-bengong di lapangan Fontana De Pantheon sambil kelaperan nyari spot makan sore, saya dan mb Tika merasa terpanggil untuk masuk Pantheon. Seolah-olah ada magnet jumbo dan malaikat yang bisik-bisik di telinga aja, daya tariknya ngga terelakkan. Seolah-olah loh. Aslinya mah mungkin karena gratis kali ya, hahaha, kuat banget memancing nafsu buat lihat-lihat mumpung ga bayar.

Masuk “tabung” yang kini berfungsi sebagai gereja, ngga kalah “wah” nya dipikat oleh lantai dan tembok granit penuh dengan patung-patung ,semua dalam suasana/warna tanah. Saya otomatis terbawa khusyuk mengamati ruang yang besar dan bikin merinding. Sensasi khusyuk disebabkan juga karena di tengah ruang silinder itu terdapat beberapa shaf bangku, dipersilakan bagi pengunjung kristiani atau katholik untuk bersembahyang. Makanya siapa yang masuk, tidak boleh bersuara, takut mengganggu yang beribadah. Menatap ke atas, ada lubang di tengah-tengah dome nya. Apa coba ini? Rupanya ia disebut Opulus. Berkat Opulus ini, warna tanah yang tadi saya sebut menghiasi interior Pantheon bisa berubah menjadi keemasan ketika sinar matahari masuk menyoroti dan memutari isi bangunan. The science behind this Opulus, yang berfungsi sebagai jam tradisional disebut Sundial (jam bayangan matahari) bisa disimak di link ini: https://www.scienceabc.com/humans/science-shaped-pantheon-rome.html

Saya merinding. Udah gitu tiba-tiba juga (alm) mba Tika menepuk bahu saya, ia bilang “Ter, gw nunggu di luar yah. Lu lanjut aja foto-fotonya di dalem”

Saya pikir mb Tika udah kelaperan, mau cari cemilan duluan. Saya pun, walaupun getting goosebumps,  tetep lanjut mengitari tiap pojok untuk mencoba curi-dengar rombongan tur yang tengah dimanja oleh cerita dari Pemandu Wisata nya. Kenyataannya gagal sih ngambil kesempatan untuk nguping, karena pas mendekat, ternyata turnya dalam bahasa Espanyola. Zoong.

424239_10150730462751303_1040645085_n.jpg
Photo throwback Rome 2011

Udah mengalami language gap, religious gap, meal-time gap, semua-semua gap. Udah ah, udah habis tujuan nongkrong di dalam Pentheon lagi, akhirnya saya menyusul (alm) mb Tika yang udah nungguin di tepi air mancur depan halaman bangunan, mau nagih kebaikannya untuk ambil foto saya pose cantik depan Fontana Pantheon. Tapi ko wajahnya pucat, jari jemari nya tremor gemetaran. “Mb Tika kenapa? Ko kaya sakit?”

Alih-alih alesan kelaperan, ternyata aura gothic yang tadi saya sebut, menjadi beralasan. Doi menjawab “Ngeri banget Ter di dalem, ngga paham gw…. Ngga kuat, jadi gw keluar aja”

Ada banyak vampir (mmmm, ini aga ekstrim untuk dicerna, Mba, saya pikir vampir bohongan). Ada banyak roh yang bingung, mereka terluka. Diantara mereka yang tersesat dan bingung ada beberapa pendeta yang berdarah terbunuh. Sosok yang menghampiri Mb Tika untuk “minta tolong” adalah salah satu pendeta yang ditusuk dadanya.

Udah dicoba oleh mb Tika supaya pura-pura ngga bisa “melihat” kaum roh di dimensi yang berbeda, biasanya trik ini berhasil membuat dirinya jadi tidak digangguin. “tapi pas di dalam tadi, Ter” lanjut Mb Tika masih terguncang “banyak banget yang terbunuh tragis. Gw ngga kuat untuk pura-pura menangkis pemandangan roh-roh yang tersesat ngga tenang. Ngeri dan sedih, kenapa banyak hantu pendeta terbunuh. Ini kan gereja??” sehingga oleh karena itu akhirnya mb Tika tergopoh-gopoh mengevakuasi dirinya keluar (selagi tadi saya mencoba mencuri kesempatan dari rombongan spanish).

Kebayang, dengkulnya lemes banget di”mintain tolong” oleh zat yang susah mau ditolongin oleh, maupun nolongin, kita sebagai manusia. Kalau di dalam agama saya, yang gentayangan itu setan. Sedangkan orang yang udah wafat kudu lanjut diinterogasi di alam kubur, ngga lagi ngalor ngidul di dunia. Saya penasaran, “ini keramaian demo dari roh-roh pendeta kepada mb Tika cuman terjadi di Pantheon? atau di semua sudut Roma? Kan banyak banget gereja di tiap meter. Trus, kalau di Vatikan, ada yang horor beginian juga ngga?”

Apa coba jawabannya (alm) Mb Tika? ……… hehehehe, tebak aja.

Tapi beliau bilang di St. Peter’s Basilica di Vatikan ngga ada ko, di sana mah tenang, damai. And yes, we had an unforgettable enjoyable time exploring Vatikan together. Syukur yah, cuman di film Angels & Demons aja berarti murder frenzy nya.

Begitu kira-kira sedikit pengalaman Roman suspense yang tak terlupakan dari jalan-jalan bersama (alm) mb Tika.Bener-bener twisted. Isi Pantheon yang indah tapi horor, roh-roh misterius yang ngga ngerti kenapa dirinya mati misterius. (alm) Mb Tika yang ngga paham kenapa banyak pendeta dibunuh di gereja minta tolong sama beliau. Apalagi saya, saya ngga paham ini kejadian beneran apa ngga. Tapi, seru banget mengalaminya langsung bersama (alm) mb Tika (walaupun doi tersiksa), bikin liburan semakin berwarna, warna gothic. Heheheeh.

***

This post is dedicated to Mb Tika Sugianto (Hari Kartika Rini), in reminiscing our holiday. May she rest in peace.

376665_10150457798991303_361624068_n.jpg
Photo throwback Rome 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s