Di seluruh tempat umum yang ada di Roma, entah hotel, restoran, butik, apalagi kedai pusat oleh-oleh, pasti bisa ditemukan peta kota yang seragam bagi wisatawan. Sejak tahun 2011 mampir ke sini, selang 5 tahun kemudian kembali ke Roma, petanya masih ga berubah. Seolah di mass-produce oleh Bapak Walikota nya. Termasuk di Bed & Breakfast yang kami tinggali juga tersedia tumpukan peta serupa setebal 1 rim kertas A4 yang bentuknya kaya kalendar tahunan, sisinya siap disobek dan dikantongi kalau-kalau dibutuhkan oleh plesirwan plesirwati. Atlas kotanya animatif banget menunjukkan bangunan atau spot ‘must see’ atau ‘must do’ around town, they’re mostly free.

IMG_5877
Can you spot the Colosseum?

Saya suka sekali, Rome penuh dengan objek yang bisa dinikmati, apalagi gratis, pas banget buat 4 hari terakhir menutup liburan di Itali. Didukung oleh sarana peta yang mudah dimengerti (thanks to jalanan di Roma yang karakterisitiknya mirip2 di Jogja gitu, ngalor ngidul ngetan ngulon aja, ngga acak-acakan seperti Jakarta), saya makin semangat untuk mengajak Bapak suami menikmati setiap sudut kota dengan jalan kaki (plus naik Metro).

People say Rome is best explored by foot. And I agree. Di tiap sekian meter kita berjalan kaki, selalu ada manusia, makanan, ataupun bangunan yang nyentrik historik barbarik pornografik. Semua menarik.

Rasanya akan sayang banget kalau keliling pake tur & travel. Oleh karena itu, ngga seperti pas di Naples dan Milan, kali ini saya maksa Bapak Freddy supaya ngga boleh naik Hop On Hop Off bus (sampe sekarang Bapak suami tetep nyesel dikit sih saking doi suka banget sama HOHO Tours)

rome-sightseeing-map.jpg
Image dari Google, the Ultimate Map available every corner in Rome

IMG_5657.JPG

Dari semalem Mika sotoy ngajak mempelajari denah kota dan “scouting jalur”, kami memutuskan untuk mengunjungi objek yang paling jauh dulu, bahkan negara berbeda (walaupun judulnya city) yang letaknya di dalam Roma. Tidak lain tidak bukan adalah Vatikan, masih bisa diakses dengan menaiki metro train. Dalam hati udah harap-harap bisa lihat kemeriahan menyambut natal di kiblat nya Roman Church dunia tersebut. Kaya lebaran di Mekah kali ya. Ngebayangin pohon cemara warna warni di halaman rumah Paus.

Kami pun berangkat pukul 9 pagi. Suhu udara 7 derajat Celcius. Alhamdulillah lagi-lagi langit biru cerah, ngga ada tanda-tanda akan datang rintik hujan sama sekali. Rejeki nya Mika niiiii (anaknya angguk-angguk aja).

Dari Metro station Colosseo, bergerak menuju stasiun Ottaviano. Durasi nya lama juga karena seperti yang terlihat di peta kota Roma, negerinya jauh banget Bu Guru, di ujung peta. 25 menit baru sampai, hahaha. Ngga deng. Keluar negri yang paling cepet ini mah.

Begitu sampai, masih dibutuhkan 10 menit jalan kaki untuk mencapai entrance timur (ngga tau timur betulan apa bukan berdasarkan arah mata angin, tapi kira-kira sayap timur daripada St. Peter’s Square & St. Peter’s Basilica. Di tapak menuju alun-alun ini, sebelah kiri jalan ramai berjejer toko-toko mungil jualan fashion items terbuat dari kulit dan toko suvenir yang mamerin magnet kulkas lucu-lucu, qualitasnya bagus dan harganya murah. Makanya mata kami sudah hijau pengen mampir, tapi nanti ya Pak setelah rampung say hello sama Paus.

Sedangkan di sebelah kanan jalan udah merupakan tembok komplek St. Peter, warna putih, mirip tembok Jokteng (pojok benteng) keraton Jogja gitu deh. Nampak beberapa Pontifical Swiss Guard yang sedang patroli bawa senjata tradisional. Swiss Guard ini seragamnya lucu, merah biru kuning, pakaian seragam dan penampilannya itu percis seperti tokoh Joker dalam tumpukan permainan kartu Remi. Kesannya ngga serius ya kalo inget image nya Joker. Tapi jangan salah, mereka (pada masanya) adalah pasukan penjaga Pope, atau sang Paus. Kalau penjaga yang betulannya sekarang udah pake pakaian modern pasti ya.

changing-of-guard.jpg
Image dari Google

Singkat sekali kami jalan kaki, tiba-tiba udah crossing pager ngga penting, hap..hap.. Helloooo. Kami officially masuk di negri Vatikan. Karena masuk dari samping Piazza San Pietro, atap dan sekeliling kami menjadi megah oleh pilar-pilar gagah. Pilar ini namanya “The Colossal Tuscan Colonnades”, yang menjadi bingkai bagi si lapangan luas, luas banget edan. Secara filosofis, kata orang struktur rangkaian pilar ini seperti “the maternal arms of Mother Church” yang menyambut pendatang untuk berdoa, karena bentuknya seperti lengan yang memeluk mengelilingi si Piazza. Di tengah alun-alun besar ada Obelisk, monumen tinggi mirip The Mall di Washington DC, cuman ukurannya lebih kecil.

P_20161130_101318_PN.jpg

P_20161130_100814_PN.jpg

Bagi si Mika, ini tempat bermain yang seruuuu dan asiiiiiiik banget. Apalagi sebabnya kalau bukan karena track lari yang luas dan ada “peer group” nya berupa sekelompok burung merpati yang bisa diajak main tak jongkok. Asli, saya yang ikutan ngejar Mika ngejar burung juga jadi ikutan berpartisipasi dalam petak jongkok. Hihihi, gemesin bocah ngajak olahraga ko ya begini amat. Udah gitu ada air mancur pula. Hahahah. Deuh, udah langsung nolak-nolak pas digendong. Maunya cuma berdinamika sama burung dan air doang. Sesekali anaknya mungutin papercup bekas (hiii jorok). Dalam hati Mama bangga sih, pasti anaknya berprinsip Kebersihan Itu Sebagian Dari Iman. Ya ngga nak? rajin amat mungutin sampah.

P_20161130_103115.jpg

IMG_5688.JPG

Atraksi di Vatican City ini banyak, berikut hanya beberapa di antaranya:

  1. Mengagumi Sistine Chapel, yaitu gereja yang juga kediaman Paus (kalau rejeki, bisa silaturahmi), langit-langitnya penuh dengan lukisan mahakarya dari seniman-seniman terkenal kaya Michaelangelo dan Rafael dari era Renaissance (familiar ngga? Bukan yang dari karakter Teenange Mutan Ninja Turtle, ya Mik).
  2. Udah gitu ada Vatikan Museum, di dalemnya juga ada sejarah plus koleksi atribut Paus.
  3. Gardens of Vatikan City
  4. Melipir dikit sonoan dari St. Peter’s Square ada Castel Sant Angelo, castle yang bentuknya mirip benteng silinder.

Saya sendiri pernah mengunjungi Sistine Chapel dan Vatikan Museum bareng almarhumah Mb Tika 5 tahun lepas. Trus, saya ajak suami dan Mika buat menikmati objek yang sama, tapi Bapak Freddy ngga mau. Gara-gara ilfeel melihat antrian panjang, padahal lagi low-season. Mika apalagi, boro-boro diajak ngantri, diajak pisah dari unggas aja mukanya langsung prihatin. Maka demi anak bahagia, kami pun nongkrong di lapangan aja. Itu pun udah bikin sumringah banget, angin semilir, ingus hadir, benak melayang berimajinasi liar.

Sejenak jadi inget novel dan film Angels and Demons by Dan Brown. Sensasi thriller nya di kala suasana genting, rasa deg-degan, intrik dan konspirasi menyelimuti aktivis gereja di dalam Basilica, misteri pembunuhan, dan ngeselinnya si Camerlengo (berarti aktingnya keren ya?) menyelamatkan seluruh Vatican City demi modus pasang persona mulia, doi mengevakuasi bom pake nerbangin helikopter supaya si api biru meledak di langit. Duarrrrrrr…. Mengkhayalnya si ga bisa lama-lama, buyar manehhhh, karena Mika nyaris hilang dari pengawasan kabur ke arah air mancur.

Ngomong-ngomong, menjawab rasa penasaran kami soal kemeriahan natal, ternyata sama seperti di Milan, belum ada tanda-tanda menyambut Christmas di sini. Pohon cemara tinggi udah disipain di tengah lapangan San Pietro, tapi belum didekorasi. Dan di jalanan Roma pun ngga keliatan ada christmas market. Kalem-kalem aja seperti suasana hati kami yang adem.

Sampai di sini dulu ya cerita Day#2 in Rome. Bersambung posting berikutnya. Biar penasaran, saya kasih kisi-kisi kata kunci ala film suspense ni: Vampir, Dome, Gejala varises (ini horor banget).

Meanwhile, we’ll just watch our son enjoy his moments in San Pietro. Dear Vatikan, kamu menyenangkan! Ciao ciao! Kami beli oleh-oleh duluuu, hahahaha

IMG_5695.JPG
There he goes…

P_20161130_102432

IMG_5694.JPG

P_20161130_102243.jpg

P_20161130_103307_BF.jpg

love

3 thoughts on “The Ultimate Map of Rome & The Vatican City. 30Nov2016

  1. Tsakep yaaa! Langitnya emang bersih gak ada awannya batey? Kok sepi juga disana? Dan btw, di foto pertama aku gak tau loh Colosseum nya dimana? Sebelah kiri bukan?

    Like

    1. Cantik ya Tin. Alhamdulillah pas langit biru, bersih ngga mendung. Banyak orang dan rame (ga sampe crowded seperti high-season), tapi mungkin karena apa-apa di sana skalanya gede kali (jalanan, landmark, patung, tugu, pohon) gede-gede semua tin, jadi orang-orangnya keliatan kecil dan jadi nampak sepi. Padahal pas di vatikan itu ngantri ruame panjang. Coba di foto pertama tatap lurus ke depan, colosseumnya di ujung jalan 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s