11 Derajat Celcius.

It’s time, Mika the Pigeon Whisperer. Blow some wet kisses (wet karena never ending iler) to your unggas friends, nak. It’s time to leave high-end glam land Milan and head out towards mysterious and eerie Rome.

IMG_5641

Bagi saya, Rome itu kota yang penuh misteri dan konspirasi. And who doesn’t like a story with a twisted plot? Saya pribadi dari sejak SD sangat menyukai novel ringan maupun berat berbau suspense. Ngacung kalau generasi baca tahun 90-an seperti saya juga sempat “berpetualang” melalui buku Goosebumps, seri buku misteri Agatha Christie, baik yang memainkan karakter detektif Hercule Poirot maupun Miss Jane Marple. Beranjak dewasa, saya ngefans sama karya-karya milik John Grisham yang mana banyak cerita dari novelnya diangkat menjadi film blockbuster yang keren abis, ngga pernah ada yang ngga seru.

Berangkat mengunjungi kota ini lagi rasanya seakan-akan membuka kembali buku favorit ber-genre thriller. Excited. Apalagi kali ini mengajak Bapak suami dan Mika mi corazon untuk ikutan terhipnotis daya tarik dan keistimewaan Ibukota Itali. There’re so many wonders one can dwell on, salah satunya tentu sang konstruksi megah yang pernah lama menduduki panggung dunia dengan predikat nya sebagai one of the 7 Wonders of the World. THE Collosseum. And guess what, we’re going to stay right up close with the Colosseo. Ibarat babak penebusan, berlabuhnya kami di kota Roma itu bales dendam maksimal terhadap kegagapan dan kekecewaan bersinggah ke Milan yang terlalu mengkilat licin sosphisticated dan ga cocok dengan gelombang hati kami yang berkutat di frekuensi kental sejarah dan budaya.

IMG_5580.JPG

IMG_5592

IMG_5569.JPG

IMG_5596

IMG_5600.JPG

IMG_5606.JPG

IMG_5623.JPG

Kami bertiga diangkut kereta cepat Frecciarossa kembali, berangkat dari Stazione Milano Centrale pukul 10.00, tiba di Roma Termini pukul 12.55. Letak Roma itu di selatan dibanding Milan, jadinya saya komen ke Bapak ketika masih di dalam train “pasti ngga bakal sedingin di Milan, Pak”. Begitu keluar dari stasiun Roma Termini wajah ditampar angin…. Oops saya keliru, suhu udara makin drop. Bapak pun senyum simpul, simpulnya berbentuk kesimpulan yang itu-itu lagi kalau istrinya sotoy abis. Saya senyum nyengir bangga biarpun salah. Walaupun begitu, Bapak tetep sayang kan. Selain itu masih sangat enjoyable keluar jalan-jalan dengan angin sembribit.  Suka sekali jalan-jalan yang dingin-dingin bikin pengen pelukan ya, Pak.

Selang beberapi hari sebelum kami tiba di Rome, ada salah satu teman sosial media kami yang berbulan madu keliling eropa, dan kebetulan singgah juga di Roma. Ia memberi kesan “kapok” melalui status sosmed-nya. Ngga betah, lalu lega karena udah pamit sama kota Roma, ditambah, ngga berniat kembali lagi. Haha. Walaupun saya aliran yang kubu ekstrim kiri daripada opini tersebut dan malah betah banget kembali ke Roma, saya bisa relate dan membayangkan kira-kira kenapa orang bisa ngga suka sama kota ini. Salah satunya adalah kekumuhan Metro stationnya, minta ampun.

IMG_5625.JPG

Ceritanya gini. Touch down di stasiun Roma, kami langsung naik Metro train menuju stasiun berjudul Colosseo. As the name explains, stasiun ini ya letaknya di sekitaran Colosseum (rupanya tepat di samping ampiteater sang Gladiator). Walaupun saya pernah tahun 2011 ke Roma, tapi dulu masih single dan ngga ngeh betapa tidak “friendly” nya fasilitas pusat transit ini padahal ia terletak di ikon pariwisata yang paling ramai di Itali.

Dikarenakan masih memberkas memori manis akan stasiun ala museum cantik di Milan yang full-AC, eskalator sana sini atau lift untuk memudahkan mobilitas naik turun ke/dari subway, we took it for granted dan ngebayangin bakal dimanja oleh infrastuktur yang serupa di Rome. Namun ketika harus mencari exit stasiun Colosseo dari arah basement ke permukaan jalan, kami bengong mencari “mana yaaa elevator’. Celingak celinguk, tukar tatapan sambil lempar tanda tanya. Ngga ada, Pak. Lalu kami shock dan tertawa hebat walaupun dengkul lemes, karena emang beneran ngga ada, Pak. Terpaksa berakhir membawa 2 koper segede kulkas, menggendong 2 ransel dan satu anak, mendaki 3 set anak tangga.

Keluar dari stasiun langsung terobati sih dengan rasa kagum menatapi Colosseum, tapi yaa, lemes ciiiiyn.

Ini foto kami mencapai victory setelah “Uscita” dari Metro station sableng. Tapi ngga berakhir di situ deng, kami masih harus menelusuri jalan menanjak menuju hotel yang hanya 200 meter terpaut jarak. Koper aja ikut lelah. Hahaha.

IMG_5634.JPG

*Saran: kami ngga bawa stroller bayi aja udah ribed, apalargi bawa stroller bayi. Big no no.

Ada yang lucu ketika mencari penginapan kami. Ngga seperti inap-menginap di Naples maupun Milan yang diakomodasi oleh “proper” hotel, ternyata our home while in Rome merupakan AirBnb, yaitu satu buah flat/unit apartemen yang dimiliki perorangan berisi 3 kamar nganggur. Nah flat tersebut disewakan. Karena ia bukan hotel, jadinya ngga ada lobi, ngga ada resepsionis, dan ngga ada plang / tanda gantung yang memerkan nama penginapan tersebut. Google Map udah meyakinkan kami bahwa “you have reached your destination”, tapi yang mana bangunannya ya? Sepanjang jalan kami cuma menemukan resto berjejer. Ada satu kakek-kakek pramuniaga resto yang ramah banget nawarin kami dine-in di kedainya. Kami lalu-lalang melewati si kakek tersebut sampe 3 kali saking ngga bisa nemu bangunan AirBnb nya. Akhirnya nyerah “Ciao Sinore, boleh tolong bantuin cari penginapan bernama Colosseo 28 ngga, per favore?”

Kakeknya cengangas cengenges (ngeledek ni kayaknya) dan dengan baik hati menggiring kami ke bangunan hanya percis di samping kedai doi, yang kebetulan sedang ditutupi instalasi konstruksi renovasi cat tembok. Lalu dia menunjuk salah satu tanda nama (list penghuni) di bangunan tersebut, salah satunya si hotel kami. Pantesan aja susah nemuinnya. Alhamdulillah ya Allah, sampe juga.

IMG_5724.JPG

Masuk ke bangunan tersebut, ada sensasi yang betul-betul baru bagi saya dan suami. Vibe nya agak horor, plus kaya di film-film karena liftnya tradisional, pintunya manual, plus pake pager besi geseran. Pengalaman 5 menit yang bikin grori, karena selama menghadapi “kesan pertama” tersebut, kami jadi takut membayangkan isi penginapan kaya apaaaa yah. Eh ternyata we’re too soon to judge, karena pas masuk flat, isi apartmentnya modern (buktinya di kamar mandi lampunya ada neon warna warni bisa dugem). Alhamdulillah ya, ngga ngeri. Plus, kami dapat rejeki bertubi lagi bisa nginep di situ tanpa ada tamu penginapan yang lain, jadi bisa menikmati seisi flat luas seperti rumah sendiri, ngga cuma terbatas di kamar tidur.

IMG_5722.JPG

IMG_5721.JPG

IMG_5716.JPG

IMG_5712.JPG

IMG_5715.JPG

Seperti biasa dalam managemen jalan-jalan bawa bayi kami, hari pertama transisi kota dimanfaatkan sebagai waktu untuk istirahat. Walaupun sampai masih siang hari, tapi kami ga langsung jalan-jalan, kecuali untuk menikmati objek yang udah deket banget sama hotel, yaitu si Colosseum. Ini penampakannya dari depan AirBnB kami. Sementara itu, si Bapak langsung googling spot-spot kedai shawarma, hahahah. Recharging ourselves for redemption round!

IMG_5725

IMG_5727.JPG

#nofilter on all of our photos.

Suka sekali cuaca indah, langit biru, udara sejuk. Blessed!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s