Eh, apa itu Weaning With Love (WWL)? Eng ing eeeengg..

***

IMG-20170517-WA0011
Photo taken by @justinlarissa

 

Sebagai mahmud abas, ciye, ,mamah-muda-anak-baru-satu, every new milestone dalam tahap perkembangan anak itu menjadi pengalaman pertama buat Mama dan Bapak. There’s always a first to everything, kata orang. There’s absolutely a whole bunch of firsts growing together with our child growing up. Makanan pertama, kata pertama, langkah pertama, kondangan pertama, hehehe. Termasuk juga lepas-nenen pertama.

Udah semenjak 2 bulan lalu ketika Mika memasuki usia 20 bulan, saya kepikiran ‘gimanaaa ya nanti menyapihnya?” Kepikiran doang, tapi ngga nyari jawabannya. Hahaha.

Soalnya selain karena easy-going beranggapan ah, masih 4 bulan lagi sampai genap ASI 2 tahun, (ngaku duluan) saya termasuk Ibu yang pemalas untuk research metode apa yang lagi hits, ataupun baca parenting book.

Membesarkan Mika berdua suami sejauh ini dengan cara trial and error, asal anak happy dan berperilaku baik. Alhamdulillah cara begitu pun bukan masalah. Taktik belajar kami biasanya adalah melalui dengar-dengar atau tanya jawab kisah teman dan sahabat yang udah berpengalaman. Trus mencoba menerapkan cara yang paling cocok (paling mudah kalo bisa, haha).

Seneng banget nih pas tiba-tiba baca postingan kawan @rinomartha di Instagram tentang proses menyapih putranya bernama James dengan Weaning With Love. Bermodal banyak doa, banyak kasih sayang, dan banyak komunikasi, jadi berbuah keberhasilan tanpa banyak drama. Ih pengen banget Mika bisa seperti mas James lucu.

Latar belakang dan karakteristik nyusu anak Ino (@rinomartha) ini kebetulan mirip banget dengan Mika, jadi saya bisa relate sama sharing nya Ino. Mika termasuk anak yang kuat nenen ASI, apalagi langsung dari pabriknya. Kalau pake botol, apalagi pas tidur malem, ngga pernah mau, sampe cry-me-a-river menangkis dan melempar si wadah susu. Dari usia 1 tahun udah diperkenalkan dengan susu UHT, juga ngga mau-mau banget, banyak juga brand susu yang ngga cocok mengakibatkan Mika suka kecepirit. Tapi sekarang kami berhasil menemukan 1 merk yang cocok. Siiip, akhirnya ada susu UHT yang bisa berguna buat peralihan sumber gizi, hehehe.

Di sharingnya Ino tersebut, WWL dijelaskan sebagai penyapihan penuh cinta, perlahan lembut dan bertahap, tanpa paksaan dan tipu oles-oles yang membuat anak jera & patah hati. Plus, anaknya bisa sampai menyapih diri sendiri dan berhenti minta nenen. Langkah awal dimulai dengan sounding.

Pernah sih sekali dua kali ngobrol santai dengan Mika (ngobrol satu arah tentunya, entah anaknya paham apa ngga) di usia Mika 18-19 bulan.

Mama hujanin kalimat seputar: Mika udah besar yah. Udah bukan baby lagi. Sebentar lagi mau ulang tahun, usianya jadi 2 deh. Kalau sudah besar ngga nenen lagi. Yang nenen itu namanya baby. Mika bukan baby lagi.

Tapi saat itu ngga ada follow-up nyata, saya tetep nenenin Mika karena masih lama juga ulang tahun yang ke-2 nya.

31 Mei 2017

Saya bereksperimen untuk mulai sounding kembali. Let’s try this out, Pak. Saya berujar ke suami. Tepat anaknya usia 22 bulan.

Sepulang kantor sore-sore, Mika biasanya udah minta Nenen. Dan bener aja, ketika doi nganggur, dan lihat Mamahnya nganggur, langsung nagih “nenen pis” (nenen, please). Saya alihkan dengan sounding bahwa “Mika udah besar yah, udah bukan baby lagi. Kalau udah besar ngga nenen, tapi minum susu dari gelas. Atau minum air putih” sembari mengajak beraktivitas mewarnai, main mobil-mobilan, baca buku. Berhasil. Yes!

Satu Dua kali lagi doi minta “nenen pis”. Lalu saya praktekkan jurus yang sama. Berhasil lagi. Yes!

Bagi saya, tantangan besar merupakan nenen pukul 10 Waktu-Indonesia-Bagian-Menghantar-Mika-Tidur. Hukumnya itu wajib tak terelakkan bagi Mika untuk ngenyot susu langsung dari Mamanya.

Malem itu, saya awali dengan Bismillah, berdiskusi dan minta pengertian Mika kalau nenen malam ini hanya boleh sekali kanan dan sekali kiri. Pokoknya satu kali aja.

Kalau kata Mika, GONG (save the best for last) alias terakhir, alias 1 kali lagi aja. Anaknya angguk-angguk.

Ketika proses menyusui dan Mika nemplok di tete, kami berdua tatap-tatapan. Ciye romantic banget ya. Saya pun bercerita kembali bahwa Mika itu udah besar, bukan baby lagi. Yang suka nenen itu judulnya baby. Kalau udah besar, bobo malam ngga harus pake nenen. Enakan kalo mau bobo sambil pelukan aja. “nanti kita pelukan aja yah bobonya? Yah?” Ssaya tagih Mika untuk menjawab “Ya”.

Mika pun nurut (tapi wajahnya melas) membalas Ya. Kemudian nenennya selesai. Ia langsung meluk saya seakan-akan takut kehilangan *terenyuh sekali*. Jadi saya pastikan kalau eye contact tetap terjaga, dan banyak-banyak puk-puk membelai dan ngelus2 Mika.

Plus, mengajaknya ngobrol hal-hal yang menyenangkan seperti misalnya “ada yang sebentar lagi ulang tahun yaaa” nanti pas ulang tahun tiup lilin. Makan kue. Main balon. Alhamdulillah di luar dugaan, ini berhasil mengontrol Mika untuk TIDAK nagih nenen lagi. Anak baiiiiik banget nurut sama Mama.

Enak yah peluk-pelukan, Mik. Lalu saya hujani mika dengan cium dan sun. Sampai akhirnya Mika minta minta “ji….ji” alias request Mamanya mengaji. Soalnya tiap malem, kebiasaan ketika Mika nenen, daripada nyanyi lullaby atau nursing songs, saya mengajak Mika ngaji surat-surat pendek alQuran dari Al Fatehah, Ayat Kursi, semua-semua yang pendek sampai Mika terlelap.

Liyer-liyer mblengerrrr di puk-puk dingajiin sama Mama, lalu ngga lama 15 menit kemudian, tadaaaaaaa! Mika tidur!!!! Yeaaaayyy, ngga pake nangis sama sekali.

Rasanya lega dan seneng beneran. Jujur, malah curiga, masa sih ngga ada drama? Jangan-jangan beginner’s luck doang, dan ketika besok nyoba lagi malah baru mulai dinamika ala telenovela nya. Hehe

Gapapa. Ini baru tahap awal, semoga besok begini lagi. Dan, harus bersiap-siap untuk menyapih babak berikutnya, yakni episode menyapih pas anak bangun bangun di tengah malam.

***

P.S. Ketika berhasil anak bobo tanpa nenen dengan melas, malah si Bapak Suami yang sedih, ngga tega sama anaknya yang mellow. Ceup Ceup my boys, ko malah yang mewek kalian. Harusnya yang emosional aku bukan.

Cepet banget gedenya yah anak kita Paaaaakkk, bentar lagi udah mau usia 2 tahun. InshaAllah selalu dalam lindungan Allah. Amin.

5 thoughts on “Membaca Weaning With Love dari Instagram Kawan – Cuss Praktek!

  1. Aaaah 😘😘😘😘 Mika anak baik anak pinter.. udah besar ya syg udah mau lebih mandiri.. semangat ya Mika dan Mama Tey.. semoga dilancarkan seterusnya… Amiiin

    Like

  2. Aku kalo ingat moment ini suka kangen.. Dulu anakku jg nempel abis n ga mau minum susu jenis lain maupun UHT. Solusinya cm air putih. Luar biasa prosesnya.. Hihi.. Untungnya sang bapak jg ngedukung n ngebantu.. Kd WWL berjalan lancar.. 🙂 nice sharing bun..

    Like

    1. Iya luar biasa yah, bener2 ibu itu pejuang, ketika menyediakan ASI berjuang, ketika mau berhenti pun berjuang. Terimakasih udah mampir membaca, maaf sempat vakum dari blog dan baru liat komen ini. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s