Buongiourno!

Ini pemandangan pertama kami bangun di kota yang baru. Ada yang ikutan terbit di hati kami berbarengan dengan matahari dan embun pagi. Gratitude. Hidung yang lubangnya udah gede makin mengembang lebar, jadinya berasa banyak banget oksigen yang masuk ke paru-paru. Huhaaahhh, seger, Subhanallah.

IMG-20170311-WA0009.jpg

Milan oh Milan. Durasi stay kami di kota ini 3 hari 3 malem. Ngga seperti perjalanan seputar Amalfi Coast, saya mau zip cerita 3 hari dalam satu postingan aja. Banyak-banyakin foto kegembiraan sekeluarga. Mengapa demikian? Saya harus buat pengakuan. Sesungguhnya… ngga ada chemistry yang istimewa di antara si Ibukota Fesyen dengan saya dan suami. Hahahaha. Hanya Mika yang mengerti betul gimana caranya having fun to the fullest, full blast in Milano!

Ibaratnya begini. Ada laki-laki super bening kinclong ganteng baru mandi bersih segar dan harum pake sharp-looking tuxedo menyambut saya dengan ajakan ke ball dance dilanjut fancy dinner date dan belanja branded wear. Sempurna seperti scenario di iklan-iklan parfum ternama. Tapi saya milihnya laki-laki ndeso sawo mateng (apa sawo busuk) mandi bersih tapi sebersih-bersihnya tetep aja susah buat nampak seger, pake baju koko item wangi bikin pengen ndus-ndus. Nah, laki-laki yang pertama itu kota Milan. Sedangkan laki-laki kedua adalah suami saya sendiri, hahahhah.

Kesimpulannya, this city is too perfect that it kinda bores me. Bersih, rapi, teratur, aman, tertib, classy, dandy, sassy, you name it. It’s a sophisticated refined high-end modern fashion capital metropolis. But too bad, it’s not my cup of tea. Walaupun kami tetep super seneng bisa singgah di sini, tapi I regret to announce that you, Milan, are the lowlight of our holiday. Hihihihi.

Ngga apa apa. Di setiap perjalanan, proses, penjajakan, liburan maupun pengalaman, pasti ada highlight dan lowlight-nya.

IMG-20170416-WA0012.jpg

IMG-20170416-WA0018.jpg

***

Suhu udara dari pagi ke malam berkisar 7 – 12 drajat celcius

Masih terbawa euphoria keseruan naik Hop on – Hop off Bus, si Bapak memilih untuk keliling kota Milan dengan mode transportasi yang serupa seperti di Naples. Duduk di open-top upper deck di atas bus, sambil pake earphone mendengarkan rekaman suara tour guide yang menjelaskan tiap jejak dan spot menarik di seluk beluk kota ini. Kali ini Mika dan Mama di ruang bawah bus yang tertutup. Soalnya, anginnya dingiiiiiin banget menampar wajah, sampai-sampai pas awalnya Mika diajak ikutan duduk di level atas si bus tingkat, doi kepanikan ngga bisa mendefinisikan apa yang dia rasa nusuk-nusuk di mukanya sampai teriak-teriak. Walhasil pindah nenen di lower deck yang anget.

IMG-20170416-WA0014.jpg

Selama di Milan Bapak Freddy mulai lesu kondisi badannya. Ini karena ketularan Mika yang meler-meler. Kalau kata Bapak sih, sesama golongan darah O, bakal gampang ketularan. Nah, ni para lelaki kan pada bergolongan O, jadinya suami ketularan anak. Tapi yang songong, si Mika alhamdulillah cuma pura-pura sakit, hahhaa. Biarpun begitu, ni anak ko aga eksesif ingus dan ilernya sampe meper ke jaket. Nih fotonya nih sampe-sampe ada pulau encesss di jaketnya.

IMG-20170416-WA0006.jpg

Kalau menurut hipotesa saya, Mika sempet ngga fit tapi langsung sembuh lagi mungkin karena kegirangan ketemu sama burung-burung merpati di lapangan Duomo di Milano (Milan Cathedral).  Histeris luar biasa anaknya terkagum-kagum excited bisa main sama pigeon, gemesin minta ampun. Milan Cathedral ini adalah gereja terbesar di Itali selain St Peter’s Basilica di Vatikan, tapi by the way, Vatikan itu negara di dalam negara kan ya? Saya ingetnya gitu dari pelajaran waktu SD.

IMG-20170416-WA0009.jpg

Spot ini adalah destinasi wajib banget kalo bertandang ke kota Milan. Ketika sampai di “alun-alun” kota ini, yes kami terkesima dalam hati, keren arsitekturnya. Tapi saya dan suami sempet “flat” aja reaksinya mencoba untuk lebih memancing diri supaya dapetin sensasi “wow” tanpa ngobrol satu sama lain, sampai akhirnya si Bapak melempar komen percis apa yang lagi saya pikirkan.

“Ngga seberapa yah mewahnya gereja ciptaan orang ini karena kita baru aja menyaksikan Amalfi Coast yang jauh lebih megah, dan itu alam ciptaan Allah” walaupun jalan raya yang esktrimnya karya manusia sih. Nah, bener kata Bapak, pantesan aja kita agak garing.

IMG-20170416-WA0004.jpg

Yang bikin bahagia hati adem adalah si anak mas. It was definitely one of our happiest moment to see our son having the time of his life. Demi Mika, kami berjam-jam nongkrong ngasih makan, ngejar-ngejar dan “ngerjain” burung. Jahil ni anak. Masa coba, si Mika ambil biskuit snacknya sendiri untuk dipamer-pamerin ke pigeon, maksudnya mau menggoda mereka supaya terbang dan mendekat. Pas mereka udah mendarat di sekitar kaki Mika dengan mupeng, bukannya dikasi biscuit crumble-nya, eh tiba-tiba “Haam” malah dimakan sendiri sama Mika pake raut wajah yang iseng penuh senyum kemenangan. Hahhahaha, kasian ya warga unggas di Milan ini jadi korban bully.

Birds.jpg

IMG-20170416-WA0005.jpg

IMG-20170416-WA0007.jpg

P_20161127_121625.jpg

Selagi di sekitar Duomo Milan, kami melipir ke bangunan yang letaknya hanya di sebelah gereja, yakni pusat perbelanjaan mewah bernama Galleria Vittorio Emanuele II. Ini mall dengan atap dome kaca yang cantik kece.

P_20161127_112753.jpg

Oiya, ini ceritanya udah hampir memasuki bulan Desember. Biasanya di negara-negara yang merayakan natal, sebulan sebelum Christmas udah mulai banyak dekorasi natal dan christmas carols dimainkan di toko-toko, supermarket maupun public space. Contohnya waktu tahun 2014 saya dan suami berjalan-jalan ke Brugge di negara Belgium di tanggalan yang lebih awal dibanding sekarang, suasana udah meriah aja dengan banyaknya Christmas market, public ice skating rink, pohon-pohon penuh lampu terpasang di setiap sudut kota. Walaupun bukan penganut perayaan ini, tapi saya suka sekali kerlap kerlip christmas vibes. Pas masih SD pernah tinggal di US dan Canada pun merasakan sendiri neighborhood yang dipenuhi pemandangan yang percis di film Home Alone, my all-time favorite christmas movie, siapa coba yang pernah ketinggalan film yang ditayang tiap tahunnya dulu di RCTI.

Tapi sayangnya ternyata di Itali, atleast di 4 kota yang sudah kami lewati, dan nantinya ketika di Vatikan dan Roma pun, pohon natalnya masih dibangun, dan suasana menyambut Desember pun biasa aja, ngga begitu mewah. Krik krik. Haha baiklah. Lain kali ke Jerman aja yang bisa white christmas bersalju dan di kota-kotanya berjamuran Christmas Markets layaknya lapak jualan yang ruame bianget menyambut buka puasa di sekitar Lembah UGM pas Ramadhan. (amin ke Jerman lagi bersama suami dan anak).

P_20161127_112814.jpg

Day #1 di Milan kira-kira begitu aja, selain kami ngga naksir-naksir banget sama kota ini, eksplorasi dilaksanakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (kecuali play date Mika dengan burung-burung yang sama sekali tidak singkat) biar bisa managemen energi. Kami balik lagi ke hotel agar Bapak Freddy istirahat. Ada hikmah nya juga checking-in to Milan yang jadi lowlight of our journey, rupanya dikasi Allah kesempatan untuk restore our stamina. Maklum, udah ngga muda. Hahahahaha *pijit-pijit pinggang dan kaki*

***

Sore hari, Mika bobo sore di hotel, dan sebelum Bapak Freddy menyusul pingsan karena pengaruh obat, saya dipaksa oleh suami untuk keluar menikmati “me time”. Seneng banget Bapak ngasih ide untuk nongkrong di coffee bar yang cuma di samping hotel, plus boleh juga jalan-jalan satu-dua atau banyak blocks around town. Jadinya saya manut suami lah. Hahaha. I’m so lucky to have a very thoughtful and kind hearted husband. That evening, I ventured into a deep intimate cappuccino-sipping moment on my own with no phone, no books, no map, no stress being fully mindful peaceful grateful. Just counting my blessings. Alhamdulillah atas semua rejeki ini ya Allah.

Speaking of cappuccino, as the name show-off itself about it’s origin, ngga ada satu pun cappuccino yang saya minum di negara ini yang ngga enak. Sampe-sampe Bapak yang ngga doyan kopi pun sempet impressed dan bilang “ih enak”. Menikmati kopi berbusa susu ini tradisi yang sakral bagi orang Itali, cappucinno itu sarapan, the most important meal of the day. Ngga pake makan pun, kalo udah minum capucino itu udah considered as breakfast. Menarik banget melihat cara orang-orang itali meng-eman-eman-i susu/busa di kopi mereka sampai ke tetes yang terakhir, seakan-akan berdosa kalau ada segelembung busa yang ngga dikecap atau dijilat sampai habis. Take me back to Italy for a cup of coffee, please. Suka sekali.

***

Oke. Setelah dipikir-pikir, lanjut lebih dari satu postingan deh cerita soal Milan, soalnya masih lumayan banyak, sementara sekian dulu ya, hahahaha.

IMG-20170416-WA0010.jpg

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s