Apah?? Udah waktunya ciao dari Napoli? Ujar Mika pagi-pagi dalam bahasa peri.

IMG-20170311-WA0004.jpg

Yes Nak, blow a goodbye kiss to Naples, the city of chaos menurut saya, karena kendaraan, lalu lintas, kedai buah-buahan dan jemuran baju di pinggir jalan acak-adut semuanya, berasa di film mafia atau telenovela gangster. Mudah-mudahan Mika ngga terinspirasi supaya jadi mobster ya, inshaAllah jadi anak Rohis aja. haha.

Don’t worry nak, pengalaman stay di kota ini sangat berkesan di hati, pasti Mika setuju. We’ve just uncovered ourselves the beauty of Napoli. Orang bilang, one should embrace the chaos. Indeed, meskipun ruwet banget nih kota, but it miracally gave a sense of ease in our vacation, semacam menemukan Zen, atau inner peace tiap bangun pagi. Mungkin sebabnya adalah cuaca yang dingin, bikin hati tetep adem. Bayangin kalo iklimnya panas, ngeliat dinamika kota yang amburadul, bawaannya gondok kali ya jauh-jauh liburan ke eropa. Hahaha. Selain itu juga memberi kita insight bahwa ngga hanya ibukota kita di Indonesia  yang semrawut.

Tarik nafassss, buang nafassss, alhamdulillahhhh, it was the best decision to have begun our vacation from this place, the rest would be even more wonderful. Lega rasanya mau hijrah ke Milan sekarang, walaupun si Bapak ternyata akan merindukan kota ini. Kemungkinan besar karena doi harus say bye-bye juga kepada Shawarma enak-enak yang ada di tiap sudut kota. Padahal makanan tersebut considered unclassy cheap low-nutritiois food di sini, namun biarpun demikian adanya, ngga bisa dipungkiri bahwa kebab, nasi biryani dan chicken or lamb shawarma lah yang paling halal dan paling sehat buat dompet kami, hahahaha. Saya yakin nanti di Milan dan Rome juga mampirnya ke kedai-kedai beginian.

Pagi pukul 08.00 kami sudah melaju di atas Frecciarossa Train dari Stazione Napoli Centrale menuju Milano Centrale.

Perjalanan kereta kali ini paling jauh, karena kita beranjak dari selatan menuju utara. Ongkosnya mahal, tapi terbayar dengan kecepatan tinggi. Kalau kata Lucho mah jaman dulu banget sebelum ada fast train, waktu yang ditempuh antara Napoli dan Milano adalah separoh hari bisa 12 jam. Nah, dengan fasilitas transportasi Trenitalia saat ini, kami membayar tiket seharga 72 Euro per orang. Durasi duduk di lokomotif adalah 4 jam 50 menit. Cusss!!!

Snooze-meter Mika pagi itu menunjukkan skala yang rendah, alias anaknya seger buger mata bunder. Walhasil ngga mau diem selagi dipangku. Gapapa aktif dan petakilan pegang ini itu, yang penting tetep baik banget, ngga rewel, ngga berisik, dan ngga ganggu penumpang yang lain. Doi sukanya emang gangguin Bapak dan Mamanya doang, tapi di tiap sarana mobilitas umum selama liburan, Mika kebanyakan nempel mulu sama Mama berhubung manja sama nenen. Aseli, di tengah winter begini pake baju berlapis-lapis, kudu handal ngangkat pakaian berlapis tiap kali Mika nagih ASI.

IMG-20170311-WA0008.jpg

Ngomong-ngomong soal winter, ada yang agak aneh dan mengherankan dengan kami bertiga sekeluarga. Semenjak kami mendaratkan kaki di Itali, suhu udara berkisar antara 9-14 derajat Celcius menurut berita dan termometer digital di stasiun. Kalau pagi emang dingin sembribit kena angin merinding gitu, ada juga produksi asap dari tubuh yang keluar dari mulut seperti pas kita mendaki gunung (keudikan yang maintream banget bagi orang-orang yang berasal dari negara tropis seperti kami hah hoh hah hoh di udara). Yang menjadi keanehan itu, sejauh ini mulai dari siang sampe sore kami merasa cukup adem, aja. Ngga merasa dingin yang berlebih sampai-sampai harus membalut tubuh secara rapat tertutup jaket tebal. Si Bapak pun belum mulai pakai thermal, cukup pakai kaos lusuh dilapis kemeja dan ditambah jaket kulit ringan. Kostum yang begitu aja udah bikin Bapak keringetan. Padahal orang-orang bule di sini pakai atribut musim dingin udah sampai lebay, jaket tebel, syal melingkar tinggi ngga hanya nutupin leher, tapi sampai ke dagu dan kadang nutupin mulut. Saya curiga ini mungkin berhubungan sama proses aklimatisasi yang berbeda bagi orang yang udah biasa tinggal di four-season country, dengan kami yang cuma mengenal panas dan hujan, atau musim galau alias the in between. Tapi nanti aja research nya deh, berat amat mikirin yang gitu pas lagi liburan.

Karena kami menuju koordinat yang lebih tinggi letaknya di atlas bumi, jelas (atas izin Allah) bakal lebih dingin lagi kedepannya hari-hari liburan Mika. Yeayyyy.

Satu lagi yang menarik yang saya pelajari mengenai orang Itali, adalah mereka suka sekali ngobrol. Entah ngobrolin apa karena we’re basically lost in translation, tapi seru banget denger logat bicara mereka. Di setiap kata, selalu ada suku-kata yang jadi penekanan.

Misalkan kalimat “Fetucini carbonara is my favorite dish

Bunyi ketika mereka menyuarakan kalimat tersebut seperti ini “Fetuciiiini Carbonaaara is my favoriiiito dish”. Intinya harus ada di tiap kata, penggalan kata yang 2 kali ketukan-musik lebih panjang.

Selain itu, ngga sedikit orang Itali yang bisa tahan bercengkerama di telepon sampai lamaaa banget. Di dalam kereta ketika dari Auropuerto Roma ke Napoli, dan sekarang pas dari Napoli menuju Milan, lebih dari 2 penumpang sibuk berkomunikasi lewat telpon genggam, kebanyakan warga yang usianya udah menengah ke atas. But believe me, selama 4 jam itu ngobrol terus lewat handphone. Putus saluran hanya 1 atau 2 kali yang hanya berkisar 5 menit. Banyak yang galau kali ya di sini, butuh curhat. hihihi

Mika sempet bobo di kereta, alhamdulillah, karena emang si anak baik masih punya siklus jam bobo pagi sekitar jam 10-an sampai jam 12. Pas banget pas bangun, si lokomotif akhirnya berlabuh di stasiun Milano Centrale. Horeeee, selamat dan sehat.

IMG-20170311-WA0005

Suasana langsung berubah ekstrim semendaratnya di Milan si kota fashion. Langsung berasa fashionable aja gitu. Ngga deng, berasa gembel malah, hahaha, dipikir-pikir rupanya kami lebih klop profile nya sama kota Naples yang kumuh.

Kesan pertama ketika turun dari kereta adalah waaaawwww, megahhh. We love the place. Stasiunnya keren banget, luas gede bersih teratur, ada banyak lukisan yang membuat nya berkesan seperti museum. Beneran, kaya masuk ke dalam national historical museum yang mewah. Sembari mencari jalan keluar ketika turun dari eskalator, leher dan kepala sibuk olahraga muter-muter supaya bisa sebanyak mungkin menyerap input sensori yang cantik-cantik. Sekalian stretching karena kelamaan duduk tegap. Mengobservasi stasiun aja bisa girang banget, eh pas keluar lebih happy lagi. Kami disambut oleh langit biru cerah cuaca adem. And yes, just as we expected, di sini lebih dingin.

IMG-20170311-WA0010.jpg

IMG-20170311-WA0003.jpg

IMG-20170311-WA0007.jpg

IMG-20170311-WA0006.jpg

IMG-20170311-WA0000.jpg

IMG-20170311-WA0002.jpg

As usual, Bapak udah nge-Google-earth versi street view arah hotel dari stasiun, jadi seolah-olah bapak udah pernah ke Milan, doi jalan santai memimpin rombongan ingusan (beneran ingusan karena dingin) menuju hotel yang hanya berjarak 10 menit. Sesuai masterplan kita juga soal travelling bawa anak, hari pertama touch down lokasi baru akan jadi hari istirahat. Apalagi si Bapak udah menunjukkan tanda-tanda sakit pilek ngga enak badan. Jadi walaupun masih siang, we checked-in di Mennini Hotel, and called it a day.

Selamat istirahat. Buon Riposo!

IMG-20170311-WA0011.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s