Eh, apa yang terjadi setelah kami memijak dan memuji kota Amalfi (bukan memuji dengan sirik loh ini, segala puji hanyalah bagi Allah, hehehe).

Ada tips-tips perjalanan ke Amalfi Coast dari saya di akhir blogpost ini, tapi sebelumnya baca cerpen lagi dulu yah.

IMG-20170312-WA0001.jpg

IMG-20170312-WA0002.jpg

IMG-20170312-WA0000.jpg

Pertama, layaknya meneladani Rasulullah ketika memilih jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari Shalat Eid, Lucho supir kami yang gagah dan ganteng juga memilih rute yang berbeda ketika pulang dari kota Amalfi kembali menuju Napoli. Ia ingin sekali memamerkan pesona bukit-bukit yang memahat keindahan pesisir Itali ini. Jadi lah kendaraan kami dibawa mendaki Monte Lattari (Gunung Lattari), melalui kota Ravello, bagian dari Salerno province, Campania.

Ketika melewati kota ini dengan lambaian tangan dari dalam mobil doang, Lucho berdongeng bahwa Ravello adalah kota yang charming, merupakan salah satu “Pearls of Amalfi”. Tiap tahunnya selalu ada Ravello Festival berisi agenda teater, musik, pentas orchestra dan penyanyi opera, berbagai panggung dibangun dengan simple tapi alam membantu membuatnya menjadi megah, supaya mementaskan ekspresi seni dengan mewah di outdoor auditorium menghadap tebing dan laut, di bawah langit penuh bintang. Set elah, dramatis banget yah bayanginnya. Coba deh ikutan bayangin nonton penyanyi opera secara live. Suaranya aja udah menggegerkan pentas biasa, eh trus disuruh nyanyi di atas bukit di pinggir teluk. Dasyat! Udah gitu panggungnya ngga cuma satu, tapi banyak, padahal kontur alas kotanya kan bertangga-tangga penuh villa, salut buat yang bikin ide bizarre ini. Kaya Java Jazz festival kali ya, tapi with a touch of dramatic sceneries and picturesque setting.

Ini ngintip fotonya dari Google:

Ravello Festiva;.png

Festival Ravello itu termasuk ajang yang tertua dan terkenal di Itali sehingga Ravello memegang predikat City of Music. Ngomong-ngomong, saat Lucho bercerita, tinggal saya aja yang nyimak. Bapak suami dan Mika apa kabar? Dua-dua nya mabok darat saking rute kami menanjak gunung makin keriting.

Trus si Lucho nanya, do you like Opera music? Saya jawab, ngga ngikutin genre tersebut sih Mas, tapi saya tahu nama-nama terkenal seperti Luciano Pavarotti dan Andrea Bocelli. Aaah, apalagi lagu indah milik Andrea Bocelli berjudul “Time to Say Goodbye”. Waktu jaman tinggal di Dubai, saya denger tiap hari kalo pulang kantor melewati Dubai Fountain yang air kolamnya bernyanyi sambil menari. Hiks, tiba-tiba tembang itu kepencet “play” di kepala mengiringi kepergian kami dari Amalfi Coast. So long Amalfi, you’re such a fascinating- dropdead- gorgeous place on earth.

Ngomong-ngomong, sepertinya respon saya membuat Lucho bangga dan seneng, doi tersenyum, mendengar orang Indonesia jauh-jauh dari Asia tapi pernah denger suara-suara emas dari tanah air nya.

Gantian lah saya tanya balik, do you sing Opera? Ngga mba, saya penikmat aja karena suara saya fales, bales Lucho. Sama dong kaya suami saya, suaranya juga sumbang. “Tos dulu sana, Bapak”. Tapi kok Bapak diem aja kayanya ngga denger saya ngomong apa barusan. Pas nengok suami, doi merem-merem makin elek gegara makin menjadi mabok nya. Wek, mesakke kamu Pak. Hahaha.

Kedua, ko jalannya panjang banget yah ga nyampe-nyampe? Berasa lebih lama daripada pas berangkat. Langit mulai mendung, awan gelap, suasana genting ketika tiba-tiba Lucho ngabarin “Guys, we’re on the top of the mountain, the highest peak of Mount Lattari, but ofcourse the actual peak, you still need to walk and hike”.

Dalam hati, okeee, hore, udah yuk lanjut cepetan pulang plis. Aslinya saya sendiri juga mual-mual masuk angin, mulutnya asem nahan muntah karena mabok juga. Tapi ngga boleh banget semua prajurit tepar bersamaan. I am the last man standing. Kamu bisa, tey! Semangat!

Singkat cerita, I survived *iket kepala, pasang lagu Destiny’s Child dan suara Beyonce*. Lika liku turun dari puncak gunung berakhir dengan mencapai jalan tol lagi. Alhamdulillah. “Imma survivor, im not gonna give up, Imma survivor, keep on surviving!”

Lalu tiba-tiba…………. Huweeeekkkkkk, si Mika muntah di dalam mobil. Diarrrr… emang full of surprise kamu nak. Juara! Hahahaa. Yaudah deh, punten dulu sama Lucho, buka jendela yah biar ngga bau. Syukur kami sampe hotel di Napoli dengan selamat dan laper.

Ini semua merupakan pengalaman keluarga kecil kami yang tak terlupakan. We super loved it!

And so…. It’s a wrap Amalfi, you’ve been golden! Ciao ciao!

IMG-20170312-WA0003.jpg

Seperti janji saya, ini dia tips dan rute menuju Amalfi Coast dari Naples kalau memilih metode transport umum:

Kereta dari stasiun kereta utama kota Naples (Stazione Di Napoli Centrale). Dari berbagai jenis rangkaian kereta, ambil yang Circumvesuviana trains.

  • Pas di stasiun, kebanyakan counter tiket otomatis bukan merupakan jenis Circumvesuviana, jadi harus cari-cari tanda penunjuk jalan yang mengarahkan ke loket tiket khusus Circumvesuviana.
  • Harga tiket satu arah 4.10 Euro.
  • Jadwal operasi buka sepanjang tahun, no matter the season/weather.
  • Lama perjalanan kira-kira 1 jam dari Naples mencapai Sorrento, diselangi beberapa pemberhentian di stasiun kota-kota kecil yang dilewati jalur kereta.

Sesampainya di Sorrento:

  • Harus nunggu (kalau rejeki apalagi pas lowseason mah ga usah nunggu) bis bernama SITA Bus yang akan menghantar dan melewati kota-kota sepanjang pesisir Amalfi.
  • Frekuensi bis datang dan pergi lumayan tinggi. Interval kedatangan bus kira-kira tiap 20 menit, tapi ini teori. Prakteknya mah tergantung musim libur pas high-season atau bukan.
  • Jam operasi SITA bus dari pukul 7 pagi sampe 10 malem.
  • Harga tiket bus 8 Euro berlaku 24 jam. Artinya bisa naik turun bebas selama menelusuri kota-kota indah di sepanjang Amalfi Coast. Kalau mau intense sightseeing, tiket bus ini bakalan worth-it.

Mode transport bus SITA adalah satu-satunya rute kalau mau lewat jalan darat, entah lewat Salerno ataupun Sorrento, yang juga menjadi pilihan mobilitas paling murah. Tapiii, ada juga di bulan-bulan tertentu alternatif mengunjungi Amalfi Coast pake mode transportasi berupa perahu yacht, kaya selebritis, atau perahu feri. Tapi yang ini saya kurang mendalami, cari-cari sendiri monggo, hahaha.

***

Apa aja yang harus ditimbang-timbang sebelum memutuskan apakah mau pakai transport umum atau mau sewa mobil? Ini beberapa info yang bisa membantu pertimbangannya:

  • Ongkos parkir di titik-titik Amalfi Coast mihil, kalo pas rame turis, lebih mahal.
  • Mau stay di Naples buat jadi home-base sebelum ke Amalfi Coast? Trus sewa mobil sedari di Naples?

Keep in mind bahwa jalanan di Naples itu sempit, padat, rame, susah parkir, parkiran yang udah ada itu kaya orat-oret ngga berkiblat ke satu arah, super ngga teratur. Ngeliatnya aja pusing, apalagi mikirnya mau parkir dimana atau gimana.

  • Jangan lupa petik lah hikmah dan hidayah dari cerita perjalanan kami, bahwa bentuk rute ke Amalfi Coast itu kelak kelok, tajem sempit, trus orang lokal mereka nyeitr ngga pake rem. Kalau mau cari adventure, boleh juga take the risk and have fun merajut jejak. Justru perjalanan yang penuh kesusahan biasanya menjadikan pengalaman paling berkesan.
  • Last tip, bring a paper bag, in case pada mabok darat, hehehe.

Buon Viaggio!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s