Pukul 12.30

It’s a good bye to Positano. Walaupun ngga turun ke pantai dan menyelami kota vertikal tersebut, it was still a pleasure and fantastic food-to-the-soul moment yang saya serap dari atas bukit. Sementara untuk membayangkan bagaimana kotanya, cukup mengingat film Under the Tuscan Son (release tahun 2003). Di tengah menyaksikan film love-story tersebut, saya sampe ketiduran karena alur ceritanya standar, tapi kalau ada yang penasaran pengen menengok kecantikan kota Positano, ini adalah salah satu film yang menunjukkan sedikit keindahan nya melalui beberapa scene.

Dari pitstop cantik kota Positano from above, kami melanjutkan lika liku perjalanan di sisi tebing Amalfi Coast. Tips dari saya, kalau mau menikmati pesisir ini, pastikan ngga dalam waktu yang terburu-buru, it’s worth it to spend time hanya untuk mengagumi ciptaan Allah, it gives you showers of spiritual input and energy. Apalagi Amalfi Coast itu panjaaang sekali, jadi town-hopping dari satu kota di pinggir pantai ke kota lainnya harus dilakukan dengan “sopan”. Alias sebisa mungkin jangan SMP, sampe-makan-pulang…….seperti kami. Hahhaha *sambil menangis miris* Ini dia keterbatasan dan konsekuensi nya kalau ambil paket one-day-tour, jadi ga bisa eskplor dengan puas sesuai intuisi sendiri untuk mengarahkan kemana kaki harus melangkah, walaupun di sisi lain ada beruntungnya juga karena Lucho menyediakan ceritra dan fakta-fakta soal Amalfi Coast yang bejibun dan membuka wawasan.

Perjalanan dari kota Positano menuju Amalfi Town (yes, ada kota yang bernama Amalfi di tengah Amalfi Coast) mulai ekstrim level zig-zag nya. Belokan yang diambil di setiap sekian meter jalan yang sempit bentuknya lancip-lancip penuh tikungan tajam, jangan lupa di bahu jalan itu langsung tebing. Kalau ada yang mau lihat jalan di pesisir Amalfi, bisa coba main driving simulator atau racing game berjudul Grand Turismo 4, salah satu rute balapnya adalah di Costa di Amalfi. Dari dalam mini-van kami, saya membayangkan diri sedang menunggangi mini cooper dengan convertible roof car yang terbuka. Pakai selendang tertiup angin menghirup udara segar seperti di film classic romance. Tertawa lepas bersama suami yang duduk di samping membawa kendaraan melaju kencang, bikin deg-degan tapi exciting. Tapi kemudian ada yang tiba-tiba nimbrung nyeletuk “mah…nenen”…… Duarrrrr, kempes deh ban mini coopernya, buyar imajinasi. Seketika juga jadi mabok darat kembali di dalam mini van. Hahahaha.

Nih foto yang menunjukkan betapa tajam tikungan jalannya.

IMG-20170220-WA0023.jpg

Tapi beneran, walapun bayangan soal meniti jejak di rute Costa di Amalfi ini eksotis dan seru, setelah separuh perjalanan semua sensasi nya hilang ko. Karena lama-lama kami masuk angin dan capek “mengupas” jalanan sambil bertanya-tanya ‘are we amost there?’

Lucho pun menjawab seperti biasa. “Guys…have a look to your right… ada ini ada itu”

Ada apa aja sepanjang Amalfi coast, kira-kira berikut daftar fun facts dari mister Lucho:

Di jaman medieval times (kata andalan nya mister Lucho) jauh sebelum abad 15, Amalfi Coast merupakan dermaga yang sibuk, banyak perdaganangan dunia berpusat di pesisir mediterania ini. Pelayar-pelayar dari Napoli dan Amalfi Coast termasuk yang mempolopori penggunaan alat kompas sebagai alat navigasi di laut. Di masa keemasannya, daerah pesisir Amalfi merupakannya negara yang berdiri sendiri berbentuk Republik, sampai punya mata uangnya pribadi. Inget kan kota Sorrento yang memiliki keahlian dalam woodmanship? Nah kekayaan alam berupa produksi kayu berkualitas juga berkaitan dengan Amalfi Coast yang menjadi kota pertama di Eropa yang memproduksi kertas. Suatu hari (aduh ngga nyimak Lucho percisnya kapan), ada angin ribut dan guntur yang hebat, memporak-porandakan pelabuhan dan port di sepanjang pesisir sehingga Amalfi Coast tiba-tiba menjadi terisolasi. Hingga akhirnya di abad ke 19, ada raja Naples bernama Ferdinand (ngga nyimak lagi Ferdinand ke berapa) memerintahkan pembangunan jalan yang menghubungkan semua titik desa-desa di jalur pantai pesisir ini. Pendeknya, sejarah konstruksi jalan yang luar biasa keren ini demikian.

Banyak sekali pohon zaitun (olive trees) berhamparan di sisi jalan, mereka ditanam dan tumbuh mengikuti tiap tikungan sembari perlahan menuruni terasering tebing, terus gimana metiknya? Menurut Lucho, buah zaitun itu paling bagus kalau dipetik pakai tangan karena jari-jari kita memiliki sentuhan chemistry tersendiri yang bisa meningkatkan mutu buah olive. Tapi, gradien dan kemiringan tebingnya ekstrim sehingga ngga semua pohon zaitun bisa dicapai oleh jari-jari petani, makanya banyak ditemukan jaring-jaring (net) buat menampung jatuhnya si buah dari pohon berdaun silver.

Di antara kota Positano dan Amalfi, kami melewati kota Praiano dan Furore “the town that doesn’t exist”, relatif lebih sepi dan humble dibanding kota-kota lain di pesisir ini, in fact, tempat ini lebih merupakan desa nelayan. Dari atas jembatan yang menampakkan jurang yang curam (ini di sekitar Furore), ada beberapa perahu nelayan yang nganggur, agak horor. Karena kami melipir di bulan November yang bukan musim turis melancong, makin-makin desa ini terasa seperti kota hantu gara-gara sepi banget, ngga lihat ada satu pun pergerakan, entah itu pergerakan daun ketiup angin ataupun gerak gerik manusia. Pada bobo siang kali ya.

Yang menarik, dari pinggir jalan kami menjumpai sebuah artefak unik, menurut Lucho bernama Presepio, yang menampilkan bangungan-bangunan mungil seperti diorama. Saya kira ia merupakan karya seni dalam rangka menyambut natal nanti di bulan desember, biasanya kan orang-orang nasrani banyak membangun miniatur Jesus di dalam gubug sambil dikelilingi suasana desa, domba sana sini, kira-kira seperti itu. Rupanya Lucho bilang bahwa Presepio tersebut adalah exhibisi permanen terbuat dari bahan konkrit nyambung ke dalam gua kecil di sisi jalan, yang menggambarkan kota Praiano dalam skala super kecil, alias miniatur kota.

IMG-20170306-WA0002.jpg

Kesan pesan saya, kalau sempat mampir di Praiano, keunggulannya adalah keterpencilannya. Jadi, if you’re looking for serenity, perhaps make some time to stay in Praiano, apalagi di kota ini ada beberapa gereja yang menarik, plus cottage-cottage kecil untuk rekreasi di musim panas. Satu destinasi yang terkenal adalah Torre a Mare (Tower in the Sea), spot yang pas banget untuk menyaksikan keindahan sunset di Amalfi Coast. Pantai Marina de Praia juga adalah salah satu yang unik karena anti mainstream bentuknya, berada di lembah terpencil di antara tebing-tebing hasil erosi laut. Monggo di-google jika penasaran karena kami hanya foto-foto dari dalam mobil, banyak yang burem. Ciao Praiano dan Furore, kami permisi lewat aja yah.

Yang bikin saya pensaran tingkat tinggi di Amalfi Coast adalah bagaimana caranya orang di sekitar sini parkir mobil?? Terutama yang tinggal di desa nelayan, atau di pinggir jalan raya pesisir yang ngadep tebing, ngga sedikit rumah atau villa berjejer menghadap laut tapi tanpa car port. Padahal lebar jalan raya di sana sini sempit. Nah, persis seperti tebakan saya, Lucho menjawab arti kata parkir di sepanjang neighborhood Amalfi. Rupanya parkir itu bermakna membayar 6 Euro per jam saking langkanya space. Buseh, malah bener.

Di samping itu, harga properti di Amalfi Coast berbanding terbalik dengan jumlah anak tangga yang terhitung untuk mencapai pintu rumah. Contohnya nih, kalau cuma perlu mendaki 10 anak tangga untuk mencapai teras depan rumah, maka harga properti nya semakin mahal. Sedangkan kalau ada 200 anak tangga untuk mencapai rumah sembari olahraga, harga properti nya relatif lebih murah, banyak kortingan, karena sebagian pembayaran dikeluarkan melalui pengorbanan keringat.

Yah gitu deh kira-kira sesi kabar-kabari dari Mister Lucho. Tepat ketika kami udah ngga tahan lagi belak belok di jalanan dan di Bapak kebelet pipis, ternyata mini van nya berhenti di satu kedai makan di atas tebing memandangi lautan luas subhanallah mashaAllah. Mika lagi dimana ini naaaak? Cantik banget yah pemandangannya, Mik. Oiya ngomong-ngomong soal “culture shock” yang dialami Mika dalam berinteraksi dengan kaum insan berkuliat putih dan berbahasa asing, hari ini di Amalfi Coast ini anak masih keki dan grogi kalau dilihatin sama bule. Jadinya dikit-dikit mewek dan hanya berhenti kalau para bule udah ngga kepo nge-observasi Mika lagi. Susah ya nak jadi anak lucu gemesin, kaya selebritis kemana-mana jadi pusat perhatian. Nih foto anaknya abis nangis ketawa makan gula gawa. Hehhee.

IMG-20170306-WA0001.jpg

Ini hari ketiga kami di negara Itali, tapi baru kali ini akhirnya kami mencicipi Pizza dan Pasta karena sejauh ini kami masih menikmati banget kelezatan turkish kebabs dan nasi briyani khas Turki di mana-mana di pelosok kota. Maklum lidah timur.

Pukul 15.00

Selepas makan dan menghirup udara segar, kami segera kembali naik mini van untuk meneruskan perjalanan yang di luar dugaan dan berbuah kelegaan ternyata hanya berlanjut 10 menit, karena tiba-tiba Lucho bilang kalau kita sudah memasuki si kota Amalfi. Yeeehaaaa, seneng banget kegirangan, terutama karena akhirnya kami berjumpa dengan laut dari permukaan pantai, ngga sekedar dari puncak tebing.

IMG-20170306-WA0003.jpg

Assalammualaikum Amalfi! We are finally here!

Aaaahhhh, Mikaaaaa,,,,, ayo main, kita dimana nih naaak? Cantik banget Subhanallah.

Turun dari mini van kami langsung berlari ke dermaga, melepas bunyi-bunyian sendawa karena masih masuk angin sambil memecah kegirangan di hati bersama ombak biar mengaduh sampe gaduh, hahahah. Termasuk Mika yang larinya kenceng banget sampe deg-degan kami, takut doi jatuh ke pinggir laut. Mika berasa ikan paus di film Free Willy aja deh, lari bebas berteriak “I’m freeeeeee” idung doi meler karena kedinginan. Akhirnya bisa lari-lari juga!! (ujar Mika dalam hati).

img-20170220-wa0025

Sementara… Bapak Freddy dan saya ge henti-hentinya nyengir bahagia. Bikin pengen peluk-peluk cium-ciuman, apalagi dingin berangin brrrrr.

This, right now…. is a dream come true.

For a short second I was looking at the shore, the ocean wide open ahead of me, then I turned my eyes one-eighty in a panoramic slow motion kind of way to observe my surroundings and say my gratitude in silence because I know I am a lucky woman. And when I kept turning, my eyes not only landed at a magnificent view of the wave, the cliff, the hills and the exquisite sky. The pair landed on you, and you, two precious men in my life I call my world, looking back at me. What more can I ask for? I am the luckiest person in this world indeed. Mudah-mudahan orang-orang tersayangku selalu sehat dalam lindungan Alalh, amin. I can’t lie, this is absolutely one of the best time of my life!

IMG-20170306-WA0000.jpg

Not to ruin my deep blue head-first dive into the moment, I decide that I’m going to keep the beauty of Amalfi as my own secret, supaya yang baca jadi penasaran untuk mengunjunginya langsung, inshaAllah. Hehehe. Listen to the signs, Amalfi’s calling baby!

I’ll be nice and share the photos though, selamat mempraktekkan the law of attraction!

IMG-20170220-WA0024.jpg

IMG-20170221-WA0002.jpg

IMG-20170220-WA0030.jpg

img-20170220-wa0027

IMG-20170220-WA0031.jpg

IMG-20170220-WA0032.jpg

IMG-20170220-WA0020.jpg

IMG-20170220-WA0028.jpg

IMG-20170220-WA0033.jpg

IMG-20170220-WA0029.jpg

IMG-20170220-WA0026.jpg

IMG-20170221-WA0000.jpg

P.S Travel Tips dan How to get to Amalfi bersambung di next blog post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s