OK, pertama-tama, ini catatan perjalanan aga telat, off-cycle banget karena beberapa bulan terakhir mau berbagi highlight of our journey tapi my heart was not in the right place due to our sad loss. Takut keteteran semakin lama, saya mulai lagi ya jejak liburan di Itali. Here’s the flashback to 25 November, hari Jum’at.

***

Buongiorno Bapak dan Mikaaaa… wake up wake up, it’s the big day we’ve long been waiting for!

I’m beyond excited, semelamen susah tidur saking girang hati layaknya anak sekolahan yang akan berangkat studi wisata keluar kota di esok hari.

Nanti kalau Mika beranjak besar, pasti ngerasain geli-geli di perut yang sama di malam sebelum hari-H school trip ke kebun binatang untuk pertama kalinya. Kira-kira rasanya gitu nak, layaknya selama ini tahu dan gemes mengamati gajah atau jerapah atau panda di buku dan televisi. Lalu akhirnya akan melihat binatangnya perdana secara langsung, sambil bisa ngasih makan atau menyaksikan mereka mandi, pegang-pegang lehernya yang panjang, atau perutnya yang berbulu sambil menghirup udara yang sama yang dihirup oleh para binatang lucu. Bau kali ya, haha. Intinya, pas lihat langsung belum tentu kita akan suka sama hewan aslinya, tapi pengalaman yang didapat selama mengenal up close and personal bisa memberikan kepuasan hati dan pembelajaran yang banyak. Bisa jadi juga pas menyaksikan yang kita impikan itu indah sesuai (dan malah lebih dari) yang kita bayangkan, nah itu bonus bertubi dari Allah yang pantas bikin girang dan banyak bersyukur.

Alkisah pada Oktober 2011, ketika saya mengunjungi Itali untuk pertama kalinya, ada satu poster teater drama yang udah buluk tertempel di tembok salah satu jalan sempit di kota Roma. Lusuh, tulisannya pudar, tanggal mainnya pun udah basi. Ngga sengaja saya bengong dan mendaratkan pandangan di “undangan” tersebut. Saya ngga memperhatikan judul drama play yang ingin (atau telah, tepatnya) dipersembahkan si poster. Terutama ia dalam bahasa Italia, saya ngga paham, Bu Guru. Yang justru seakan-akan melambai-lambai dari posternya demi menangkap perhatian saya adalah gambar seorang wanita cantik, berdiri di sisi tebing memandangi pesisir laut mediterania (kok malah horor ya? hehehe). Di latar belakang nya terpampang neighborhood yang cantik dengan rumah warna warni, berbukit-bukit memandangi langit biru, lautan bebas. Exotis banget. Jadi terbayang dalam benak saya, ini daratan mungkin seperti Santorini di Yunani. Bedanya, kalau Santorini itu isinya serba putih dan biru, kayak pake seragam SMP. Sedangkan kalau pesisir yang ini me-ji-ku-hi-bi-ni-u seperti pelangi, with a bit of a rustic touch and a lot of warm citrus feel that you can even smell the beauty. Di kanan bawah kertas A4 tersebut, ada tagline “Costiera Amalfitana”

Dari situ lah saya baru mengetahui ada destinasi cantik bernama Amalfi Coast. Di balik kepala ada tembangnya Savage Garden bersenandung I knew I loved you before I met you. Poster layu di tembok kotor sukses mencuri dan terus menghantui hati saya. Sayangnya pada saat itu saya sudah punya fixed travelling itenerary bersama alm. mb Tika, kawan yang sedang sama-sama kerja di Dubai untuk beranjak dari Itali meneruskan Euro trip kami ke Spanyol, Perancis, dan Swiss.

Sejak moment tersebut, saya bermimpi dan berjanji pada diri sendiri untuk kembali lagi ke Itali dengan orang tersayang Freddy Andreas Permana (Alhamdulillah sekarang memiliki predikat Bapak Suami) karena saya mau pamer kota Roma yang full of wonders, sekaligus mengajak menginjakkan kaki di Amalfi Coast.

Thoughout the years, believe me or not, laut mediterania telah memanggil, mengirim pertanda, berseru menggebu ke alam bawah sadar saya, ia minta untuk dikunjungi. Pertanda yang berhasil ditransmisi antara lain misalkan kalau lagi ngga ada kerjaan sama Bapak Suami bertandang ke toko elektronik di KL, tiba-tiba di pojok toko bagian jual TV, tayangan yang ditampilkan di layar adalah cuplikan beberapa road less travelled di Eropa, termasuk gambar kota indah Positano (salah satu kota menawan yang menduduki Costiera Amalfitana) pas kami lewat percis di depan jejeran TV nya. Kebetulan macam apa coba kan? Padahal Amalfi Coast masih relatif low-key keberadaannya, sehingga probabilitasnya muncul di sekitar perhatian saya pun harusnya langka. Ngga banyak yang familiar dengan tempat ini, terutama di lingkaran sanak saudara dan teman-teman kami. Tiap saya cerita akan rencana kami ke Itali pada kerabat yang pernah maupun ngga pernah ke Eropa, hanya satu teman yang tahu, alias Anggia Cucum yang pernah ke sana awal tahun 2016, sisanya banyak yang belum pernah mendengar nama Amalfi. Teman-teman malahan nyampein request untuk singgah dan cerita perjalanan ke Cinque Terre, yang lebih populer.

Ada juga pertanda lain yang lebih penting. Setiap browsing harga tiket di luar tekad bulat, semata-mata gerakan iseng belaka, entah kenapa harga tiket ke Roma selalu mencengangkan dan menggoyahkan iman. Bikin gatel bertanya-tanya, ini kah namanya cinta.. oh ini kah cinta… cinta pada jumpa pertama (coba kalimat yang ini dibaca tanpa nyanyi, bisa tahan ga, hehe).

All the day-dreaming times will be over soon, because it’s time to say hello and make my dream come true. Terlebih lagi di hari istimewa ini, saya ngga hanya ditemani pasangan tercinta, tapi juga bonus ditemani anak tersayang. Bangun tidur udah pasti bentuknya senyum lebar. Saya awali hari dengan elus-elus pipi (bukan cubit) diri sendiri dulu sambil ngelap iler, mastiin kalau ini bukan mimpi. Udah gitu baru deh cubit suami, bangunin supaya ngga telat.

Cuaca di pagi hari 11 derajat Celcius. Langit mendung, gerimis.

Breakfast di atap hotel bareng bareng pohon kaktus dan burung-burung kami longkap, diganti dengan sarapan di kamar dengan nasi briyani dan shawarma sisa malam sebelumnya, ini demi siap menanti jemputan jam 08.10 di lobi. Ceritanya, saya dan suami dengan kompak telah menentukan untuk pakai jasa tur & travel untuk ke Amalfi Coast, dengan alasan sederhana yakni mau mengurangi proses mikir dan meningkatkan proses leha-leha menikmati setiap menit mencapai tujuan. Apalagi bawa bayi gede, mari dengan riang kita meminimalisir sifat ribed dan murni jadi turis.

Amalfi Coast kalau di peta letaknya itu di pesisir selatan Negara Itali, di sisi laut Mediterania yang menghubungkan benua Eropa dengan Benua Afrika dan Asia. Tempat ini menjadi salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO. Dari Naples (Napoli), terserah mau menyambut Amalfi Coast dari arah timur seperti terbitnya matahari, atau dari barat daya si pesisir pantai. Kalau dari Timur, berarti check point masuk Amalfi Coast dimulai dari kota Salerno. Paket day-tour kami membawa perjalanan sebaliknya, sehingga check point entering Amalfi Coast dimulai dari kota Sorrento geser dikit (kota Sorrento sebenarnya belum termasuk bagian dari pesisir Amalfi, kudu menggok sonoan lagi dari Sorrento di balik Teluk Naples adalah start dari Amalfi Coast) . Ini petanya nih dari Google map saya corat-coret.

Amalfi Map.png

Kalau bagi traveller, musafir maupun petualang, rute dan mode transportasi untuk ke Amalfi menggunakan Naples sebagai home-base ada di akhir tulisan ini (atau di blog post berikutnya kalau yang ini bersambung ya). Monggo disimak nanti.

Let’s start the journey. Tepat pukul 08.10 jemputan kami datang. Pemandu wisata mengabsen kami para pelancong yang telah mendaftar pada perjalanan one-day trip Amalfi Coast dari hotel yang sama. Lalu kami berangkat naik bis ke meeting point di pinggir laut. Oh iya, kami booking Viatour trips berdasarkan review dan testimoni lewat Tripadvisor yang bagus-bagus soal Viatour ini. Rupanya hari itu terdapat berbagai rangkaian rute tur yang berbeda untuk menikmati pesisir Amalfi. Di antara rombongan yang telah dijemput di berbagai hotel, ternyata hanya saya, suami dan Mika yang memilih rute Sorrento – Positano – Amalfi Town. Sedangkan banyak pasangan dan keluarga lain yang telah duduk manis di bis wisata memilih jalur Pompei (Herculaneum & Vesuvius) – Amalfi Town.

Karena cuman kami yang beda sendiri, akhirnya Viatour membagi rombongan dan mendedikasikan mobil mini van khusus buat kami trio, dengan supir yang sekaligus tour guide pribadi. Yeayyyy, exclusive private tour judulnya. Ini bagaikan ketiban rejeki di-upgrade flight seat dari kelas ekonomi ke kelas bisnis. Alhamdulillah ya Paaak, Mika bisa nenen bebas lepas di dalam mobil, ngga rame-rame sempit di dalam bis. Supir kami asli berasal dari Napoli, namanya Lucho. Ia bilang this is our lucky day. “Si Senor”, kami setuju.

IMG-20170220-WA0018.jpg

Dari meeting point Viatour di sisi laut berdekatan dengan Castel dell’Ovo (Ovo Castle), pukul 09.00 kami berangkat langsung diiringi dongeng dari mister Lucho. “Guys, please look to your right, there’s a castle which is a fortification from the medieval times”. Ngga berapa lama menelusuri kota, “there is a statue from the medieval times”. Kemudian berapa kilometer ke depan berkisah lagi soal bangunan lain dari medieval times. Singkat cerita, kota Napoli banyak sekali terisi dengan peninggalan kuno warisan dari jaman kekaisaran Roma antara abad ke 5 sampai abad 15. Semuanya menarik dan ngga lepas dari ikatan sejarah, salah satu yang bikin saya naksir sama negri ini sampai-sampai balik lagi bareng suami, hehe. Tapi saya skip yah dongengnya, bisa-bisa jadi novel nanti blog-post saya.

Nah, saking khusyuknya kami terhipnotis menyimak “siaran” mister Lucho dengan aksen itali yang kental (dan mungkin saking berjuangnya Bapak memahami ngomong apaaaa si mas Lucho iki, ra mudeng logatnya), kami lalai untuk ambil foto yang banyak. Hahahaha. Sayang banget, tapi bodo amat. Pengalamannya buat kami lebih tidak ternilai. Maaf ya nilai dokumentasi di bawah rata-rata sekali. We were in a high.

Lambat laun sembari meninggalkan kota Naples, kami melalui jalan tol sekitar 20-30 menit. Di penghujung tol, Lucho menunjukkan bahwa kami baru saja melewati Mount Vesuvius yang pernah ngamuk memusnahkan kota Pompeii, semua isinya dikenakan azab dari Allah gara-gara peradaban penuh zina dan kegilaan duniawi, nauzubillah min dzalik. Asli, kalau baca sejarahnya itu bikin merinding pengen melihat jejak peradaban sisa kiamat kecilnya secara langsung, tapi itu bukan tujuan kami ke sini, nanti kami nonton ceritanya lewat archive nya Discovery Channel aja ya. Sementara, mobil kami hanya permisi lewat Pompei dari jauh sambil ngga sabar beralih menyaksikan panorama di Teluk Naples dari ketinggian.  Ngga lama, kami exit dari tol disambut rute yang selama ini diantisipasi hanya lewat imajinasi, naik-naik menanjak bukit berkelak kelok.

Semenjak mini van kami mancung arahnya menanjak tebing, seketika itu juga pemandangannya berubah Subhanallahhh….. bikin tergagap-gagap. Saya dan suami tiba-tiba gagal komunikasi karena kami sama-sama terperanjat oleh keindahan landscape sejauh mata memandang. I have to be honest, it’s not at all exaggerating to say that this place is completely, and literally breathtaking. And we’re only at the beginning! Saking saya dan Bapak Freddy ingin berbagi rasa kagum satu sama lain tapi terlalu terkesima masing-masing, kami hanya berhasil bertukar komentar, lebih tepatnya bukan komen tapi bunyi-bunyian seputar “waaaah” dan “Mam liat…….” trus “Pak…pak ituuuu…” kemudian “waaaahh” “hoooohhh” “mashaAllah“ waaah” lagi, padahal udah wah wah berkali-kali. Ngga nyangka asupan sensori dari perjalan tersebut begitu wah sampai menghasilkan emosi yang tumpah ruah. Kami sibuk bersuka cita dan salah tingkah mencerna dan menikmati panorama sekitar. Alhamdulillah ya Allah.

Belum juga sampai Sorrento, atau Positano dan Amalfi Town, tapi hati udah berbunga-bunga, ngga bisa lagi nahan senyum, seneng banget menikmati momen ini. Kalau secara emotikon, ini mata udah bentuk love-love, hidung dan jantung kembang kempis bersamaan seperti keceriaan setelah Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) jaman SD.

Langit mendung ngga mengurangi kecantikan pesisir ini sama sekali, malah ia telah menambah drama keudikan saya dan Bapak. Hahahaha.

Lagi-lagi mohon maaf kalau fotonya modest, kami hanya berbekal kamera handphone. Dan entah kenapa pas nangkep pemandangan yang keren, Bapak Freddy bukannya pake iPhone saya, malah pake kamera hapenya yang cemen, huuuuhuhu.

IMG-20170220-WA0019.jpg

IMG-20170220-WA0022.jpg

***

Pukul 10.10.

Menandai masuknya kota Sorrento, our first pit stop, kami diajak Lucho untuk berhenti di pabrik transparan Limoncello, alias minuman keras otentik dari Sorrento. Menurut Lucho semua penduduk di Sorrento punya kebiasaan untuk mengkonsumi Limoncello setelah makan karena ia baik buat pencernaan dan proses kemesraaan unsur-unsur kimia di perut. What? Baiklah, selagi di situ, saya beli oleh-oleh botol kecil limoncello buat bos-bos expat di kantor yang menghalalkan minuman keras. Sekalian buktiin lewat meraka kira-kira beneran ngga tuh membantu metabolisme tubuh, haha.

IMG-20170220-WA0021.jpg

IMG-20170220-WA0016.jpg

Persis seperti bayangan saya, kota Sorrento itu exotis sekali ternyata. Jalanannya sempit dan berlika liku, ada sedikit bohemian vibe di antara gang-gang kecil dan penginapan dan villa yang eksentrik. Banyak taman-taman mungil, lalu lalang penduduk lokal berupa couples usia lanjut tapi terlihat masih sangat romantis bergandeng tangan mesra. Karena struktur tanahnya yang berpundak-pundak di sisi tebing, jadi banyak spot yang muncul seperti “teras” menyediakan pemandangan apiiiik tenan ke arah laut.

Cuman nih… satu yang bikin saya bersyukur bahwa kami telah datang di bulan November pas low-season dan sepi turis… Pas sepi gini aja jalanan yang hanya dua jalur ini sempit dan kendaraan berlalu lalang padat merayap. Ngga kebayang kalo pas lagi summer atau spring kota nya rame, itu gimana, males bayanginnya.

Dua hal yang menjadi keunggulan kota Sorrento (catet, ini berdasarkan laporan si Mas Lucho). Satu, adalah limoncello berkualitas tinggi, karena dibuat dari buah lemon dan orange mandarin yang tumbuh berlimpah di perbukitan sekitaran teluk Naples, dan cita rasanya berbeda dari lemon biasa karena tanah yang menanam dan menuai lemon di sini adalah tanah subur bekas dipupuk oleh lahar volcano alias gunung berapi Mount Vesuvius. Banyak banget pohon lemon berserakan di kota, memayungi jalur-jalur pedestrian juga. Saking ada dimana-mana, yang di pinggir jalan pun ngga cukup menggoda untuk dipetik oleh penduduk, bosen kali ya meraka.

Kedua, adalah woodmanship, alias prakarya kayu.

IMG-20170221-WA0056.jpg

Sesampainya di pusat kota, Lucho memarkir mini van di depan pabrik kayu terkenal. Ia memberi kami kira-kira 2 jam untuk jalan-jalan berkenalan dengan kota cantik ini, termasuk makan siang. Mumpung pabrik kayu sepi dan udah di depan mata, kami memulai eksplorasi kota Sorrento dari rumah produksi what the town has to offer at it’s best. Pengalamannya singkat tapi berkesan sekali. Karena sepi order dan lagi sepi wisatawan, pemilik pabrik turun tangan menemani kami keliling di pabriknya, dan memberi presentasi akan bagaimana proses pengolahan kayu mentah disulap jadi furniture atau wall-piece yang cantik. Kami akui emang karya-karya kayu nya yang di-display di situ semuanya super estetis. Tau ngga, Paman pemilik pabrik tersebut bilang, pernah mengirim meja kayu ke Jakarta, rata-rata harga satu coffee table yang mereka hasilkan dari kerajinan tangan nya adalah sekitar USD 5,000. Apaaah. Bisa buat ongkos umroh itu meja, huhu, luar biasa.

Ini foto-foto jalan-jalan singkat kami di Sorrento pas mendung.

IMG-20170301-WA0006.jpg

IMG-20170221-WA0050.jpg

IMG-20170221-WA0051.jpg

IMG-20170221-WA0053.jpgIMG-20170221-WA0054.jpg

IMG-20170301-WA0007.jpg

Kesan dan pesan sebagai berikut.

Semua-semua di sini mahal. Makan lebih mahal, barang-barang souvenir lebih mahal. Misalkan nih, harga magnet kulkas buat oleh-oleh di Roma masih banyak yang 1 Euro, tapi di Sorrento harga magnet 3 Euro.

Selain itu, Sorrento adalah gateway buat luxurious escape. Alias kalo orang-orang berkelas di Itali bosen di dengan hiruk pikuk kota, selain nyebrang ke pulau Capri, mereka biasa menghabiskan waktu untuk fine-dining atau kongkow-kongkow di salah satu “teras” kota Sorrento. Berasa orang Bandung nongkrong begaol di Dago atas kali ya, hahaha.

***

Pukul 12.00

Perjalanan dilanjutkan untuk menyaksikan kota Positano. Sesungguhnya kota full-color ini lah yang ingin saya hampiri, sesuai poster yang saya lihat 5 tahun lalu, this has been my dream. Tapi, ngga singkat untuk mencapai pinggir pantai pakai mobil yang harus turun tebing dulu, padahal kami juga ingin mencapai Amalfi Town di penghujung tur. Jadinya Lucho bilang, kita nikmatin Positano dari ketinggian aja yah. And so we did. Dan saya ngga kecewa sama sekali. Karena eh karena…..

img-20170301-wa0016

Kami berhenti di pinggir jalan yang menyediakan gardu pandang, viewnya persis dari atas kota Positano. Rupanya jauh lebih indah dari atas sini. Kali ini bukan gagap lagi, tapi bener-bener speechless kami dibuatnya. Berkali-kali kami sibuk mengambil foto tapi none of the pictures we’ve taken could do any justice. Jadi kami menyerah ikhlas. Ini bukan waktunya sibuk dengan kamera hape. It’s time to be “here and now” sambil bersyukur, pause dulu sejenak, take it all in, appreciate all the beauty. And we let ourselves be stunned by Allah’s magnificent construction. MashaAllah indahnya.

Tiba-tiba Thank You bergema di dalam dada, bikin hati bergetar. Gratitude….ngga tau buat siapa, mungkin buat siapa aja. Buat Allah udah pasti. Tapi rasanya ingin bilang Thank You berkali-kali. Buat Mamah saya karena selalu mendoakan supaya doa saya terkabul. Buat Bapak Freddy yang mau digandeng di dalam mimpi saya trus mewujudkan nya bareng-bareng. Buat si poster yang udah “mengundang” saya untuk kembali ke Itali. Buat alam semesta yang mengirim banyak sinyal supaya saya bergerak untuk kerja keras menjemput rejeki hingga bisa ke sini. Terimakasih.

***

Kaya baru nerima piala Oscar di Academy Award aja ya. Hahahha, biarin, namanya juga lagi bahagia.

Barusan di atas dan ini di bawah adalah foto Positano from above oleh Bapak Freddy. Lagi-lagi kenapa dari hape Bapak yang cemen, dan bukan dari kamera iPhone sih, huhu. Terlalu khusyuk menikmati momen tadi ya Pak.

IMG-20170220-WA0017.jpg

By the way, Mika si anak baik bobo di mini van sambil nenen. So far anaknya bingung-bingung aja belum banyak berekspresi soalnya kebanyakan duduk di mobil dan digendong di luar buat foto-foto, hahhaah, sabar ya anak anteng.

***Bersambung***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s