Mengawali tahun 2017, saya telah posting beberapa seri mengenai almarhum Papah sepanjang bulan Januari, dalam bentuk membayar hutang pada diri sendiri. I expressed all those chapters as a personal “closure”, menutup bab sedih dalam hidup. Sekarang waktunya meneguhkan jari buat lanjut menulis. The heart tells me it needs to continue sharing happy thoughts, pleasant talks, precious journeys and valuable insights.

Hmmm,,, itu barusan kalimat terketik dengan spontan, tapi sekarang dipikir-pikir keren juga tuh kalau si 4 topik bakal dijadikan the main segments in my blog. Apik yo?

Dalam hati kecil itu saya punya niat mau re-arrange my website, tapi tapiiii…. *menghela napas* banyak keterbatasan euy. Ditunda dulu ya prakarya mendandani ruang maya ini sampai nanti kalau saya punya skill, kreatifitas dan waktu untuk touch-up sana sini.

Sementara, saya mau rekam jejak apa-apa aja yang terjadi sepanjang bulan lalu yang merupakan bulan pembuka dan penutup. Januari menjadi pembuka tahun masehi, sekaligus penutup tahun monyet di dalam lunar cycle punya nya warga cina.

What does that mean to me? Actually nothing, hehehe. Tapi itu menunjukkan bahwa time flies, 2017 tinggal 11 bulan lagi. Ko bisa cepet banget ya? Tanda-tanda mau kiamat. Mudah-mudahan ngga sia-sia isi usia kita.

Ok, here’re some thoughts mengikuti tema keren yang barusan keluar tiba-tiba dari benak *Muji diri sendiri*

Valuable Insight

Pernah kah ada yang menonton film dari Jepang berjudul One Litre of Tears?

Beberapa tahun lalu saya sempet menguping keseruan teman-teman pengamat serial drama Jepang Cina apalagi Korea. Film ini sempet jadi trending topic karena eipsod-episodnya yang menguras air mata, mungkin itu juga kenapa judulnya sampe diukur dalam satuan liter begitu ya. Dikarenakan saya bukan peminat serial drama, saya ngga terusik sama sekali dengan desas desus yang konon kalau laki-laki ikut nonton pun, harus siap-siap perisai berupa tisu.

Baru setelah papah wafat di akhir Desember lalu, ade saya mengungkap kenapa film itu signifikan buat keluarga kami, ia pun bisa tahu karena temannya yang berkomentar setelah mendengar kisah sakitnya almarhum Papah. One Litre of Tears rupanya merupakan drama berdasarkan kisah nyata seorang gadis di Jepang yang didiagnosa menderita penyakit Spinocerebellar Ataxia, penyakit yang hingga kini tidak ada obat atau penyembuhnya. Mesikpun Papah ngga officially diberi label demikian oleh dokter, tapi semua simtom yang diderita beliau persis sama seperti yang diceritakan terjadi pada Aya, pemeran utama dalam film tersebut.

Bedanya, perjuangan Papah harus dibebani oleh penyakit mental juga, ngga hanya degenerasi otak dan fisik. Kalau kata adik saya, long story- short, dokternya Aya bersikap jujur dan terbuka pada pasiennya ketika awal divonis mengalami penyakit yang tidak bisa disembuhkan di usia 15 tahun. Ia menjelaskan bahwa suatu saat nanti Aya akan kehilangan koordinasi motorik, tidak akan bisa berjalan, berbicara, maupun berfungsi secara utuh. Yang meyarankan Aya untuk menulis jurnal adalah si dokter itu sendiri, makanya film tersebut diangkat berdasarkan tulisan Aya dalam diari nya selama sakit, sampai titik dimana Aya tidak bisa lagi menulis. Ia pun meninggal dunia di usia 25, selepas 10 tahun mengidap Ataxia. Sedangkan almarhum Papah bertahan 2 tahun lebih lama, he fought 12 years. Bless you Pah, sending prayers each day and every night.

Bulan lalu, telah banyak yang rela meluangkan waktu untuk membaca kisah-kisah Herry Andiarbowo Part 1-5. Saya berterimakasih kepada teman-teman dan kerabat yang memberi ucapan belasungkawa dan semangat, all the encouragement means a lot, terutama salamnya buat Mamah saya who’s the superstar in my tale. She sends her gratitude and well wishes to all who sent prayers.

IMG-20170212-WA0004.jpg

Ada satu pesan dari pembaca, my own retarded monster sahabat cantik bertubuh kecil yang suka berkelakuan sumbang (bukan dalam arti bahasa Malaysia tapi dalam arti bahasa Indonesia yang harfiah sebenar-benarnya), kelakuannya bener-bener sumbang, tidak lain tidak bukan adalah si Sifa Pane.

Biarpun gengges nya sampe gitu-gitu amat, ni anak suka ngasih one-two cent yang membuka mata maupun hati. Ia bilang, please live happily as the return of love he (Papah) gave since you were born.

I guess she’s right. Papah went through all those affairs in his life karena ingin membahagiakan keluarga. Because of him, dan untuk beliau, InshaAllah kita semua hidup bahagia dan harus selalu menuju kebahagiaan, inshaAllah selalu dalam ridho Allah. Amin.

Precious Journeys

Perjalanan liburan saya bersama suami dan Mika di Itali udah lama banget tertunda laporannya. Janji, postingan berikutnya setelah ini akan membawa kita ke Itali lagi, apalagi perjalanan selanjutnya dari pitstop blogpost terakhir adalah tujuan utama ke sana, yakni mewujudkan mimpi untuk menginjakkan kaki di Amalfi Coast beybih! Ini Bapak Freddy aja udah bernostalgia, instagramnya dipenuhi foto-foto keseruan menjadi musafir di Eropah. Ditunggu yah.

Satu perjalanan yang saya paling suka adalah perjalanan pulang ke dekapan Mamah. Akhir Januari pas imlek, di Malaysia menjadi liburan yang panjang karena 4 hari tanggal merah tersambung dengan public holiday lain di Kuala Lumpur berjudul Federal Day (yang libur Cuma KL aja, bukan libur nasional). Rejeki banget deh tinggal di sini kalender nya warna warni. Udah dari jauh-jauh hari, bahkan sebelum Papah meninggal, kami telah membeli tiket pulang ke tanah air. Yang unik dari mudik kali ini adalah berpencarnya rute terbang Bapak Suami, saya dan nak Mika.

IMG-20170212-WA0001.jpg

Bapak terbang ke Jogja, sedangkan saya flying duo with anak jowo, ke Jakarta. Bapak bermisi mengarungi sungai Progo Bawah dengan kayak bersama adik-adik angkatan di Palapsi (Pecinta Alam Psikologi), sekaligus menonton senior kita mas Ichal berpartisipasi dalam kejuaraan arung jeram nasional di sungai yang sama. Kelak kelok jeram dan riak sungai Progo lekat sekali di hati. Mereka telah menjadi saksi perjuangan latihan 2 tahun kami pas masih mahasiswa kere mempersiapkan ekspedisi arung jeram ke sungai Asahan di Sumatra Utara, dan ekspedisi arung jeram di Thailand di tahun 2008.

IMG-20170212-WA0000.jpg

Anyway, bagi saya perdana banget terbang cuma berduaan sama anak lincah, dan pertama kalinya pula naik Garuda instead of yang biasanya naik budget airlines langganan kami, Air Asia. Apa artinya gerangan? Artinya adalah pas di dalam pesawat, kami disuguhi makanan, walhasil saya harus pandai-pandai memangku Mika yang tangannya jahil pengen pegang ini itu. Tugas utama ialah mengalihkan perhatian doi selagi saya memanuver sendok nyuapin diri sendiri dan bayi gede, memastikan ngga ada objek dari tray makanan melayang dari tempatnya menghasilkan warna di luar garis, warna semur daging di baju penumpang sebelah misalkan. Alhamdulillah saya dan Mika pinter, hahhahaa. Cihuy, lancar lahir batin, walaupun pas baru aja boarding Mika kecepirit mincrit (lagi lagi bukan mencret, karena volumenya dikit aja) yang semerbak memabukkan. Takut isi pesawat kena radiasi toksik dari pampers Mika, sebagai penumpang yang masuk paling depan berkat gendong anak bayi, saya langsung menjuju lavatory yang sempit. Di dalam situ, seperti sirkus. Mika menolak cebok, tangannya sibuk nyenggol parfum yang tutup botolnya raib, si botol jatuh ke lantai pesawat tumpah, aroma nya berbaur menyengat menyaingi harumnya pampers Mika. Pusing hidung dan kepala. Jungkir balik Mika di dalam toilet pesawat bikin ganti popok mencapai rekor, entah berapa menit, yang jelas pas keluar lavatory hampir semua penumpang udah pada duduk rapi di seat nya masing-masing. Siap-siap take off. Begini rasanya kalau un-fashionably late.

img-20170212-wa0003

Ketika touch down di home sweet home BSD, selain berkumpul sama keluarga, ada lagi kumpul yang berharga di Tahun Ayam. Yang ini juga merupakan perjalanan, tapi tepatnya perjalanan persahabatan yang telah terjalin sejak tahun 2005 ketika kami semua terkumpul di kelas bernama Ronin di Nurul Fikiri, kelas bimbingan belajar beriklim islami. Di situ lah kami berjuang bersama memasuki Universitas.

IMG-20170211-WA0007.jpg

Selalu menyenangkan kalau Ronin berkumpul, apalagi sekarang udah pada bawa anak, generasi junior, ngumpul jadi rungsing kaya di kandang ayam, hahaha. Eh, pas banget tuh perumpamaan nya sesuai Tahun Baru Cina.

Ngga dalam rangka apa-apa, kami saling mengajak untuk tukar kado bernilai maksimal 50 ribu rupiah pake bungkus koran. Hal yang kecil, terkesan ngga penting banget. Tapi it’s heartwarming to know that you have people who are as odd as you are, when you ask them to do a simple thing without any clear purpose, they decide to do it with you, for you. That’s a statement of friendship in itself.

Dulu, ketika masih aktif di Nurul Fikri try-out SPMB (ujian perguruan tinggi negri) kesana kemari, kami rajin belajar bersama di Alfa Indah, di rumah lama orang tua saya (ketika Papah pas baru mulai sakit) atau di rumah orang tua Yara. Selalu, saya ingat, kami bertukar semangat dan saling mengingatkan “kita harus sukses bersama ya teman-teman”. Mudah-mudahan dalam hal apapun ujiannya, ngga cuma ujian masuk SPMB, kita bisa sukses bersama dunia akhirat. Amin.

Pleasant Talks

Sampai beberapa hari sebelum 18 bulan, perbendaharaan kata Mika cuma sebatas “Mama”, “Ba” dan “Pak” (ngga pernah bisa Bapak sekaligus dalam satu kata), dan satu lagi kata andalannya adalah “NaNa” alias minta nenen. Selain cuma bisa tiga kata ini, Mika hanya bisa mengolah vokal yang berbunyi dan berakhiran A. Sedangkan i,u,e dan o belum terdaftar di kamus Mika. Dibanding saudara atau kerabat yang usianya mirip, Mika aga malu-malu (apa males ya) berbicara. Ngga apa-apa, no worries, soalnya tiap anak beda perkembangan, beda karakteristik. Seperti kata buku-buka pedoman bayi, yang penting anak sehat, aktif dan menunjukkan rasa penasaran. Jangan sampai nampak kurang gairah hidup, kurang tenaga.

Ada anggapan bahwa “kalau anak bisa jalan dengan cepat, ngomongnya jadi belakangan”. Bisa jadi bener nih, hehe, soalnya Mika bisa jalan cepet banget tanpa dipegangin di usia 10 bulan, dimana sejak 9 bulan udah bisa tertatah-tatah dipegangin.

Yes, sekarang memasuki Febuari, Mika genap mencapai usia tepat 1.5 tahun. Yang bikin saya dan suami terkejut seru adalah tiba-tiba aja Mika bisa berhitung. Saaa..”tu”, Du…”a”, Ti…”ga”, Em…”pa”, Li…”ma” lanjut terus sampai sepuluh. Hahahhaa. Gemeeesss. Kami heran soalnya ngga pernah ngajarin berhitung, eh anaknya berkicau melengkapi. Padahal sehari-hari palingan kami menstimulasi dengan “Satu Dua Tiiii……” berharap Mika bales “ga” tapi ngga pernah berbalas sesuai pancingan. Krik…krik… Kalau dipikir keras mencoba mengingat kira-kira kapaaaan ya Mika pernah diajak berhitung, saya cuma ingat satu kesempatan di bulan Desember pas kami mudik saat Almarhum Papah wafat. Mika bertemu banyak saudara, salah satu nya Eyang Ti (tante saya) saat itu mengajak Mika mengamati jari-jari kecil nya sendiri sambil berhitung. Ternyata luar biasa yah daya tangkap dan memori anak. Kejadian itu hampir 2 bulan yang lalu. Artinya ni anak menggali ingatan nya, dan memutuskan sendiri kapan mau mengimitasi dan mengerjakan hal yang ia inginkan. He’s his own self, and he’s taking decision of his own life already. Apa kabar nanti kalau udah beranjak besar mandiri kamu Miiiiik, please don’t grow up too fast, nak.

Syukur deh, Alhamdulilah banget akhirnya mulai cuap-cuap si Mika Jalandra. Baru-baru ini, kami juga mencoba memberi lagi susu UHT. Dulu pernah nyoba pas usia 16 bulan, tapi reaksi dari Mika jadi gumoh, jadinya sampai sekarang Mika masih mimi ASI aja, selain makan dan minum air putih. Nah, percobaan kedua kami membagi susu UHT kali ini reaksi nya beda. Alhamdulillah ngga pake gumoh. Tapi Mika justru mincrit. Sehari sampai jadi 5 kali ganti pampers karena tiap beberapa saat anaknya pupi encer atau kentel. Kami jadi menyimpulkan kalau Mika turunan Bapaknya, alias lactose intolerant, gampang cirit birit, kalau kata orang Malaysia. Hihihi.

Tiaaaap kali abis mincrit, kami suka ketawa dari bertukar wacana ringan dengan Mika. Mika baru kecepi…..”rit” (sambil nyengir). Kalau abis kecepirit Mika harus ce…. “bok” (masih sambil nyengir). Hahahhaaaa.

Bikin kegiatan ganti pampers tetep sambil sumringah walaupun sering banget. Syukurnya ini terjadi kebetulan saya pas lagi pilek idung mampet, jadi ngga nyium juga aduhai aroma “rendang” produksi Mika. Sekarang udah mau sembuh pileknya, udahan aja deh ngasih UHT ke Mika, hahhaha.

Happy Thoughts

Minggu lalu Nin Tita (Mamah saya) ulang tahun yang ke 61. Mudah-mudahan selalu sehat dalam lindungan Allah dan masih diberi usia panjang supaya bisa menikmati main-main sama cucu yang kocak-kocak.

IMG-20170211-WA0008.jpg

There’s no other wish daripada kebahagiaan dan kesehatan Mamah. Itu aja, dan itu dulu.

Banyak lagi pikiran-pikiran melayang soal big life changes, big plans, big travel ideas with family, and big money (baca: hutang, bukan harta) hahahaha. But let them all  brew in my head while we materialize the plan. Mari menyongsong 2017 masih seger, tapi juga tinggal sepuluh setengah bulan lagi. Aaah!

4 thoughts on “Hello February

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s