img_6920

Chapter 6. The Parting

Dalam jangka waktu 12 tahun lebih, 5 tahun di antaranya Papah lumpuh total di tempat tidur, mungkin berbicara pada dirinya sendiri inside his head, memikirkan memori entah jaman kapan, merasakan sensasi di tubuh maupun emosi di hati yang wallahualam jua. Pada tahap ini di keluarga kami, lingkaran konflik sudah menyempit, yang tadinya teruntai kusut di antara kami berlima (Papah, Mamah, Mas Alvin, Tey & Nevis), menjadi buntet hanya di antara Papah dan dirinya. Ini berkat perilakunya yang kompulsif dan sporadis, bukan teratasi atau hilang, tapi terkekang oleh keterbatasan fisik Papah who slowly became paralyzed. Semua (mungkin semua selain Papah) telah berdamai dengan keadaan, we all knew Papah would never be able to come back to the way he were. We acknowledged this, dan mengerti betul hikmahnya, mudah-mudahan banyak lagi hikmah yang belum kami sadari lebih besar nilainya. But at least, InshaAllah we grow tighter as a family, stronger as individuals and more humble ikhlas selalu berusaha ingat dan berserah diri sama Allah.

By witnessing all the things our parents had to go through, hanya kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti yang selalu kita tuturkan dalam doa.

Setiap ada yang nengokin Papah, rasanya itu seneng banget. Kami sekeluarga masih terkesima dengan betapa banyak banget orang-orang yang pernah tersentuh hidupnya maupun menyentuh hati Papah. Baru setelah Papah lumpuh total terbaring di ranjang, banyak yang peduli meluangkan waktu untuk melihat kondisinya, mudah-mudahan ikut mendoakan, dan inshaAllah kalau Papah pernah ada salah maka turut memaafkan any bad deeds or poor words ever spoken. It means a lot to our family karena kami tahu Papah suka sekali bersilaturahmi, dalam hati pasti beliau senang bernostalgia kalau mendengar suara kerabat atau kawan yang datang menghibur Papah. Kenapa hanya mendengar? Karena physical deteriotration efek samping dari penyakit otak nya juga telah menyerang saraf mata atau penglihatan. Sudah lama beliau tidak bisa mengontrol bola mata supaya bisa fokus menatap objek yang diinginkan nya. Ngga hanya bola mata, tapi mungkin menguasai otot untuk menjaga kelopak mata terus terbuka lebar itu susah, mostly kondisi mata Papah sehari-hari itu separuh terbuka, separuh tertutup.

Tiga hari sebelum Papah berpulang pada Allah, beliau sakit. Allow me to describe the rest of the story based on Mamah’s re-run. Mudah-mudahan ngga melenceng..

Papah mengalami demam batuk pilek dicurigari karena ketularan Sky, ponakan saya, cucu pertama Mamah Papah yang nginep di rumah. Batuknya sempet parah sampai-sampai selang sonde yang mengakomodir kegiatan makan papah dari hidung ke lambung itu tiba-tiba keluar dari jalur pencernaan, yang harusnya berlabuh di lambung, malah muncul naik di mulut. Walhasil makanan ngga masuk ke dalam tubuhnya, malah keluar lagi seperti muntah. Syukur perawat langganan yang siaga membantu keluarga kami langsung datang membenahi posisi selang supaya bener lagi.

Selain daripada keadaan tersebut, ngga ada hal yang “aneh” atau khusus membuat cemas berlebih karena kondisi Papah yang normal aja sudah bikin kuatir tiap hari.

Dalam keadaan sehat pun, memang sudah biasa Papah suka memproduksi suara “grok..grok” seperti mendengkur yang keras, atau kadang seperti sedang berupaya mengeluarkan dahak karena banyak lendir di dada atau tenggorokannya. Sayangnya, lidah dan mulutnya kelu sehingga ngga bisa mengeluarkan hambatan apapun yang ada di dalam saluran napas atau pencernaan dengan sendirinya. Mamah lah yang setiap waktu mengeluarkan carian atau kotoran dari mulut Papah dengan sikat gigi.

Selain itu yang normal dilihat kalau dalam kondisi yang sehat, kala suhu ruangan (misalkan pas AC rusak dan kipas masih gerah) dan badan Papah terlampau panas, seperti bayi kalau demam terlalu tinggi, beliau akan kejang-kejang, kadang heboh goncangannya seperti gempa 5 Skala Richter, terkadang cuma tremor seluruh badan seperti minor earthquake berukuran 3 SR.

This happens so often that we’re very used to this situation, sampai tidak ada feeling akan berakhirnya masa Papah di dunia ketika mendengar Papah sakit, lagian sakitnya demam dan batuk. Nothing emergency sampai-sampai harus dibawa ke rumah sakit.

Hingga akhirnya tiba di malam ketiga Papah masih batuk dan demam, Mamah memutuskan untuk tidur, kecapekan karena ia ngga istirahat berhari-hari ngurusin Papah yang bentar-bentar batuk dan grok-grok mendengkur keras tiap merasa tidak nyaman. Yang aneh, Papah anteng tidur juga selama Mamah tidur seakan-akan memberi kesempatan buat Mamah istirahat dengan enak setelah sudah baik mengurus beliau. Sama sekali ngga mendengkur atau melenguh seperti sapi (bentuk komunikasi nya yang terakhir semenjak ngga lagi bisa berkata-kata) . Padahal dalam keseharian, Mamah langganan bangun tengah malem tiap 1 atau 2 jam karena Papah suka konser grok-grok dengan volume yang keras.

Keesokan pagi selepas Mamah shalat subuh, Papah juga kalem, ngga berisik. Bikin curiga. Mamah cek kondisi Papah, badannya masih hangat, berkeringat sih. Mungkin karena demam nya mau sembuh. Tapi keringetnya dingin. Hus… Pikiran yang ngga-ngga dibuang jauh dan dikesampingkan dulu, ujar Mamah dalam hati. Sesuai jadwal rutin jam 6 pagi, waktunya menyiapkan sarapan buat disuapin ke Papah lewat selang, sambil ngajak Papah shalawatan. Mudah-mudahan Papah cepet sembuh ya.

Dari dapur, Mamah bawa hasil blender-an makanan Papah ke meja samping ranjang. “Sarapan ya Pah” Papah diam aja. Lebih mengherankan, Papah menatap Mamah. Padahal jarang banget Papah bisa melek dengan jelas mengontrol bola matanya sendiri untuk berinteraksi. Mamah sentuh kakinya. Dingin. Tapi perutnya masih hangat. Sedangkan kepala dan punggungnya keringet dingin sih. Gapapa, makan aja dulu seperti normal deh, jauhin pikiran yang ngga-ngga.

Sebelumnya, demi makanan bisa mulus masuk selang sonde, Mamah aduk-aduk dulu bubur Papah yang masih kental tidak merata, di meja sambil membelakangi Papah, sembari mengajak Papah tahlilan. La ilaha illallah..Muhammadarasullallah.. La ilaha illallah.. Tiba-tiba ada suara “hek” seakan-akan Papah tercekik. Mamah langsung balik badan mengamati Papah. Dlihat tangan kakinya, diobervasi karena penasaran seandainya suara itu menandakan kejang lagi, Mamah ingin mengerti gerakannya seperti apa. Kalau parah ya panggil ambulans. But nothing happened. Ternyata bukan kejang. Baiklah. Lanjut aduk-aduk menu makanan dulu sambil berpaling dari Papah.

Sekali lagi, tiba-tiba Papah seperti tersedak “hek”. Mamah menatap wajah Papah. Ajaib apa yang dilihat. Hati adem tapi batin heran bersamaan. Papah sedang menatap lurus dengan kelopak mata terbuka jelas, pandangan ke wajah Mamah. Misterius, beliau hanya bisa diam.

Mamah memecah hening “Makan yuk, Pah”. Lalu seketika Papah menutup mata.

“Pah, kalau makan jangan tidur atau merem dong”. Ngga ada respon lagi.

“Pah….”

Mamah sentuh tubuhnya, perlahan semua menjadi dingin. Senyap.

***

Mamah memanggil Mas Alvin yang sedang menginap di kamar depan “Mas, kayanya ada yang aneh sama Papah, coba periksa deh” padahal di dalam hati kecilnya, Mamah mungkin mengerti apa yang barusan terjadi, tapi masih percaya ngga percaya.

Mas Alvin menyentuh Papah. Dingin. Menggenggam pergelangan tangan mencari denyut nadi. Nihil. Menaruh kepala di dada Papah untuk memeriksa apakah ada suara atau gerakan napas. Ngga ada lagi.

“Mah…… Papah udah ngga ada. Innalillahi Wa Inna ilaihi rojiun”

***

Perasaan sedih hadir seperti banjir, mendadak dan meluap-luap. Sedih tapi pasrah, yakin bahwa Allah telah cukup meminjamkan waktu bagi Papah untuk menemani kami. Di lain sisi bersyukur bahwa kini Papah inshaAllah ngga lagi menderita. Bersyukur juga karena Mamah lulus ujian, ujiannya Allah, dengan sehat dan tegar. Lega hati karena di penghujung waktunya di dunia, Papah ditemani oleh pendamping hidupnya, sampai detik sakaratul maut, mashaAllah.

Dan proses kepergiannya alhamdulillah cepat, tapi inshaAllah cukup untuk pamit kepada Mamah.

A lot of things cloud my mind on what his last look to Mamah meant. I have many wishful thinking and wonderings in my head. Semoga Papah memaafkan kami sekeluarga kalau beliau tersakiti, semoga Papah mengerti kami sayang banget dan bangga banget punya Papah yang baik. We’ve grown so strong and that’s because we went through all of this together.

That one last look, could have meant anything. And I choose to believe that it was his last given chance by Allah to say Goodbye to us through Mamah. InshaAllah Papah rest in peace.

For Papah…

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu wa akrim nuzulahu wawaasi’madkholahu waghsilhu bilmaai.

Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskan dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah tempat tinggalnya, Amin ya robbal’alamiin.

To Mamah and the rest of us…

“And once the storm is over, you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about.”―Haruki Murakami

We love you Papah. You will always be in our hearts.

img_6722

6 thoughts on “Herry Andiarbowo. Part 5

  1. MasyaAllah 😢 aku salah kira selama ini. Mengenal Tey yg selalu ceria, positif, care & humble seolah jauh dr episode sedih dlm hidupmu. Maaf 😦
    Tey hebat! Pasti alm. bangga bgt sama anak perempuannya ini. Salut sama tante Tita, perjuangan & kelapangan hatinya melewati ujian ini semua.

    InsyaAllah mjd takdir yg terbaik, untuk Tey & keluarga. Alm. Papah dilapangkan kuburnya & mendapatkan tempat yg terbaik di sisi Allah SWT.

    Maaf ya TTey, hari itu aku ga bs ke Bsd.

    Like

    1. Makasi ya Nopek udah mau membaca cerita Papah.. Beliau yang dulu mengajarkan bahwa biar prihatin, kita harus tetep positif, makanya pas kuliah ya cengenges2 aja,.. Aminnn doanya inshaAllah, doa yang sama buat kita, semangat dan tawakkal selalu apapun ujiannya. Salam buat keluarga kecil Pek ❤️

      Like

  2. Ah entah kenapa ikut meneteskan air mata baca cerita Tey. Keluarga hebat. Semoga almarhum papa diterima Amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya, Tey dan semua yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Peluk dari jauh Tey

    Like

  3. Tey.. Thanks a lot for sharing this story.. ikut meneteskan air mata.. Banyak hikmah yg bs didapat dlm menghdpi org tua.. mudah2an Alm mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT yah Tey.. Dan kelak Tey sekeluarga dipertemukan kembali di surga aamiin

    Like

  4. Teeey….inget banget pernah ketemu bokap di alfa indah pas tim air mau brgkat ekspedisi..dan ga nyangka banget stlh bertahun2 berlalu ternyata ini cerita di balik kondisi bokap yg aq liat wkt itu…. sakit itu hapusan dosa tey, insyaaallah bokap khusnul khotimah..makasih pelajaran hidup yg udh di share terutama dri nyokap lo yg superhebaaaat!!!! Salam yaaa tey bwt beliau:)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s