IMG_6736.JPG

Chapter 5. The Companion

Waktu itu momen nya pas lulus SD dan awal masuk bangku SMP, banyak (well 3 atau 4, kalau itu boleh dibilang banyak) yang “nembak” saya nembung jadi pacar, ala ala puppy love. Saya ingat saat itu juga lah saya pertama kalinya curhat dan terbuka ke Mamah soal banyaknya laki-laki yang naksir saya, ciye.Mungkin Mamah tergelitik nahan tawa karena putrinya ini bisa mulai memposisikan beliau sebagai teman diskusi pasal asmara. Eh akhirnya malah doi yang buka-bukaan soal kisah cintanya dari SMP, ke SMA, trus kuliah, yang pernah pacaran sama ketua geng preman sampe akhirnya yang jadi rebutan antara bule Amerika sama Papah.  Lekat banget di benak saya bahwa malem itu jadi panjang bener begadang gara-gara riwayat romance Mamah beruntun kaya serial FTV.

Di kesempatan itu, Mamah memberi nasehat bahwa cinta itu ngga mungkin sama bobotnya di antara pasangan. Pasti ada yang lebih mencintai, sebaliknya pasti ada yang lebih dicintai. Kelak cari suami yang cintanya ke Tey lebih besar daripada Tey cinta sama dia ya. Kalau dapat yang begitu, ia akan rela melakukan apapun, berkorban, demi mempertahankan sayangnya dan inshaAllah ngga bakalan ninggalin kita.

Saya mengerti bahwa Papah dulu “berjuang” memenangkan hati Mamah, sehingga tertanam dalam kepala saya bahwa Papah lah pihak yang cintanya lebih besar. Beliau pupuk rasa sayang dengan kebaikan, kerendahan hati, kebanggaan akan keluarga, kejayusan, kekeras-kepalaan, kemesraan kata-kata dalam sajak entah disampaikan pada Mamah atau hanya disimpan antara dirinya dengan Allah melalui jurnalnya (yang baru kami temukan setelah Papah wafat).

Lalu si Badai menyambar atas perintah NYA. Kemudian Nasehat itu, bahwa cinta ngga mungkin bobotnya sama, ada yang lebih mencintai, ada yang lebih dicintai, seiring dengan waktu berkembang menjadi teori yang berbeda. Bahwa mungkin bobotnya ngga akan pernah sama, tapi siapa yang lebih mencintai dan siapa yang lebih dicintai bisa berubah. Yang membuktikan teori itu di hadapan saya tanpa ia sadari adalah Mamah sendiri.

Sepanjang Papah menderita sakitnya, Mamah setia mendampingi, mendoakan, memperjuangkan kesehatan Papah, membopong berat badan nya kesana kemari, membasuh dan memijat, menggerakkan tangan kaki, mengiring Papah untuk shalat dan mengaji dalam baringnya, menunjukkan bahwa rasa cintanya lebih besar, bahwa roda itu berputar, ada gilirannya memberi dan ada saatnya menerima.

Mamah adalah sosok yang selalu di sisi Papah sampai akhir hayatnya. She had been his companion, the sole care-taker, the witness of Papah’s life, and the love sent from Allah for Papah.

Pengorbanan judulnya, karena Mamah telah mengerahkan sebanyak-banyaknya waktu, tenaga, pikiran, perhatian, keluhan, rasa malu. Kehidupan sosial Mamah jadi nihil. Me-time langka. Sumber pendapatan wallahualam, padahal pengeluaran dalam merawat orang sakit itu luar biasa banyak dan mahal. Kebugaran dan kecerahan parasnya luntur karena lelah mengangkat Papah. Keriput di dahi banyak karena sibuk was was mikir darimanaaa rejaki Allah akan muncul bagi keluarga terutama ketika kami anak-anaknya masih sekolah/kuliah semua, belum pada kerja.

Ia adalah insan yang saya kenal paling sabar dan kuat sedunia. “Berotot kawat, tulang besi”, seringkali saya bilang ke suami bahwa itu bukan hanya metaphore yang berlaku bagi Mamah. Coba aja pijitin punggung Mamah sesekali satu malem. Pasti tangan kita akan merasa beratnya beban hidup beliau, itu punggung luar biasa kaku keras dan kuat! Keras dalam arti sebenarnya. Sama punggung suami yang rajin fitness aja, punya Mamah masih jauh lebih kokoh. Atau mungkin tepatnya, kaku memikul cobaan.

Begini gambaran rutinitas sehari-hari Mamah merawat Papah, terutama selepas Papah sudah terbaring lumpuh semenjak kami semua anak-anaknya bekerja:

 

Subuh

Bangun shalat, beres-beres rumah.

Jam 6 pagi

Suapin papah sarapan. Ketika ngga lagi bisa menelan dan mengunyah, Papah terpaksa mengkonsumsi pangan melalui selang sonde. Kegiatan mamah di jam ini adalah “menyuntik” makanan yang sudah di blender ke dalam selang langsung meluncur masuk ke dalam lambung. Nyuapin Papah mungkin hanya 15 menit, setelah itu diselangi oleh belanja di pasar (nitip langganan ojeg), nyapu halaman.

Jam 7 pagi

Memandikan Papah. Dulu ketika Papah masih bisa duduk dan sedikit berjalan, Mamah membopong Papah yang gemuk dan berat ke kamar mandi berjarak 5 meter dari ranjang.

Meskipun hanya 5 meter, bayangkan kalau menggendong orang yang aktif bisa menggerakkan ototnya, itu ringan. Tapi Papah terseok-seok tidak bisa mengontrol kakinya sendiri, sehingga tubuh bagian bawah lunglai, menjadikan bebannya lebih berat bagi diri maupun yang mengangkat/merangkulnya. Aktivitas ini jadi olahraga yang menguras keringat bagi Mamah. Papah didudukkan di atas toilet, lalu dimandikan.

Namun setelah lumpuh seluruh badan, kegiatan mandi jadi dilakukan di atas tempat tidur aja. Lebih ringan? Kata siapa. Ganti seprei kalau buang air besar di atas matras, ataupun mau buka atau pasang baju tiap abis mandi pagi melibatkan kegiatan mendorong memiringkan mengguling kesana kemari badan Papah. Tulang beliau besar, walaupun semenjak sakit badannya tidak gemuk lagi, tapi bobotnya tetap banyak, kira-kira 60 kilo.

Yang mengatasi mobilitas terbatas Papah berbobot 60 kilo di atas ranjang ini hanya Mamah seorang. Ngga hanya mengelap membersihkan tubuh Papah, Mamah menggerakkan tangan dan kaki, maksudnya mengajak senam supaya badan ngga makin kaku. Gerakan nya sesuai arahan fisioterapis jaman di rumah sakit dulu. Romantis deh gosok-gosok badan Papah sambil shalawat di pagi hari.

Jam 9 pagi

Agenda rutin ngasih Papah minum susu nutrisi.

Jam 12 siang

Memfasilitasi Papah makan siang dan makan obat, termasuk obat kejang yang ngga boleh kelewat seumur hidup.

Jam 3 sore

Jadwalnya memberi Papah minum susu nutrisi.

Jam 6 sore

Nyuapin makan malam Papah & makan obat.

Jam 9 malam

Jadwalnya memberi Papah minum susu nutrisi.

Jam 12 malam

Harus bangun untuk memastikan Papah makan obat, biar kejangnya ngga kambuh.

***

Demikian. Musim kemarau, musim hujan, musim libur, musim lebaran. Lima tahun musim berganti, rutinitas Mamah (dan Papah) tetap sama. Berdampingan saling menemani.

Ada kalanya Mamah jenuh, kalau kata beliau “lemah iman”, ini manusiawi banget kan. Mudah-mudahan keluh kesah dan doa Mamah dijaga & dikabulkan oleh Allah, diganti dengan rejeki yang berlipat ganda dan kebahagiaan yang berlimpah. InshaAllah segala pengabdian merawat Papah berbuah tabungan pahala yang bertubi-tubi di akherat nanti. Aminnnn.

Ngga berhenti bersyukur punya Mamah hebat, kuat, sabar dan penyayang. We love you so much Mamah. I’m sure Papah would say the same prayer.

*** Bersambung ***

IMG_6739.JPG

IMG_6731.JPG

img_6737

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s