img_6708

Chapter 2. The Moment of Truth

The hurdle with Papah and our family lasted long over more than a decade, saya ngga bisa ingat persis tiap kejadian, kapan adegan penting terjadi, apakah sebelum atau setelah titik tertentu dalam rangkaian riwayat ‘sakit’ Papah . Waktu kejadian agak buyar dalam ingatan. Yang jelas di garis awal grafik kesehatan Papah mulai turun, ada suatu kesempatan dimana kami sekeluarga kerap berkunjung ke seorang ahli reflexiology, alias tukang urut yang seperti dokter aliran alternatif, namanya Pak Wing di deket rumah Eyang Uyut di Cireundeu.

Entah kenapa jaman itu awal era millennium yang harusnya serba modern, tapi justru tren di keluarga adalah mencoba aliran alternatif dalam mencari pengobatan buat penyakit ini itu. Bukannya medical check up ke klinik, malah cenderung mengambil metode yang tradisional seperti ya si pijat alternatif ini. Dipikir-pikir sekarang, mungkin karena keluarga kami udah ngga dicover asuransi kesehatan semenjak cerai dari Mobil Oil, jadi nyarinya yang terjangkau, menghindari medical practitioner di rumah sakit yang suka bikin kantong kering dan malah darah tinggi. Hehehe.

Saya ingat di sini Papah masih dalam kondisi fit bisa berjalan dengan cakep (tapi sekeluarga masih heran kenapa jalannya lamban) pake shirt rapi ketika memeriksakan diri ke Pak Wing, pengen mengetahui kira-kira ada penyakit apa.

Intro sebentar yah, Pak Wing ini knowledgenya bagus sekali, testimony dari orang-orang sangat positif. Ia cerita sendiri bahwa ngga pernah menimba dengan formal ilmu medis. Dengan otididak (self learning), ia mendalami reflexiologi sampai-sampai bisa akurat mendiagnosa dan menyembuhkan penyakit sama layaknya seperti dokter medis. Ngga hanya penyakit langganan orang umum seperti kolesterol, jantung, ginjal, asam urat, darah tinggi, tapi pasien-pasiennya pun ada yang disembuhkan dari tumor internis (pernah denger misalkan mium atau kista di dalam rahim). Cuman, pijitnya sakit banget amit-amit saya ngga tahan. Pernah saya ikutan dipijit atas saran Mamah, didapati oleh Pak Wing bahwa saya menderita sembelit (itu mah saya juga udah tau), ketahuannya pas dia mijit bagian betis kanan, nah ini yang saya super impressed. Betis saya kan super tebel, bisa-bisanya Bapak itu nemuin kelemahan yang sembunyi melalui bagian sakti tubuh ini. Yang hebat, kuat banget jarinya bisa “menyiksa” kaki saya sampai saya klepek-klepek bagai ikan yang terlempar keluar akuarium memohon-mohon dicemplugin ke air lagi. Aseli, cuman kuat sekali saya mah.

Ngga ada motif khusus Mamah mengajak sekeluarga mengunjungi Pak Wing selain penasaran dan terapi pijit kalau-kalau dalam kondisi kurang bugar. Cuman ikhtiar semata. Mungkin melihat Papah yang gerak fisiknya mulai melambat (belum secara drastis), sedikit berharap mengetahui root cause-nya. Hanya saja, pertemuan dengan Pak Wing membuahkan kabar yang di luar ekspetasi.

Ketika perdana kaki Papah mendarat dalam genggaman nya, Pak Wing menyelami titik-titik pijat yang kritis, lalu menjelaskan dengan gamblang dan terbuka bahwa “Pak Herry nih ada cairan berlebih di otaknya”. Mamah Papah yang menerima berita tersebut tentu terkejut. Tapi singkat cerita Pak Wing menyarankan untuk “coba aja kepalanya di CT Scan” supaya membuktikan hal yang sama dari diagnosa beliau. Kata Pak Wing, penyakit ini disebut dengan Hidrosefalus.

Akhirnya Papah mengikuti anjuran untuk mengambil gambar scan otak di klinik. Surprisingly, hasilnya persis seperti apa yang Pak Wing dapati melalui pijat kakinya Papah. Gambar CT Scan beneran menunjukkan bahwa ada carian otak excessive di kepala Papah. Dokter aliran medis menyarankan untuk operasi supaya mengalirkan cairan di kepala ke lambung (entah gimana prosedurnya ngga kebayang). Penyakit ini tergolong kronis, bisa dikontrol, tapi ngga bisa disembuhkan total. Menurut sumber di Google, pengobatan utama hidrosefalus adalah operasi pemasangan shunt, yaitu alat khusus berbentuk selang yang dipasangkan oleh ahli bedah ke dalam kepala dengan tujuan membuang kelebihan cairan serebrospinal di dalam otak untuk selanjutnya diserap oleh pembuluh darah di bagian tubuh lain.

Mamah menolak mengambil jalan operasi karena kita tahu sekali kalau kepala diutak atik atau dibuka, resiko nya tinggi, daftar efek samping yang mungkin terjadi juga serius. Kami ngga berani ambil, selain karena ngga punya duit juga sih. Akhirnya Papah terus berkunjung ke Pak Wing dengan harapan menjalani terapi pijat rutin inshaAllah mengobati kondisi otak.

Selama kunjungan terapi rutin, pak Wing banyak sharing (soalnya doi hobi ngobrol dan ngoceh). Ia menjelaskan, kalau ngga pernah denger apa itu hidrosefalus, penyakitnya bisa dilihat pada anak-anak, kebanyakan bayi yang lahir dengan kelainan saraf, kepalanya besar seperti inflated balloon. Tapi pada Papah, penyakitnya menyerang ketika sudah dewasa saat tengkorak kepala sudah keras, ngga seperti tengkorak bayi yang masih lunak sehingga bisa membesar dan teramati oleh mata telanjang. Karena ngga kentara oleh kasat mata sehari-hari, jadinya ngga ada yang ngeh juga kalau internally Papah telah mengidap penyakit tersebut.

Satu hal yang menarik. Ada banyak penjelasan dari berbagai sumber yang bisa kita akses dari dokter di rumah sakit, juga dari artikel online maupun dari majalah kesehatan  mengenai pemicu hidrosefalus. Semuanya menerangkan hal yang kira-kira sama soal trigger penyakit tersebut yakni seputaran pendarahan dalam otak, atau pernah punya riwayat penyakit stroke, atau pernah cedera parah di kepala, atau dari kelainan system saraf.

Tapi Pak Wing menyebut satu sebab khusus yang ngga muncul di penjelasan lain mana pun, nyentil banget buat kasus Papah. “Ini terjadi karena penggunaan belahan otak yang ngga seimbang Pak” sambil sibuk memijat plus mukul-mukul kaki saat terapi. Otak manusia kan terdiri dari dua belah, ada otak kiri ada juga otak kanan. Masing-masing punya fungsi dan tugas yang berbeda. Memang kecendurangan di tiap manusia adalah satu sisinya lebih dominan daripada yang lain, tapi idealnya pemanfaatan kerja otak kiri dan otak kanan haruslah seimbang.

Otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Kalau pendapat pakar, ini headquarter bagi si Intelligence Quotient (IQ). Sementara otak kanan berfungsi dalam perkembangan Emotional Quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Ini bagian kepala yang melatih kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, mengekspresikan tubuh melalui jenis kegiatan kreatif, bisa dibilang rekreasi bagi mind body and soul terkait dengan otak kanan, divisi hura-hura.

“Pak Herry pasti kebanyakan menggunakan otak kiri, kebanyakan mikir. Kurang rekreasi”. Di samping itu, stress berlebih juga berkontribusi memicu kelainan produksi cairan di otak. Meskipun penjelasan ini ngga medically verified dan bukan asesmen official dari praktisi medis, kami memilih untuk percaya.

Komen Pak Wing bener-bener memberi insight akan akar masalah yang sangat amat mungkin apply to Papah’s case. Seketika kami sekeluarga flashback mencoba mengingat gaya hidup yang dijalanin Pak Herry Andiarbowo.

He’s a smart and workaholic guy, hobinya membaca surat kabar, buku, riset ilmiah, seismic graph. Ngga suka olahraga, skill motoriknya nihil, koordinasi tangan kakinya cemen, makanya ngga lihai olahraga. Trus, ngga punya hobi yang bersifat rekreatif. Aktivitas sportif paling seru bagi Papah mungkin hanya lah catur. Buktinya banyak medali atau reward juara catur yang dimenangkan Papah. Really Pah, catur? Padahal catur kan melibatkan aktivitas mikir juga, artinya semua-semua kesehariannya berkutat di otak sebelah kiri.

Here’s another lesson-learn buat kita semua jangan underestimate pentingnya memiliki hobi dan mengutamakan work-life balance. Keseimbangan di aspek apa pun, termasuk memanfaatkan penggunaan otak kanan dan otak kiri, is fundamental. Ingat, work life balance itu tidak sama dengan flexi working hours dimana company membebaskan kita untuk kerja dimana aja, kapan pun. Melainkan, it’s a way and a concept of life dimana ketika kita harus “shut-down” pikiran dan aktivitas dari urusan kerjaan, maka kita shut down completely terutama untuk “hadir here and now” buat keluarga. Contohnya ketika di luar kantor mengambil izin/cuti atau tiap weekend, kalau bukan masalah hidup dan mati atau resiko dipecat, ngga usah buka laptop dan kerja.

Career is not everything, sekalinya kita jatuh sakit, perusahaan atau karir ngga akan berempati dengan kondisi kita. Nothing is worthwhile when health is at cost.

***

Chapter 3. The Man who started it all

Jelas sudah ada kelainan di otak Papah, ikhtiar kami sekeluarga berlanjut. Tapi ada yang lebih dalam dari kemalangan ini, yang lebih ngga kelihatan oleh indera ke-enam (?), yakni dinamika psikologis Papah.

He needed help but he never expressed it, he repressed things into his mind and never curhat what’s actually going on behind his head. Mungkin pengaruh budaya Jowo yang nrimo dan bawaan keluarga kolot yang formal dan ngga biasa berbagi satu sama lain dengan terbuka.

Dulu banget pas remaja saya inget nasihat dari Ta’mi, tante saya (adik Mamah) bahwa menyimpan masalah dalam benak dan hati itu ngga baik. Se introvert-introvertnya kepribadian kita, kita harus bisa mengemukakan masalah, meluapkan emosi, entah sama orang atau sama tembok. Sama kucing juga boleh. Curhat sama buku diari aja dianjurkan dan bisa menjadi bentuk terapi. All for the purpose supaya kita ngga memelihara gunung api di psikis yang bisa meledak ke arah yang tidak diinginkan, kaya jerawat kalo pecah.

Di samping post power syndrome dari pengalaman berkarir, menurut kami sekeluarga “kelengseran” yang tidak bisa diterima dengan ikhlas oleh Papah berawal jauh lebih awal dalam riwayat hidupnya, ngga cuma jaman bekerja, tapi ketika tumbuh kembang dari kecil.

Kami tahu betul cerita masa kecil Papah Mamah makanya bisa menyimpulkan demikian. Jaman masih kecil, dongeng hidup orang tua di masa nya merupakan pengantar tidur favorit kami. “Papah itu hidup susah, tapi sangat pintar” adalah pembuka dongeng andalan dari Mamah, sengaja menyisipi pesan supaya kami belajar dari beliau biar hidup prihatin tapi berprestasi agar nanti nya sukses. Sejak sekolah menengah ia menimba ilmu dengan beasiswa. Masuk universitas ITB jurusan Fisika Teknik angkatan 74 berkat mendapatkan beasiswa juga, sambil jualan rokok demi punya uang saku. Mau pacaran harus minjem motor, pacaran nya juga ngga exciting, perginya ke perpustakaan, kutu buku esktrim. Sebelum lulus kuliah udah banyak tawaran pekerjaan.

IMG_6718.JPG

Ketika sudah kerja ia menjadi tulang punggung orang tua dan keluarga (adik-adiknya), beli rumah dan mobil untuk orang tua beliau (Oma Opa kami) ketika masih sangat muda berkarya.

Ada satu hal juga yang kami baru ketahui beberapa hari belakangan. Ade saya cerita di Jakarta ia dan Mamah membereskan barang-barang peninggalan Papah, lalu menemukan jurnal beliau di tahun 1977 masih tersimpan, jaman Papah masih kuliah. Isinya menggambarkan betapa sibuknya kuliah dan aktivitas mahasiswa lainnya, biarpun dompet kosong tapi ngga menghalanginya berkegiatan. Setiap ada waktu luang, dirinya rajin bersilaturahmi dengan cara “incognito“, begitu yang Papah sebut, alias diam diam tiba-tiba nongol di rumah saudara. Seperti yang kita kenal soal Papah, tulisan beliau di diari juga menekankan keyakinan beliau betapa pentingnya pendidikan, edukasi bisa menaikkan strata hidup. Hingga banyak doa-doa yang ditorehkan di halaman jurnal nya supaya sukses. Ngga sedikit cerita di dalamnya juga soal tiap kali Papah bisa berbagi rejeki (duit) ke adik-adiknya, dan betapa gembira hatinya walaupun kemudian ia mengaku kere dan galau lagi. Tapi semua selalu diikuti dengan ucap syukur.

This is exactly the man I know since life, manusia yang suka sekali menolong dan membahagiakan orang lain.

Apalagi, ngga perlu disebut apa aja, kebahagiaan yang sudah diperjuangkan Papah untuk Mamah dan kami anak-anaknya. Karena Papah, kita bisa berpetualang hidup di berbagai negri jauh dari tanah air. Itu semua hanya sedikit dari prestasi hidup beliau. Namun intinya, dari kecil sampai usia 40-an, kalau boleh digambar, grafik kesukesan nya di dunia selalu naik. Mungkin ngga ada kegagalan yang signifikan selain dari gagal ganteng.

 

Do you know what happens to a soul that never fails in life and suddenly faced with a single (but huge) disappointment? He stumbles and falls hard. And so Papah fell hard.

 

*** Bersambung ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s