Innalillahi wainnailaihi roojiuun

Telah berpulang pada Allah pemilik semesta alam, Minggu tanggal 18 Desember 2016, pukul 06.00 pagi, pahlawan hidup yang saya panggil dengan nama…Papah.

Pas masih duduk di bangku SD, saya pernah berdoa kenceng tiap malam minta sama Allah supaya jangan ambil Mama dan Papa dulu. Alasan nya karena saya belum siap hidup tanpa keduanya.

Kemudian saya beranjak dewasa dan menyadari bahwa kapan pun Allah menetapkan jodoh bersama orang tua berakhir, siap ngga siap kita akan tetap diselimuti duka yang mendalam. And only time will heal, they say.

Seperti siapa pun yang ditinggalkan orang yang amat disayang, saya berkabung dalam hening walaupun hidup lanjut terus, masuk kerja di kantor, silaturahmi sama tetangga, bertemu kawan lama yang berkunjung ke kota, bayar tagihan bulanan.

InshaAllah everything is gonna be just fine dengan kami sekeluarga. Saya tahu rasa kehilangan akan menjadi teman untuk saat yang lama when we lose our loved one. Gapapa, temani lah. We all need to grieve properly to close this chapter and move on. 

Papa.jpg

Jasad Papah sudah pergi. Ketika hari wafat beliau, saya mengejar flight paling awal yang bisa kami sekeluarga kejar untuk pulang ke Jakarta dari KL. Tapi keberangkatan pesawat yang paling cepat adanya pukul 2 siang. Di kereta menuju bandara, Mama saya ngabarin lewat telpon, jenazah Papah bakal dimakamkan setelah shalat dzuhur ya Tey. Artinya saya ngga akan sempat menengok fisik Papah untuk terakhir kalinya. Ya ngga papa Mah, saya jawab, lebih cepat lebih baik inshaAllah ikhlas, yang tabah ya Mah.

Lalu semenjak telpon terputus, ngga berhentinya saya menangis. Tentunya sedih ngga sempet say goodbye sama Papah. Tapi ngga ada rasa sesal sama sekali mengikhklaskan proses pengebumian tanpa perjumpaan lagi. Yang buat menangis justru adalah tanda tanya besar, apakah Papah tau kalau Tey sayang banget sama beliau. Mudah-mudahan Papah dalam diamnya mengerti di lubuk hati, karena tiap kali pamit meninggalkan keluarga di Jakarta untuk menjemput rejeki dimana pun ditugaskan, Tey selalu menyempatkan waktu hanya berdua di kamar Papah, salim tangan, cium-cium dan peluk Papah mebisikkan “I love you so much Pah, doain Tey terus yah, Tey juga doain Papah”.

Sampai sekarang rasanya saya hanya mau mengingat tentang beliau, to honor him, to celebrate his life by remembering him, to keep him present although he’s gone as if he’s still beside us. Saking kekeuhnya cuma mau mengenang Papah, saya belum update kabar ataupun foto apapun di media sosial padahal banyak bertemu banyak kerabat, saudara dan ponakan lucu-lucu. Kisah liburan ke Itali di website saya pun pending. Saya takut, kalau saya beralih melanjutkan keseharian lalu mengabadikan hal yang baru, kuatir bahwa itu akan berarti meninggalkan Papah. Takut, seakan-akan pegangan akan memori yang tersulam bareng Papah juga akan lepas, cuman menguap ke udara. Ngga jelas apa ini kah yang disebut belum ikhlas? InshaAllah ngga begitu ya, mudah-mudahan saya ikhlas Papah kembali ke hadapan Allah sang Khalik.

Sementara… ada ruang besar dalam hati yang tiba-tiba bukan hampa, sebaliknya malah menjadi  penuh-sesak dengan kenangan yang bahagia maupun yang sedih. Semua meledak-ledak dalam benak dan dada sampai saya mewek mengingat kembali rasa sayang luar biasa dari dan bagi Papah, di keluarga kami. Ga berhenti bersyukur sama Allah karena sudah meminjamkan an incredible man in our lives. Seandainya masih bisa berkomunikasi, I hope you know how much we all love you Pah. Al Fatihah buat Papah.

Mudah-mudahan perjalan Papah setelah Dunya dimudahkan Allah. inshaAllah kita semua bisa kerkumpul lagi sekeluarga dan Papah mendapat tempat di Jannah NYA, amin.

Robbighfirlii Waliwaalidayya War Hamhumaa Kama Robbayaanii Shagiiraa.

***

Ketika memulai website ini, sempat saya menyebut soal Papah di satu postingan bulan Oktober, berniat suatu saat mau menulis tentang beliau. He’s gone through many things, mostly struggles, the last 12 years and not many people know about his story. So I think it’s time that i share a short memoir of him (it’ll be hard to keep it short). But above all, the reason I’m passionate to tell his life is because there’re so many lessons people can take from it. I swear I always brag about the rise and fall of Papah, never a moment I hesitated to share to anybody who cares and asks. Harapan saya, kisah ini bisa jadi reminder buat keluarga maupun siapa aja yang membaca, inshaAllah kita bisa memetik hikmahnya dan jadi manfaat.

I don’t know where best to start. Tapi kalau mengingat salah satu film yang diperankan Will Smith berjudul The Pursuit of Happiness, cuman itu title yang pas buat menggambarkan kisah hidup Papah karena selama mengenalnya, beliau hanya ingin orang-orang di sekitarnya bahagia.

Bismillah. To Sky Hernandi, Mika Jalandra Andreas, Himma Madina Herlangga, here’s a tale about your grandfather.

Catet, ini semua ini dari kacamata saya. It might be different from how you see or remember him, but the truth always depends on whose perspective. So this is my truth. Saya yakin kalau perspektif Nin Tita yang tiap hari di sisi Papah, pasti lebih lengkap, juga berisi drama.

Still inspired by the movie The Pursuit of Happiness, here’re are few chapters in Herry Andiarbowo bin Moerbowo’s life.

Chapter 1. The Storm

Kata orang, setiap keluarga pasti ada cobaannya masing-masing. Badai pasti datang.

Sebelumnya… Wallahualam ujian apa yang dialami antara Papah (Eyang Herry) dan Mamah (Nin Tita), pelaku utama keluarga inti kami. Tapi sepanjang saya tumbuh kembang sampai menginjak remaja, yang saya ingat keluarga kami selalu terasa harmonis, penuh tawa kehangatan, love-hate relationship di antara semua anggota keluarga, kejahilan antara adik kakak, pertengkaran orang tua, percek-cokan di meja makan tiap jadwal dinner bersama, keakraban yang diselingi perkelahian di ruang keluarga rebutan remote control televisi, rahasia pasti ada, tapi kami hormat menghormati satu sama lain, membuat keinitman yang banyak keluarga lain miliki juga.

Papah kerja di Mobil Oil, kini dikenal dengan Exxon Mobil, perusahaan minyak Amerika yang besar, role beliau mencapai senior manager di bagian eksplorasi. Mamah seorang Ibu rumah tangga.

Kondisi ekonomi keluarga kami cukup, tidak kekurangan, tidak berhutang, bahkan menengah ke atas. Buktinya kalau hidup di Indonesia, saya selalu ingat punya satu atau dua pembantu di rumah,plus punya supir sampai saya di bangku SMP. Selain di tanah air, kami pernah beruntung diboyong Papah tinggal di US, Inggris, Canada. Selama di benua Amerika dan Eropa, selalu ada bukti kenangan akan jalan-jalan menjelajahi banyak negara bagian di pelusur atlas bumi. Because of Papah,  and Mamah, we had the best childhood any kid can have, syukur Alhamdulillah.

IMG_6717.JPG

Badai itu datang.

Pivot penting di sejarah dimulai pada suatu hari Papah terbuai dengan adanya tawaran untuk pension dini dengan pesangon yang besar. Usia Papah saat itu 49 tahun, setelah meniti dan membangun karir 17 tahun di company yang sama. Saya ingat Papah pengen banget bahagiain keluarganya. Tapi saya tahu ia punya definisi sendiri akan bagaimana bentuk material dari “kebahagiaan” menurut bayangan beliau. Yakni dengan menyekolahkan anak-anaknya keluar negri (ya memang kita sebagai anak seneng banget dengan ide ini), sehingga pesangon besar meyakinkan beliau untuk mampu memodali cita-cita nya. Dengan penuh harapan, akhirnya Papah mengambil tawaran tersebut untuk berpisah dari Mobil Oil. Setelah melepaskan karirnya, Papah mulai bekerja sebagai consultant here and there, masih di industri yang sama seputaran minyak. Kontrak 1 atau 2 tahun di perusahaan ini lalu itu, pindah kontrak sekian tahun di perusahaan yang lain.

Salah satunya juga jadi kontraktor, kerja sebagai Geophysicist di Petronas, perusahaan minyak nasional Malaysia.

Saya ingat Mamah suka kuatir, karena kerja sebagai consultant itu hanya menerima service fee, alias gaji tanpa fringe benefits sehingga banyak ketidakpastian, terutama soal asuransi. Harap maklum karena 17 tahun menikmati banyak wellfare dari Mobil Oil (Exxon Mobil), jadinya ketika kondisi kerja Papah yang baru jadi berbeda dan semua kenyamanan tersebut sirna, wajar kalau mentri keuangan, mentri kesehatan, mentri pertahanan dalam rumah tangga menjadi was was. Mungkin dalam hati Papah juga merasakan kekuatiran yang sama, tapi beliau selalu memasang “persona” bahwa semua baik-baik aja dan selalu berusaha optimis.

Meskipun optimis, rupanya sedikit demi sedikit Papah mulai berubah. Sama sekali tidak kepikiran oleh kami saat itu bahwa perubahaan ini ada hubungannya dengan mental health, kirain just a normal mid-life crisis that would pass eventually.

Kami sekeluarga bisa merasakan aura atau energi yang beda dari keseharian Papah dan ini menyebabkan semua orang kesel, kadang marah. Kalau diamati, perubahan yang dimaksud itu misalkan Papah mulai lambat gerak geriknya. Hal sekecil ini aja kami rasa nyebelin, karena kami keluarga yang gesit. Jalan kaki aja relatif lebih cepet banget dibanding sama orang lain, buktinya kalau jalan sama teman-teman, pasti end-up di depan sendiri, jauh kadang-kadang jaraknya dari rombongan. Selain itu Papah mulai suka paranoid, yang menyebabkan Papah mulai kompuslif sebentar-bentar SMS atau nelpon untuk ngecek kita lagi apa, hanya saya tahapnya udah keterlaluan banget. Sebentar-bentar yang dimaksud itu tiap 5 menit. Apalagi bagi anak yang beranjak remaja, ditelpon tiap 5 menit sama orang tua itu bikin jengkel banget. Sering juga bikin malu. Contohnya ni suatu hari Papah mencoba menelpon saya yang tinggal di student-condo pas awal program matrikulasi di Monash Sunway College Malaysia. Pagi itu saya masih tidur jadi ngga menjawab telepon. Si Papah sampe parno banget sampai-sampai nelpon teman se-condo (bisa dapet nomernya aja saya heran, mungkin dari sesama orang tua yang saling kenal) yang tinggalnya di lantai berbeda buat naik ke apartemen saya, minta tolong periksa bahwa saya ngga apa-apa. Lagi-lagi saat itu saya masih remaja, perlakuan Papah yang di luar batas wajar pribadi bikin gerah dan malu karena udah ngerepotin orang lain yang bukan temen deket saya.

Another turning point appeared, setelah 2 tahun kerja di Petronas Malaysia, Papah kena redundancy, kerjanya diberhentikan, kontrak ngga lagi diperpanjang. Saya yakin ini karena employer beliau juga merasakan perubahan aneh (dan jadinya negatif) di performa Papah. Mamah saya sedih banget pas kejadian ini. Pulang ke tanah air, ade saya Nevis (Paman Nevis) sempet mengalami kesulitan meneruskan (mandaftar) sekolah di Indonesia. Kuliah saya yang terbilang mahal di Malaysia juga udah jelas ngga ada masa depannya, mau bayar dari mana coba, walaupun saya sempet stay-behind di KL untuk tinggal sendirian menyelesaikan semester yang telah terbayar.

Memori saya agak blurry, saya ngga ingat persis kerja Papah berikutnya jadi konsultan di company apa, cuman ingat selepas redundant dari Petronas, Papah mulai jadi obsesif-kompulsif (padahal simtom kompulsif udah muncul sebelumnya). Obsesinya cuman satu, pengen cari kerja (mungkin berkarir) lagi. Ngga cuma melamar kerja di berbagai perusahaan, tapi saya ingat pernah juga beliau mencetus ingin establish bisnis di bidang oil & gas sambil merangkul sahabat dan adiknya, Om Zulfadly dan Pakle Deddy. Masih teringat pernah ada beberapa sesi brainstorming atau business planning yang terjadi di ruang tamu rumah kami di Alfa Indah, saat itu. Hanya saja, gelagat Papah udah aneh. Kalau dipikir lagi, mungkin ketika itu Om Zul dan Pakle diam-diam sudah bisa mendiagnosa pola pikir atau kelakuan miring Papah. Kami menduga mereka bersikap baik menunjukkan minat sebagai bentuk dukungan sahabar karib kepada Papah. Tapi singkat cerita, bisnis ngga jalan.

Satu dampak besar yang bisa kami amati dan akui erjadi pada Papah adalah gejala Post-Power Syndrome. Bagi yang ngga familiar dengan istilah ini, Post Power Syndrome adalah gejala yang muncul akibat ketidakmampuan seseorang untuk melepaskan diri dari bayang-bayang kejayaannya di masa lalu, khususnya bila masa lalu itu sangat membanggakan egonya. Kami menilai Papah sulit menerima kenyataan bahwa ia tidak berkuasa lagi , alias ketika berpisah dari karirnya di Mobil Oil, ia tak lagi memiliki title “manager”, plus menjadi konsultan menjadikannya hanya memiliki gaji, tidak memiliki jenjang karir. Ditambah lagi kalau habis kontrak dari satu perusahaan, ada jeda menganggur untuk mencari peluang kontrak di company yang lain. Bagi orang yang “workaholic” seperti Papah, bisa dengan mudahnya merasa shock kalau tiba-tiba menganggur.

Makanya ini lesson learn banget, terutama buat kerabat yang menjalani usia emas (50an ke atas), titik tolak dari masa berkarya produktif ke masa pensiun adalah periode yang tidak sepele, harus disiapkan dengan baik supaya ngga harus mengalami stress.

Kembali ke Papah dan kami sekeluarga, ketika ujian Allah ini terjadi, ngga ada satu pun dari kami yang aware mengenai kesehatan / penyakit mental. Memang kami bisa bilang bahwa “Papah kayaknya Post Power Syndrome nih”. Namun ngga ada di antara kami yang memperkirakan atau menduga bahwa gejala tersebut benar-benar serius dan bisa berpengaruh berat ke jejak hidupnya lebih lanjut. Plus, semua itu terjadi sebelum saya dengan “tidak sengaja” diterima kuliah di UGM jurusan Psikologi, so I had no idea. Nobody did.

Kini melihat kembali apa yang dilalui Papah dan keluarga di masa lalu, kami sadar terlambat bahwa Papah pasti merasa terpukul. Apalagi mengenal beliau yang selalu pengen membahagiakan keluarga (selain mencari prestis demi memenuhi personal ego juga), cobaan Allah di hal pekerjaan dan karir pasti membuat ia kecewa karena merasa mengecewakan orang yang disayang.

Sayangnya, Papah bukan orang yang terbuka, ngga pernah seumur hidup saya inget beliau pernah curhat kalau merasakan sakit, apalagi mungkin kalau hatinya galau, sedih dan stress.

Karena hal ini juga sayangnya lagi, ngga ada satu pun dari kami yang menyadari saat itu betapa Papah pun butuh moral support dari keluarga. Jujur aja, susah rasanya dulu mau berempati sama Papah, karena kami tertutup mata dan hatinya oleh sifat-sifat “mengganggu” Papah seperti yang tadi disebut, yang mulai lambat geraknya, mulai parno ngga bisa tenang, mulai obesif kompulsif, seluruh keluarga malah sering kesel dan marahin papah saking jengkel atau saking malunya.

Kalau aja bisa memutar waktu, mungkin ini salah satu yang saya sesali, saya kurang menjadi support-system yang baik di saat Papah menanggung all the guilt for putting our family into the mud.

From there, everything went downhill.

***Bersambung***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s