Belum tenang rasanya kalau sudah berangkat dari kilometer nol tapi belum sampai di penghujung tujuan.

Dari itenerary perjalanan kami, kota pertama persinggahan liburan adalah Naples, atau di Itali disebut Napoli. Untuk mencapainya, kami terbang dari KL tanggal 22 November 2016 transit bermalam di Dubai, kemudian menyambung penerbangan ke Rome sehari kemudian tanggal 23 November 2016, lalu menumpang kereta  berkiblat ke selatan di hari yang sama, sebelum akhirnya matahari terbenam karena lelah mencemaskan apa yang kami kejar. Apa sih yang kami kejar? Jawabannya adalah cita-cita, juga mimpi yang terbentang oleh jarak dan terimpit oleh waktu.  Ciye, kenapa bahasanya jadi kaya pujangga yah.

Maksudnya gini, saya punya impian saya tularin juga pada suami. Kami mau menengok satu kordinat di bumi,  sasarannya adalah sebuah pantai, letaknya di pinggir laut pesisir selatan Italia. Dari nama nya aja, tempat ini terdengar sangat eksotis, Coastiera Amalfitana, alias Amalfi Coast. Kalau menengok gambar-gambar nya melalui media, tempat ini cantik luar biasa menakjubkan. Gimana ngga semangat jadinya kepingin berkunjung membuktikan keindahannya langsung.

Kata kaum optimis, we must always shoot for the stars. The star we’re shooting at, the highlight of our journey di Itali, adalah Amalfi Coast.

Ngga mau kelamaan penasaran, ke sana lah kami menuju sedini mungkin dalam jadwal liburan kami. Juga karena rute menuju Amalfi Coast adalah yang paling sulit mode transportasi dan karakteristik jalannya dibanding destinasi lain di agenda kami, maka diputuskan bahwa kami akan berakit-rakit ke hulu berenang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang kemudian. Bagus kan strateginya. Hahaha.

Bagi rakyat awam (menunjuk diri sendiri), menyewa private jet, helikopter atau yacht itu ide yang out of the box banget, eh maksudnya out of our budget, mana mampu maak. Jadi, sama seperti masyarakat pada umumnya, demi melancong ke bagian lempeng Eurasia bumi ini, kami perlu drive-thru di kota perantara. Ini alasannya mengapa tadi saya bilang (dalam bahasa romawi jawa sok sok puitis) bahwa so little time, so much to see, so many miles away to reach the sea. 

Primarily kereta dari Roma pasti akan touch base dengan Napoli terlebih dahulu, dari sini kita bisa naik bis atau lanjut kereta ke Sorrento maupun Salerno, dua kota di ujung yang berbeda yang merupakan awal dan akhir dari bentangan pantai Amalfi.

ss
gambar dari Google Map

Mengikuti pengalaman teman saya Anggia Cucum (check blog post yang lalu), kami memutuskan untuk menjadikan Naples home-base untuk explore laut Mediterranean.

Nah, cerita eksklusif tentang trip dan pengalaman kami yang akhirnya menyapa Amalfi Coast saya simpan dulu.

Meanwhile, keliatan seperti ini nih jejak dari kilometer nol kami di KL menuju numero di destinazione una, alias target lokasi pertama, hehehe.

route
gambar dari Google Map

Bagian terberat daripada travelling jarak jauh sama anak menurut saya adalah ketika di pesawat, kalau kurang ingat seperti apa, silakan baca postingan Hello Dubai.

Oh iya, ada yang lucu sama si Mika anak jawa ndeso. Seumur-umur di KL doi bergaulnya sama orang-orang lokal, ngga pernah sama bule. Ketemu bule biasanya sekali dua kali, seperti ketika nongkrong di café, kalaupun main sama londo, surroundingnya tetap didominasi oleh orang-orang Asia.

Nah, ketika di boarding gate KLIA mau menaiki flight tujuan eropa, udah banyaaak banget expatriate. Di situ Mika masih carefree main-main menyapa orang, sok deket, termasuk sama orang barat.Tapi begitu naik ke cabin, banyak pramugari bule Emirates yang berkulit putih godain Mika, entah kenapa ni anak takut dan tiap diajak main, doi malah siap-siap nangis matanya udah kaya kolam air mancur yang mau tumpah, sambil minta dipeluk mamanya. Tebakan saya dan suami, mungkin ia takut ngeliat orang yang make-up nya tebel, apalagi lipstick semua cabin crew warnanya merah cetar semerah logo Emirates.

Ngga hanya di pesawat, tapi sesampainya di benua Eropa ia juga sensi tiap diajak berinteraksi sama orang. Tumben sekali, ini ngga seperti tabiatnya sehari-hari yang cuek (bukan penakut sama orang) dan ganjen malah. Nah ini kami nebaknya doi takut karena bahasanya asing, padahal perbendaharaan kata yang Mika kenal cuman seputar makaroooni, fusiiiilli, spagheeeetti, dan kata-kata keriting lainnya yang kira-kira enak kalau masuk perut.

Ketibaan. Rabu, 23 November 2016

Pukul 12.50 siang.

Suhu 15° derajat Celcius.

Buongiorno Italia! Alhamdulillah perjalanan di pesawat lancar dan yang paling penting tepat waktu, selain itu kami berkumpul kembali dengan bagasi, jumlahnya dua koper, ukuran XL. Menurut aturan alam semesta, tanggal segini itu udah termasuk musim winter, penasaran juga winter di Roma bisa sedingin apa sih, paling juga ngga dingin-dingin amat menurut prediksi sotoy kami. Walaupun begitu, persediaan pakaian kami udah full throttle. Begitu kami keluar dari bangunan bandara untuk menghirup udara segar pun rasanya masih adem seperti kalau ke Kaliurang. Pakai jaket aja, saya dan suami merasa kegerahan walaupun orang-orang bule udah berpakaian lebih lebay tebalnya daripada kami.

img_6076

Kami touch down di Leonardo da Vinci-Fiumicino Airport yang letaknya di Lazio. Kalau mau ke pusat kota Rome naik kendaraan umum seperti bus atau taksi, kira-kira memakan waktu sekitar 40 menit atau sampai 1 jam. Ibaratnya seperti antara bandara Soekarno Hatta di Cengkareng dengan Stasiun kereta Gambir kalau tanpa macet, sedangkan pemandangan sampah kotornya di jalanan mah mirip sebelas-dua belas sama Jakarta.

Nah kami memilih mode transport paling cepat untuk mencapai Ibukota bernama Leonardo Express. Ini merupakan train yang menghubungkan airport dengan Roma Termini, stasiun kereta utama kota Roma.

Lama perjalanan adalah 30 menit, jadwal kereta pun tiap interval 30 menit ada. Harga tiketnya 14 Euro.

leonardo-express-overview-1
gambar dari Google

Sesampainya di stasiun Roma Termini itu bertepatan dengan jadwal konser seriosa di perut, laper buuu. Enaknya di sekitar Roma Termini banyak sekali pikihan tempat makan, mulai dari kiosk kebab Turki, kedai nasi biryani dan shawarma India, warung chinese noodle daging babi, maupun Italian restorante atau food bar umum. Tentunya kami pilih yang halal (inshaAllah ya) dan murah. Hahahhaha. Masih awal perjalanan nih, ngga boleh foya-foya (padahal sampai akhir liburan juga ngirit mampus).

By the way, kami bertiga makan satu set lunch berisi beef lasagna ukuran besar (dimakan berdua Mika aja masih kenyang) + ayam goreng + kentang goreng + air minum di Pizzeria shop (kedai makan pizza & pasta murah, banyak di setiap sudut kota). Harga 11.5 Euro.

img_6077

Selesei makan lah yang kami aga mati gaya. Pasalnya begini, beberapa minggu sebelum hari H ini, kami telah booking tiket kereta untuk melanjutkan perjalanan dari stasiun Roma Termini (Rome) menuju Stazione Napoli Centrale (Naples). Mengantisipasi segala macem alesan yang bisa mengakibatkan telat di berbagai titik (entah itu flight delay, baggage collection delay, nursing and nappy time, nyasar antara airport dan stasiun kereta, ataupun kejadian malang lainnya yang ngga kita harapkan), kami mempersiapkan jeda waktu selama 5 jam antara ketibaan di Fiumicino Airport dan kereta berangkat ke Naples dari Roma Termini.

Namun arrival kami berjalan dengan super on-time. Ini udah termasuk immigration customs dan jemput bagasi yang singkat banget ditambah makan dengan kenyang. Alhasil kami punya waktu yang turah-turah selama transit di Roma sebelum beralih ke Naples. Biasanya nih, jaman saya single usia masih 20-an, kalau ada waktu luang barang sejam aja, ngga boleh banget saya sia-siakan, selalu serakah mengikuti kemana kaki melangkah, berusaha getting lost, literally dan emotionally. Tapi saya pandai baca peta sih jadi ngga pernah secara harafiah get lost, hanya batin aja yang suka wooowww get lost-nya selama ekplorasi tiap sudut perjalanan yang baru. Ngerti kan?

Sekarang yang saya rasa, usia ngga bisa bohong. Udah usia 31 beranak satu, pas menyadari bahwa punya spare waktu 4 jam di Rome, reaksi sekarang cuman nyantai, gandengan sama suami menikmati hiruk pikik di sekitaran kami, meresapi pengalaman dan udara segar di hari yang cerah bikin senyum=sernyum bersyukur sudah di Itali, di saat yang sama, berdoa semoga waktu cepat berlalu dan kalau bisa kami ngedip, trus langsung sampai deh di Naples. Hahhaha. Soalnya inget ya, ini masih rangkaian proses untuk menuju destinasi pertama di liburan kami, masih bawa-bawa 2 koper guide, gendong anak, fisik lelah. Begitu lah.

Alasan yang sama mengapa ngambil fotonya juga dikit banget di tanggal ini, soalnya liburan nya belum mulai Bu, masih perjalanan (punten beberapa foto dari Google dulu hari ini).

Ngga duduk-duduk menyia-nyia kan kesempatan, apalagi karena di Roma Termini ngga ada tempat duduk buat menunggu, hahaha. Ga buang waktu juga, kami langsung cari penitipan bagasi. Kalau di stasiun-stasiun di eropa, luggage storage / baggage deposit itu umum banget. Di Roma Termini, harga Deposit Bagaglio selama durasi di bawah 5 jam, harga 6 Euro per item bagasi.

1-estacao.jpg

Eh eh, apa kabar Mika yah? Hehehee. Si anak baik anteng, celingak celinguk dan makan dengan lahap. Kayanya dia juga lelah pengen cepat sampai trus loncat-loncat di kasur. Tapi teteeeeup, tiap liat air mancur histeris pengen kobok-kobok main ciprat-ciprat air. Padahal kaaaaan, ni negara banyak banget kolam air mancurnya, selain banyak patung porno-nya. Kudu waspada banget deh, takut anak kabur pas ngga digendong. Kalau Bapak dan Mama meleng sedikit, bisa-bisa pas sadar udah tiba-tiba nemu Mika berendem di kolam air mancur. Jangan yah nak, dinginnnnn.

img_6078

Ada satu hal yang membuat suami saya terkesima dengan stasiun Roma Termini. Ini kesan dari suami, sekalian pengen ngasih tips nih bagi temen-temen yang berkunjung ke Roma dan harus melipir mengejar kereta dari staisun utama kota ini.

Pertama, stasiun Roma Termini kurang passenger maupun passer-byfriendly. Dulu tahun 2011 saya kesini masih bisa menemukan bangku-bangku tempat duduk untuk menunggu. Tapi kali ini saya ngga lihat ada bangku sama sekali, kecuali harus duduk nongkrong di café sambil beli capuccino dulu.

Kedua, ngga banyak pusat informasi. Sebenernya ada tanda petunjuk dimana kita bisa menemukan kiosk informasi, tapi sedikit, dan letaknya ngga strategis di tengah/depan/samping/belakang pusat kesibukan sepur (lah, jadi dimana dong? Exactly! Bingung kan). Jadinya bagi non-warga Roma, bisa membingungkan mau cari orang yang bisa ditanyain. Akhir-akhirnya lebih mudah nanya sama stranger. Itu pun mudah kalau orang yang ditanyain bisa bahasa inggris, kalau doi cuma bisa bahasa Itali, malah nambah pusing pala barbieee. Jadi kita harus mandiri, mana-mana (?) sendiri.

9739010352_93db990f35_b
gambar dari Google

Ketiga, harus selalu tanggap informasi jadwal boarding kereta di papan informasi yang super gede ngalah-ngalahin ukuran iklan billboard di jalan tol (eh, masa sih? Mungkin saya lebay). Apalagi dikarenakan poin yang nomer 2 di atas. Untuk mengetahui kereta kita di jalur berapa dan boardingnya pukul berapa, leher harus aga disokong soalnya pegel juga liatin papan informasi di tengah stasiun. Penting juga, terkadang celah waktu antara papan mengumumkan kereta kita ada di jalur berapa, dengan boarding time itu singkat sekali. Contohnya, jadwal kereta berangkat ke Naples itu 18.30. Baru pukul 18.17 si papan mempertontonkan Nomer Jalur nya, jadi kita punya 13 menit buat jalan kaki, padahal, jalurnya banyak banget (ada dua puluhan), plus keretanya panjang banget sampe 9 coach. Jadi inget pas di Paris 2 tahun lalu mau ke Amsterdam sama suami, kondektur keretanya sampe nyuruh kita lari pas boarding (padahal kita udah hampir-hampir jogging, masih juga diteriakin duruh lari) supaya ngga ketinggalan kereta.

Sekian tips dari suami, makasi ya Pak nambah-nambahin isi posting hari ini, jadi panjang bener. Sun dulu!

Ngomong-ngomong, dua tahun lalu pas diteriakin kondektur suruh lari itu pas kita wedding anniversary pertama di Paris ya. Hehehhe. Tepat 2 tahun lalu. Dan tanggal 23 November 2016, ulang tahun perkawinan yang ketiga. Happy anniversary Bapak Freddy. I love you.

Wedding anniversary yang kedua itu paling romantis loooh, dimana coba? Di Jogjaaaa, pas cuti melahirkan, merayakan nya dengan maem bakmi jawa sibitsu di rumah suap-suapan, disambi nenenin anak. Hahaha, romantis banget yaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s