Assalammualaikum. Home Sweet Home!

Yeahhhhh. Alhamdulillah saya, suami dan Mika sudah sampai KL kembali, semalem tanggal 4 Desember pukul 6 tiba di rumah dari bandara KLIA dengan perasaan yang riang gembira, penuh syukur karena kami bertiga dalam kondisi yang sehat dan bahagia setelah home-run 2 minggu berpetualang dalam Roman Holiday ala Audrey Hepburn, ehehe, ngga deng.. Maksudnya setelah liburan di Itali pas cuacanya dingin brrrrr hingga sempat mencapai 4 derajat celcius bikin idung meler. Ini bagi kami yang berasal dari negara tropis itungannya udah super winter. Wonolelo dan Kaliurang kalah adem, wis.

IMG_5956.JPG
nih di anak kecil pas bapake nungguin bagasi di bandara

 

Banyak teman kami yang nanya, kenapa Itali?

Soalnya banyak kota dan desitnasi menarik yang bisa dikunjungi di negri asalnya pizza, pasta dan pemain bola ganteng. Bayangin Florence, Venice, Tuscany, Sicily, Roma, Milan, Cinque Terre, Lake Como, Turin, Pulau Capri, Menara Pisa. Listnya panjang, sayang nya ngga cukup di-explore dalam jangka waktu cuti saya.

Namun, ada cita-cita pribadi sejak pertama pernah ke Itali di tahun 2011, yaitu pingin sekali mengunjungi Amalfi Coast. Guess what? Alhamdulillah one of my dreams came true. Meletup-letup kembang api di dada. Lebih istimewa lagi karena mimpi saya megunjungi spot indah menakjubkan di Teluk Salerno ini terwujud sambil ditemani suami dan anak tercinta. Rasanya seneeeeeng banget kaya pelangi warna warni seger di hati, bikin senyum-senyum sendiri menikmati ciptaan Allah.

IMG_5335.JPG

InshaAllah the tale of the hassle-free busy-bee family-of-three ini nanti saya ceritakan di blog, satu per satu, hari demi hari. Hehehe.

Meanwhile, ini dia jejak liburan kami selama 11 hari di Itali, dan sedikit sneak peek koleksi fotonya sebelum laporan hariannya muncul:

  • Naples (home-base untuk mengunjungi Amalfi Coast)
  • Amalfi Coast yang terbentang melewati Sorrento, Positano & Amalfi town
  • Milan
  • Rome + Vatikan

IMG_5110.JPG

IMG_5972.JPG

Hah, setelah ditulis, ternyata hanya sedikit ya destinasi yang kami kunjungi. Tapi percaya ngga percaya, rasanya banyaaak banget yang dilewati. Apalagi kalau bawa anak, hahaha.

Ofcourse ngomong-ngomong soal anak, sempat salah satu sahabat saya, Dita, bertukar pesan whatsapp selagi kami masih di Milan, ia nyeletuk “Asik ya jalan-jalan bawa toddler”.

Seketika saya ingat percakapan pas chatting sama Ibu Gadizsa meminta tips-tips membawa anak ke Europe. Sasa cerita walaupun seru dan asik, tapi ia “trauma” bawa Alesha, putrinya yang saat itu usianya 7 bulan, ke luar negri dan kalau mau mengulanginya lagi, mending nunggu sampai doi usia 2 tahunan.

Aseli, saya setuju. Seru banget bawa anak, apalagi Mika super lucu dan gemesin banget polahnya, setiap hari ada aja kelakuan dan perkembangan nya yang baru, terutama ngga pernah nyusahin kami berdua. Walaupun begitu, tetep ngga bisa disangkal kalau bawa bocah usia hampir 16 bulan bepergian jauh itu tantangan luar biasa, Masya Allah.

IMG_5698.JPG

Bener-bener salut nengok pasangan muda via Instagram yang menjelajahi dunia bersama keluarga kecilnya berisi bocah2 cilik. Pernah malah melihat ada Single mother bule orang Australia yang berpetualang ke pelosok Indonesia (dimana orang lokalnya tidak bisa berbahasa londo, permisa) bawa 2 anak toddler sambil hamil anak yang ke-3. Buseh, ngga kebayang tu kabarnya, mungkin kaya tur sirkus.

Setelah saya menjalani langsung perjalanan ke Eropa bertiga dengan suami dan anak, kesan dan pesan pribadi saya begini… Yakni waktu yang tepat untuk membawa anak jalan-jalan overseas, especially to a place with extremely opposite weather characteristics than our country of origin, adalah either pas anak masih ASI ekslkusif usia kurang dari 6 bulan, ATAU pas anak udah disapih dan pinter makan (kalau niat melepas ASI dan menyapih pas usia 2 tahun, ya jalan-jalannya setelah itu). Alesan nya akan muncul di bawah nanti.

IMG_5821.JPG

Oke baiklah. Selain pesan dan kesan, ini beberapa…


Tips
Perjalanan Panjang Liburan Keluar Negri di Musim Dingin/Winter, With or Without Anak Bayi

Hehehe, punten yah tipsnya hadir duluan sebelum jurnal dan dongeng petualangan kami. Ini demi memenuhi request Ibu Novi Kumalasari yang sebentar lagi mau plesir entah kemana yang adem, supaya saya sharing pengalaman pribadi mapun teman-teman yang juga pernah bepergian di konsidi yang sama.

Pertama. Wear layers.

Udah pasti hukumnya di setiap blog atau travelling site, semua penulis akan menyarankan untuk berpakaian mengikuti prinsip mengupas bawang.

Daripada mengenakan satu tebal dan satu jaket super tebal, pakailah kaos on top of kaos. Jadi kalau suhu mendadak naik atau turun karena perubahan cuaca yang tak terduga, bisa lepas dan pasang satu atau dua lapis, menyesuaikan level kegerahan dengan flexibel. As a base supaya memastikan tetap hangat, daleman bajunya pakai thermal, atau long john.

img_5923

Kedua. Don’t overpack (or also underpack) clothes. Be mindful of your needs.

Ini berlaku bagi orang dewasa maupun bayi. Kecenderungan orang tua pasti berkemas yang berlebihan buat anak, dengan pertimbangan “just in case” jaga-jaga kalau kekurangan baju ganti.

Ini terjadi sama Mika, saya packing banyak banget baju luaran. Nyatanya banyak yang ngga terpakai. Soalnya ada beberapa jenis pakaian yang bisa dipakai berulang sampai 3 hari, misalnya jeans, outer shirt dan sweater.

Yang rajin diganti biasanya baju singlet daleman (bau asem pun ngga, karena cuaca dingin anak ga gampang berkeringat). Atau celana tights yang langsung bersentuhan sama popok, kalau pipis atau pupi yang bau ya hanya ini. Sedangkan celana cargo, jeans maupun cardigan bersih terus, asal ngga kena gumoh atau jatoh ke kubangan air/tanah. Hehehe.

Jangan lupa kalau selama di negara yang dituju, kita bisa mencuci baju di kamar mandi hotel, atau laundry kiosk. If you’re leaning towards a light-packing and clean-baggage travelling, pasti akan milih mencuci.

IMG_5521.JPG

Ketiga. Bring more of what you can show off.

Masih berhubungan sama poin kedua. Kalau pun mau bawa berbagai ragam lebih dari 2 biji, bawa lah yang kita kenakan paling luar demi foto yang ber variasi. Penting ini, ya kan?

Ngga guna gonta ganti sweater kalau tiap di foto selalu tertutup jaket winter yang itu-itu aja. Supaya kita tampil berbeda di dokumentasi liburan tiap harinya, perbanyaklah ragam luaran seperti jaket/coat, atau akseosri kecilnya seputar syal & topi kupluk. Nah, ruang di koper mending dipake buat ini. hehehe

img_5599

Keempat. Diapers.

Buat anak bayi, silakan ditimbang mau full atau partly equipped bawa popok dari rumah, atau mau beli ketika di destinasi. Tadinya untuk Mika, saya dan suami nyantai untuk bawa sedikit aja dari KL, supaya nantinya beli pas di Dubai atau Itali. Lalu tetangga baik kami semua menyarankan untuk bawa aja stock 2 minggu. Untungnya kami mengikuti nasehat mereka, karena di luar perkiraan, rupanya popok bayi di negara yang berbeda walaupun brandnya sama, tapi ketebalan nya berbeda darpada yang biasa dipakai oleh Mika di KL. Semua yang kita dapati ketika di Dubai dan Itali lebih tipis, dan lebih kasar. Di samping mementingkan kulit lembut pantat anak supaya senantiasa klop dengan popoknya, ada juga keuntungan mengemas full stock dari sejak berangkat. Jadinya hari demi hari isi koper berkurang sehingga lahir lah space alternatif untuk diisi dengan oleh-oleh. Hore.

IMG_5396.JPG

Kelima. P3K.

Importante! Ini harusnya nomer satu sih, kudu pronto! Selalu bawa obat-obatan pribadi, buat bapak ibu sekalian maupun buat anak. Khususnya preventive care yang bisa menghangatkan dan menjaga supaya ngga sakit seperti vicks vaporub buat gosok-gosok punggung dan dada, minyak telon. Lipbalm perlu sekali karena cuaca dingin, pasti kulit dan bibir akan kering dan kaku. Baby lotion supaya mecegah kulit bersisik kaya buaya, hiiiiii.

Masukan dari Sasa juga nih, bagi yang punya riwayat medis khusus, atau cuma ingin jaga-jaga takut symptom yang aneh-aneh muncul ketika berlibur di situasi dan kondisi yang asing buat tubuh, disarankan untuk konsultasi dengan dokter dulu, minta masukan kira-kira harus bawa obat apa.

IMG_5322.JPG

Keenam. Figure out what your baby likes to munch on, and discover meal stations.

Inget kan kesan dan pesan saya di atas tadi mengenai masa paliiing enak (kira-kira) untuk bawa bayi travelling.

Kalau anak masih full ASI di bawah usia 6 bulan, cukup nenen dari tete aja non stop kalau anak rewel atau laper. Nenen anytime anywhere in public space is not a problem asal kita bisa nyaman mengatur pose (dan pakaian) kita, hehehe. Di lain sisi kalau anak udah bisa makan solid dan disapih, kita ngga perlu ribed dituntut double trouble, alias minta ASI iya, tapi laper kudu makan juga iya.

Sedangkan ketika di antara usia 6 bulan – 2 tahun, kita sebagai orang tua kudu pusing mikirin anak makan apa. Ditambah lagi sebelum usia 2 tahun, anak kadang belum bisa solid food yang bentuknya semantap makanan orang dewasa, alias harus yang lembut. Seperti anak saya Mika, ia sensitif dengan tekstur yang chunky, jadinya sering gag reflex dan muntah sebanjir-banjirnya kalau kemasukan bongkahan makan yang besar tapi lupa dikunyah (mau dikunyah pun ga bisa sempurna karena gigi belum lengkap, geraham baru tumbuh satu). Ini hal yang bikin mikir tiap hari, Mika makan apa ya….

Nasib baik, baru belakangan ini ketika menginjak usia 15 bulan Mika mulai bisa mengunyah dan menelan dengan lancar. Latihan makan pasta selama 1 bulan di KL sebelum berangkat ke Italia juga berbuah manis, doi doyan pasta apa pun yang kami beli selama plesir. Fufufuuuu…Terimakasih nak, ngga ada adegan mogok makan selama di sana, walaupun frekuensi makannya berkurang, yang harusnya 2 – 3 kali sehari, Mika kadang2 cuman skali shari yang makan besar, sisanya ngemil ini itu, doi doyannya yang asin seperti cracker. Langsingan dikit gapapa ya, masih mancung ko perutnya hehhee.

img_5658

Ketujuh. Research if X destination is stoller friendly.

Yakin mau bawa stroller? Hehehe. Bagi saya dan suami, kami yakin TIDAK bawa. Karena alesan yang telah dipaparkan di postingan saya yang judulnya Hello November.

Kami anti ribed.

img_5370

Kedelapan. Leave the Amazing Race, always be playful

Pesan bagi orang tua yang sudah punya anak, ngga usah ambisius mengatur itinerary “harus sempet ke sini, ke situ”. Manage your expectation.

Jangan lupa yang penting adalah waktu istirahat anak, apalagi anak bayi, stick to baby’s routine and nap time. Finally, selalu sempatkan waktu bermain, berlari, loncat-loncatan, kejar-kejar burung, tiduran di rumput, menatap langit biru dan memandangi awan yang berkapuk di udara sambil bergandengan tangan sama suami dan bersyukur dalam hati.

img_5649

Mudah-mudah bermanfaat ya. Selamat berlibur. Salam sun.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s