Saya diminta untuk menyebutkan 3 hal paling penting untuk travelling ke luar negri selain item default sehari-hari yang mengikuti rutinitas kita seperti handphone berkamera, dompet dan passport.

Siapa yang minta nyebutin? Benak saya sendiri, hahaha, apalagi dalam rangka mengabsen ulang isi koper liburan. Jaman belum punya anak, udah tentu kebiasan packing bisa dikerjakan last minute. Tapi sekarang perdana mau bawa anak ke Europe dan ke musim yang belum dikenal olehnya, harus menyusun barang dengan teliti jauh-jauh hari. Kalau bisa barangnya disuruh baris upacara yang rapi supaya keliatan mana yang ngga bawa topi atau dasi, eh maksudnya mana barang apa yang masih perlu dilengkapi. Pengeeen banget saya bisa cukup ngedipin mata, terus semua uda beres di dalam koper. Triiing.

Bagi saya, ini lah dia 3 barang super penting tersebut:

  1. International Multi Plug adapter
  2. Mata uang lokal di negara yang kami tuju, dan
  3. My travelling shoes (jamak nih sifatnya. Yes betul, harus bawa lebih dari satu alas kaki)

Demikian list nya. Tapi seperi biasa saya mau berdongeng. Ceritanya berhubungan dengan essentials di atas. Selain supaya pengalaman hidup saya bisa diingat dan ngga menguap gitu aja di udara, tapi juga agar inshaAllah bisa jadi manfaat bagi yang baca.

Sambil flashback, April tahun 2011 adalah awal mula saya dikirim assignment kerja dan tinggal di luar negri, Mama saya memberi bekal hidup yang kekal di dalam jiwa. Bekal hidup pertama adalah nasehat untuk selalu ingat sama Allah dan untuk tidak pernah meninggalkan ibadah shalat. Bekal yang satunya adalah wejangan untuk selalu membawa colokan multinasional, alias adapter listrik untuk travelling yang bisa dicolok oleh alat elektronik berkabel dua kaki bulet, dua kaki ramping, tiga kaki lebar, ataupun tiga kaki sempit. Jadi bisa compatible dengan alat elektronik apapun.

Sebelum berangkat mengembara jauh dari keluarga saat itu, saya inget banget Mama sampe nemenin ke Ace Hardware buat beli coblosannya, warna orange, merk Krisbow. Hiks, terimakasih Mama my hero canggih. Hingga kini setiap saya travelling buat bisnis ataupun plesir, ini benda wajib ikut ngga boleh ketinggalan, karena di setiap negara jenis stop kontak nya beda-beda. Bisa mati gaya kalau bepergian tapi ngga bisa ngecharge gear elektronik dikarenakan lupa membawa international multi plug adapter. Kalau tinggal di hotel berkelas, pasti bisa disediakan sama hotel sih. Tapi kaaan, sejak kapan saya mampu tinggal di hotel mewah selain pas dibayarin kantor. Sedangkan kalau jalan-jalan pake sponsor diri, ga jarang milihnya akomodasi Guesthouse atau Bed & Breakfast yang colokan listrik ala kadarnya. Tahun ini si Krisbow orange rusak. Akhirnya saya dan suami beli yang baru, kali ini dilengkapi dengan colokan USB. Asek.

Untitled.jpg

Cerita soal mata uang lokal, semua orang pasti udah ngerti harus bawa local currency. Meskipun itu udah pengetahuan umum, saya tetep punya true story tentang what can possibly go wrong when you don’t prepare your travel well. Kisah ini terjadi pda seorang kolega di kantor ketika saya trip bisnis dari Dubai ke Islamabad, ibukota Pakistan di tahun 2013. Banyak sekali lesson-learn yang bisa dipetik, monggo dinikmati. Once upon a time

Waktu itu bulan Oktober, saya berangkat dari Dubai bersama 2 orang rekan dari divisi HR yang berbeda, 1 orang laki-laki berasal dari Rusia namanya Viktor (yang ini nama asli). Satu lagi perempuan berasal dari Iran, sebut saja ia Bunga (yang ini namanya fiksi soalnya mau ceritain kecerobohannya nih, punten ya)

Saya dan Viktor kerja separo hari aja, kemudian izin kepada manager kami masing-masing untuk ciao awal karena harus mengejar flight siang ke Islamabad via Karachi menggunakan Emirates airline di siang bolong. Sorenya sudah touchdown, dan sempat Je-je-es.

img000.jpg

Sedangkan Bunga take off menggunakan maskapai yang berbeda, Pakistan airlines, lebih malem jadwalnya karena ia niat menyelesaikan urusan kantor.  Walhasil ia mendarat di Islamabad sudah tengah malam. Kebayang pasti lelah banget tiba malam hari setelah seharian kerja. Namun kemudian Bunga ngga dikasi lewat atau keluar dari airport oleh petugas imigrasi di bandara. Pasalnya Bunga luput untuk mengurus visa dari Dubai. Ngek. Kalau main sepak bola, ini udah bukan kartu kuning lagi, tapi kartu merah!

Pesan cerita #1: Selalu pastikan apakah kita butuh visa untuk masuk ke negara tujuan atau ngga, plus jenis visanya bisa diurus on arrival atau harus apply in advance.

Setelah terjebak 2 jam sampai dini hari, akhirnya Bunga dibebaskan masuk officially ke negri berbahasa Urdu ini. Tapi Bunga sungguh tidak beruntung, rupanya bagasi travelling tertinggal di Dubai, yang ini kesalahan dari pihak maskapai penerbangan. Padahal termasuk di dalam koper adalah celana dalem dan beha-nya Selain itu, ketika berjumpa pagi harinya, ia cerita selama perjalanan 3 jam di atas pesawat, AC di kabin bagian belakang mati, cuman ada blower macam angin sepoi-sepoi. Astagfirullah.

Pesan cerita #2: Jangan silau oleh murahnya harga tiket pesawat terbang yang ditawarkan airlines lokal. Pastikan review atau reputasi servisnya sesuai standar kita.

Pesan cerita #3: Kalau bepergian hanya 2-3 hari, ngga usah ribed dan genit bawa koper, bawa backpack aja sehingga tidak ada resiko tercerai dari luggage. Tidak semua tali kasih yang terpisah di dunia ini selalu bertemu kembali dalam happy ending.

Pesan cerita #4: Kalaupun terpaksa harus bawa bagasi, jangan lupa bawa pakaian ganti minimal di dalam ransel/tas yang ikut diri dan ikut masuk kabin.

Pagi berikutnya saya sarapan dengan segar harum dan bahagia, di sisi lain Bunga kumel karena ngga ganti baju dan ngga pake deodoran plus make-up (untungnya tetep cantik banget, ngga kaya saya). Hari itu kami melaksanakan tugas presentasi dan meeting seharian penuh di Base dilanjut dengan dinner.

IMG_0322.JPG

IMG_0326.JPG

IMG_0343.JPG

Ingat, Bunga masih pakai baju yang sama semenjak berangkat dari Dubai. Selepas agenda kami selesai pukul 9 malam, ia sudah ngga tahan lagi berbalut pakaian (apalagi pakaian dalam) rally 2 hari 2 malam sehingga ia minta kepada supir guide kami supaya mengantarnya ke mall, mau berbelanja busana. Sempat bingung dengan request Bunga, ternyata kata pak Supir ngga ada mall di ibukota Pakistan saudara-saudara. (Itu tahun 2013. Tapi sekarang udah ada 1 mall kecil di Islamabad, buka tahun 2014).

IMG_0339.JPG

Jadinya Pak Supir nganter doi (beserta saya dan Viktor yang terpaksa ikut karena satu mobil) ke sebuah toko serba ada. Saya bosen di mobil, jadi lah ikut masuk toko, sedangkan Viktor bete nungguin mba-mba belanja jadi ia di luar merokok. Toserba yang kami jarahi mungil. Jangan bayangin kaya Mirota Kampus di deket UGM Jogja, itu mah udah mewah banget bandingannya. Ini sumpah kecil banget, tapi serba-ada nya bersyarat, yakni sesuai kesukaan yang punya toko. Mulai dari celak mata (eyeliner berbahan henna), sabun, shampoo, buku teka teki silang, peralatan dapur, sandal jepit, daster, singlet, beha jumbo, celana dalem jumbo. Sepertinya yang punya toko ngga suka t-shirt atau sempak supermodel-size, jadi ngga ada deh barang tersebut. Padahal si bunga nih bertubuh mungil, seperti saya lah. nyeheheheh.

Duh, nasibmu Bunga, cantik-cantik tapi oneng dan apes luar biasa. Belum sampai jatuh di ujung jurang ini kisah Bunga, pas mau bayar sambil lemes membawa cawet dan piyama size XL, doi mengeluarkan mata uang AED (United Arab Emirates Dirham). Rupa-rupanya karena mata uang Pakistan yang ia tukar di money exchange sebelum travelling ia simpan dalam koper. Inget kan kopernya tertinggal dimana? Biar begitu, semangat Never Give Up nya tinggi, Bunga tetap memohon supaya duit asing di tangannya diterima oleh si kasir. *&%$$& ???? For real mba? Ling lung nya keterlaluan. Ya jelas tokonya ngga diterima currency AED dong, USD aja juga ngga kali. Udah super kasian tapi campur gemes banget, saya pinjemin deh duit Pakistani Rupee, supaya semua pihak bisa cepat kembali ke hotel dan tidur.

Moral of the story: Siapkan mata uang lokal dengan bijak (dan banyak kalau bisa, hehe) di tempat yang baik . Kalo nasehat Mama saya, duit dan kartu-kartu penting dipencar-pencar letaknya. Jangan semua di satu dompet seperti pepatah Barat: never put all your eggs in one basket. Duit harus selalu ada yang hand-carry, ada juga yang disimpan di koper. Kartu kredit pisahin dari kartu atm. Kalau dicopet jadi ada back up, ngga semuanya hilang.

Mumpung baru sharing soal trip saya ke Pakistan, saya mau pamer dulu ah foto-fotonya ketika dinner di Margalla Hills, perbukitan di kaki gunung Himalaya. Kalau malam pemandangannya cantik liatin lampu kota di bawah bagaikan karpet penuh bintang, seger banget hirup udara dari gunung Himalaya, ciyeh. Hidung rasanya plong kaya baru ngemut permen Polo. Udara sejuk, makanan enak. Selain alamnya yang hijau dan subur, ngga ada apa-apa yang menarik di kota Islamabad ini. Sebagai ibukota negara berkembang, kota ini nampak jauuuuh terbelakang dibanding ibukota wonderful Indonesia.

IMG_0250.JPG

Boro-boro mall, showroom mobil aja ngga ada. Mobil di sana masih kotak-kotak bersudut, banyak banget truk warna warni yang dicat dan dihiasi lampu cetang cetung disko kaya angkot-angkot di Balikpapan. Ngga lihat ada gedung bertingkat, kecuali satu atau dua hotel mewah (ini pun mentok 10 lantai). Mungkin karena saya ngga eksplor pusat kota ya, kali-kali sebenernya ada kesibukan ala minipolitan di alun-alun Islamabad, Wallahu’alam, who knows. hehehe.

o.jpg

Teman baik saya seorang engineer asal Pakistan, namanya Jay, dulu jadi expat yang tinggal di Balikpapan ketika saya masih kerja di Kalimantan. Selagi saya bisnis trip yang singkat di sana, Ia sempat jemput dan membawa saya keliling kota jam 11 malem bersama istrinya naik mobilnya yang mewah, belinya harus inden. Tadinya dia mau pamer masjid termegah kebanggaan Islamabad bernama Faisal Mosque. Sayangnya, pas lewat masjid yang emang besar banget itu lanjut keliling kota satu jam sampai saya pulang lagi ke hotel, seluruh kota mati lampu, yang mana kata si Jay adalah hal biasa. PLN nya Pakistan kaya di Balikpapan aja sering mati lampu, bedanya bukan bergilir tapi berjamaah. Kalau boleh mencoba gambarin suasana dan sensasi singgah sebentar aja di Pakisatan, itu bagaikan jalan-jalan ke Muntilan di siang hari, terus sore sampe esok paginya sudah berada di Wonosobo yang asri dan adem.

P1100153.jpg

Oiya, cerita soal essentials yang terakhir bagi saya, sepatu. Ada kan pepatah lagi-lagi dari Barat good shoes take you to good places. Say no more, pakailah your favorite most comfy travelling shoes.

Tips nya kalau punya sepatu baru, jangan disimpen lalu baru dipakai pas travellingnya mulai. Melainkan mulai dipake jauh-jauh hari sebelum berangkat, biar antara kaki dan sepatu udah pe-de-ka-te saling mengenal maka saling sayang, sehingga pas jalan-jalan ngga bakal lecet ataupun pegel.

Selamat mencoba sepatu baru. hahahhaha

x

4 thoughts on “Essentials for Travelling Abroad & my flashback to Pakistan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s