Gitar yang saya miliki sejak tahun 2012 sudah lama berdiri di pojok ruangan, pakai sarung, warna hitam. Lamaaa sekali ngga disentuh atau dimainkan. Terakhir kali senarnya saya petik itu ketika perut sudah mancung banget, seolah-olah ada dome planetarium melekat di atas panggul saya. Alias pas hamil besar. Ga jauh sebelum hari-hari menanti Mika lahir, sempat saya nongkrong di samping kolam renang apartemen sembari genjreng-genjreng. Ketika itu, meluk instrumen nya aja susah banget sampai nafas ngos-ngosan, ngga mampu nyanyi di saat yang sama memainkan gitar. Tapi kalau minta suami yang nyanyi, jelas bukan ide yang bagus karena resiko nya tinggi sekali bagi nya untuk menggoyahkan keharmonisan alam semesta dengan suara yang meleset satu-dua not (mungkin lebih dari satu-dua malah). Heheheh. Jadi saya biarkan suami bebas berenang dan angkat-angkat aja.

IMG_4633.JPG

img_1210

Baru 15 bulan setelah melahirkan, akhirnya saya bersilaturahmi lagi dengan alat musik bertubuh sexy. Gara-garanya adalah kepancing oleh live performance pop-up band (kaya pop up store gitu ceritanya) yang tampil di Avenue K mall KL. Mall ini adalah jalur saya pulang dari kantor setiap hari untuk menuju ke stasiun kereta (LRT). Di lantai mall tersebut sebelum turun ke subway tempat coach kereta berlalu menghantar jemput lautan manusia, ada satu space yang didekasikan untuk pekerja seni musik supaya tampil menghibur khalayak ramai. Asal ada seniman yang mau tampil, tinggal booking waktu kepada manajemen mall untuk bisa perform, dan mereka dibebaskan buka “kotak apresiasi” berupa topi, ember, cover gitar, ataupun celengan, ala ala street artist sehingga kerumunan setempat bisa menyalurkanp penghargaan mereka terhadap hiburan instan sebelum melanjutkan perjalanan hidup masing-masing.

Seniman yang pamer suara beragam. Ada yang dari generasi eyang saya alias bapak tua (atau kakek sih, kalau se-peer group sama nenek saya) yang suaranya merdu sekali, senengnya nyanyi lagu-lagu the Beatles atau Bee Gees. Ada juga band Malay yang sukanya membawakan hits-hits Melayu . Banyak juga band Indonesia yang bawain tembang dari generasi 90-s dari jaman saya muda seperti Dewa 19, Once, Ada Band, Padi. Di kesempatan lain, solo performer yang fals minta ampun juga banyak, walaupun yang tampil ko ya pede selangit, nyebelin tapi salut deh, boleh dipuji keberaniannya.

Rutinitas saya ketika lewat bagian kecil dari mall tersebut adalah membeli koin di mesin ticket LRT, sambil melipir ke kedai curry puff untuk jajan cheesy sausage buat suami, kadang-kadang harus mampir supermarket di ujung lantai tersebut buat beli roti. Proses tersebut biasanya memakan waktu 2-3 menit, cukup untuk menikmati satu lagu sebelum saya turun ke underground mengejar kereta pulang. Suatu hari di penghujung minggu lalu pas saya menjalani ritual wajib, eh ada seniman yang ngga tau ganteng apa ngga (secara pake kacamata hitam di dalam mall. ini juga ganggu banget lihatnya, tapi yowis gapapa), tapi suara nya ganteng maksimal. Udah gitu, ia nyanyi lagi Fix You by Coldplay, my all time favorite band. Mendengar persembahan si abang bersuara ganteng, saya merinding terbawa suasana. Singkatnya, a song can bring you to many places. And so, I was reminiscing moments. Ini lah yang kemudian bikin saya gatel kepingin buka sarung gitar lalu mengelus dan bermain sama alat musik sendiri. Hehe, kenapa jadi kesannya jorok ya. Ya gitu lah asal muasal nya.

img_4454
Kepala Pundak Lutut Kaki

Di sisi lain saya baru kepikiran untuk membongkar keberadaan si alat musik di rumah supaya mulai mengenalkannya kepada Mika. Anak saya itu cool banget, kalau diajak nyanyi sukanya senyum-senyum doang, atau memperagakan liriknya. Misalkan saya bersenandung lagu Kepala Pundak Lutut Kaki, Mika seringkali hanya cengar cengir pegang kelapa, mata, hidung, mulut, dan bagian tubuh lainnya yang disebut di lirik lagu yang lengkap. Ngga pernah sambil joget. Padahal ada pepatah yang berbunyi baby is born to boogie. Hahaha. Rasanya gemes banget kalau menengok postingan teman-teman yang anaknya seumuran Mika, meraka suka geal geol goyang tangan, goyang pantat, goyan dombret. Sedangkan Mika mah jaim. Oke. Dalam rangke nge-tes dan ingin melihat minat anak saya terhadap musik, saya keluarkan senjata rahasia saya dari kurungannya selagi saya berduaan sama Mika di rumah sementara Bapak pergi fitnes di gym. Jjreeng jreeeeng, Assalammualaikum gitar! Hahahah.

img_4613Reaksi pertama Mika kocak abis, ni anak agak lebay kalau melihat objek baru yang tidak dikenali kalau bentuknya bukan manusia. Apalagi karena benda asing buat Mika tersebut duduk di pangkuan saya, di luar dugaan Mika malah cemburu. Hahaha. Ternyata bisa ya anak bayi cemburu sama gitar daripada sama makhluk hidup. Awalnya Mika “ah oh ah oh” terus, protes sambil nunjuk-nunjuk gitar, kemudian tangannya lurus kesamping dengan jari telunjuknya memberi instruksi supaya saya pindahin tu gitar dari pangkuan saya. Selepas saya pindahin ke sofa, Mika lalu cepat-cepat mengambil posisi di pangkuan Mamanya, duduk sampai lama, pakai nyender-nyender manja, memastikan ngga ada ruang yang bisa di share dengan apa pun (bukannya siapa pun dong). Ini respon yang serupa kalau saya lagi dipeluk mesra atau didekap sok-sok posesif sama suami, biasanya Mika langsung jealous ngga terbendung sampe teriak marah-marah. Hahahhaha, ngga kuku naaak, kamu lucu banget.

img_4614

Alhamdulillah ngga lama setelah makan siang, saya ajak Mika untuk main gitar lagi, lama kelamaan anaknya bisa nrimo dan berdamai dengan kegalauan hatinya. Mungkin ia baru sadar kalau si gitar ngga bisa meluk balik, jadi Mamanya ngga bakal direbut, hatinya pasti sudah tentram. Malah anaknya ikut penasaran pegang-pegang senar dan menggebug gitar saya seolah-olah main perkusi,sok asik tapi lengah mengikuti irama kaya Bapaknya, haha. Hampir juga iseng memasukkan bullpen dan handpohone saya ke lubang resonansi. Kenapa jadi anarkis begini sih naak, ampun.

img_4610

Bagian cerita nge-tes apresiasi anak terhadap musik, sekian adanya.

Malam tadi, sehabis nyuapin Mika dan makan bersama suami, kami nyalakan televisi. Sementara acara di tivi malem itu adalah The Voice, Mika tetap asik baca buku di pangkuan saya diselingi kesibukan berantakin Tupperware atau flash card.

Sekalinya melirik sekilas ke arah TV, Mika melihat banyak penonton bertepuk tangan, ia langsung menanggalkan semua atribut yang tengah digenggam untuk sok asik  ikutan memberi applaud sambil cengar cengir ketawa lebar . Highlight nya, ketika melihat peserta the Voice nyanyi pakai microphone, tiba-tiba Mika lari menculik remote control tivi bergaya pura-pura nyanyi, hahahahhaha. Ternyata lumayan tanggap sama musik. Atau mungkin sekedar imitasi ala Monkey See Monkey Do. Gapapa nak, selamat Anda super menggemaskan! Selamanya imut dan gemesin gini ya naak. yah, yah, yaaah. MUAH.

IMG_4607.JPG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s