Puji syukur bagi Allah pengatur semesta alam, bulan November akan semakin manis karena ada makhluk kecil yang baru saja hadir menambah headcount keluarga kami. Horeeeee, Alhamdulillah ponakan perempuan pertama saya trah Eyang Herry Andiarbowo dan Nin Tita Nandrajati telah lahir, hari Minggu lalu tanggal 30 Oktober 2016. Selamat buat Paman (sekarang Ayah) Nevis dan Mama Linda. Warm welcome nya di Intagram betul-betul thrilling campur mengharukan banget, kaya efek di film science fiction bacanya. Di hari lahir Himma yang brojol di waktu pagi, ade saya langsung telfon ke KL malemnya untuk bercerita soal proses persalinan yang ditempuh Linda. Kesan mereka satu, horor. Kami yang menyimak kisahnya -sambil terpaksa membayangkan dan mengingat proses melahirkan Mika dulu- juga ikut mules lemes. Hahahaha.

Ini dia fotonya princess perdana di generasi ketiga keluarga Eyang Herry… Kalo princess di generasi kedua? Ofcourse saya dong, the one and only pretty winnie bitty *silakan mules*

IMG_4489.JPG
Himma Madina Herlangga binti Nevis Herlangga

Selain kabar bahagia di atas, saya ingatkan lagi Pak Suami, bahwa ini sudah bulan November! Cihuy. Liburan keluarga kecil kami semakin dekat, kurang dari 4 minggu lagi. Tepatnya 3 minggu lebih sedikit lagi. Sayangnya sampai hari ini belum apply visa. Sepertinya kedutaan besar yang alat finger-printnya rusak sudah pasrah ikhlas nrimo seperti orang Jowo, tak mengambil tindakan apa-apa untuk memperbaiki instrumen di kantor nya dan tidak peduli sama sekali terhadap nasib turis-turis kacangan macam kami yang berangan-angan ingin mengunjungi negaranya. Hhh. Yawis, kami sudah siapkan senjata lain, alias bikin tiket gadungan tipu-tipu menuju negara alternatif. Bye-bye satpam ganteng lucu di kedutaan besar jalan U-thant, kami akan mencoba embassy negara lain, yakni negara yang telah menjajah kita selama 3.5 abad lamanya. Dari pengalaman saya apply visa 2 tahun lalu, saya tahu biasanya embassy negara kedua yang kami pilih ini sepi plus prosesnya cepat sekali. Mungkin karena faktor petugas londo yang kasihan mengingat sejarah kami tertindas oleh kaumnya, sehingga sebagai gantinya proses visa jadi mudah.

Ngomong-ngomong ada yang lucu ketika kami ke KLCC bulan lalu untuk membuat pas foto sesuai Schengen requirement untuk keperluan visa. Selepas saya dan suami bergilir dipotret wajahnya oleh pelayan photo shop, Mika diarahkan untuk duduk manis menghadap ke kamera mba-mba fotografer. Anaknya anteng mengikuti instruksi. Sayangnya dia punya sifat terpuji yang membuat susah di kesempatan ini, yaitu anaknya terlalu ramah dan suka girang kalau melihat orang atau objek baru yang ia tidak kenali. Gejalanya jadi suka senyum2 sendiri dengan sumringah, saking lebar senyumnya malah jadi nyengir sambil menyapa “heh…heh”. Padahal ngga boleh kelihatan giginya naaak, kalau lagi diabadikan mukanya untuk pas foto. Susah banget saat itu bagi mba-mba fotografer buat menangkap momen mika mingkem. Baaa…yeeemm.. Maaa’eeemmm… Taajeeemm… Mingkeeemm… adalah beberapa contoh upaya membuat Mika meniru perilaku primitif kami demi berpose datar tanpa mempertontonkan giginya yang rapi buntet-buntet. Cuma bertahan sampai 2 menit lalu semua kru lelah. Akhirnya mba-mba fotografer menyarankan supaya mengambil fotonya di rumah aja menggunakan handphone, setelah itu baru dibawa ke kedai foto lagi untuk di-edit latarnya jadi putih. Esoknya, suami saya memotret wajah si anak baik di momen utama Mika biasa mingkem, yakni pas makan. Nyam nyamm. Coba liat fotonya saya edit nih, separuh mirip Bapak, separuh lagi mirip Mama ya anaknya.

img_4491

Banyak yang bilang kalau sudah punya anak, jalan-jalan akan lebih susah, atau repot. Cita-cita saya (mudah-mudahan ya Allah) adalah ingin membuktikan bahwa pendapat umum tersebut tidak selalu berlaku. Meskipun kami ngerti bahwa waktu kami akan sedikit terbatas untuk jalan-jalan dengan leluasa karena harus di-minus bobo siang anak, waktu untuk nenen, waktu untuk makan yang harus proper di atas meja makan ga boleh sambil lari-lari, waktu untuk ganti popok (cukup sekali kalau pipis aja, tapi dua kali kalau pupi juga, bisa jadi tiga kali kalau produksi pupinya tinggi). Saya dan suami sudah mengatur ekspektasi kami dari sekarang. Ngga perlu ambisius mau jalan-jalan dari subuh sampe malem menyasarkan diri (nga keren amat yah translate dari getting lost) tanpa pulang ke hotel demi pantang rugi waktu selagi plesir di negara orang, Dua tahun lalu liburan kami di Eropa begitu, sampe kaki pincang tapi hati penuh suka cita. Tapi yang penting, ambilin foto yang banyak yah, Bapak. Pehlis, ini hukumnya wajib.

IMG_4492.JPG
November 2014

Karena saya blank, ngga mengerti hal khusus apa yang harus dipersiapkan, tempo hari saya watsapp nanya-nanya pada narasumber cantik Sasa Gadizsa hey hey alias Nyonya Agung. Ceritanya ia pernah ke eropa selama 3 minggu bersama ibu dan adik-adiknya sekitar bulan Juni (kalau ngga salah). Dan yang paling penting tentunya bersama VIP, si manis noni-noni gemezzzzin Alesha binti Agung Nugroho. Salut sama doi yang bawa-bawa Alesha ke negara asing, ngga tanggung-tanggung jauhnya dari tanah air, solo parenting while travelling. Saya, ngga bisa ngebayangin. Nih foto blurry Alesha dari handphone saya jaman buka puasa bersama.

IMG_4493.JPG
Alesha gemezzzz

Seneng banget mendapat insight yang bermanfaat soal jalan-jalan bawa toddler (bahkan saat itu Alesha masih baby, belum toddler). Sasa sharing dan ngasih masukan seputar antisipasi kesehatan, obat-obatan dan fenomena terkait kebugaran anak yang bisa terjadi di saat jalan-jalan di iklim yang berbeda ekstrim dari asia tenggara. Bagi saya, ada dua highlight of the discussion, pertimbangan lumayan besar yang nantinya akan menentukan kepraktisan dan keluwesan travelling kami.

Pertama, STOLLER or CARRIER? Mau bawa dorongan atau gendongan bayi.

Kedua, MASAK MAKANAN buat anak atau BELI MAKANAN Mika di destinasi travelling?

Dalam hati, saya bisa menebak suami pasti klop memilih jawaban yang sama dengan saya bagi kedua pertimbangan di atas.

Soal mode mobilitas anak, dari jaman bayi sampai sekarang Mika ngga pernah enjoy duduk di stroller. Agak iri sama orang tua lain yang anaknya betah sampe bisa tidur pules. Tapi di lain sisi, kami orang tua yang ngga suka banget ribet lipet buka dorongan bayi. Terutama kalau di mall-mall di KL, stroller dilarang keras lewat eskalator, jadi seringkali ditemukan kemacetan pasutri yang mendorong stroller naik turun lift, waktu rasanya mubazir terbuang bagi kami orang tua yang ngga sabaran dan….ngga sabaran. Ditambah lagi Mika semenjak usia 10 bulan sudah pandai jalan kaki, sejak itu pula anaknya kurang betah duduk tolah toleh jadi penonton. Maunya jadi yang ditonton cari perhatian lari sana sini, hehehe. Dengan matematika tersebut, dan karena saya tahu bentuk jalanan di destinasi kami nanti itu berbatu-batu besar macam conblock, bismillah kami ngga akan membawa dorongan bayi. Semoga ALLAH senantiasa memberi kesehatan, terutama kekuatan di bagian pinggang, punggung dan bahu kami supaya kuat membopong si anak gempal berbobot hampir 13 kilo ini. Amin

gendong.jpg

Soal makanan lah, baru kami agak ragu-ragu. Dari pengalaman Sasa membawa Alesha, ia sampai bawa rice cooker buat masak yang baik dan cocok buat lidah Alesha (saya dan suami juga kepikiran sampe nyari-naryi portable magic jar mungil ke berbagai toko elektronik). Namun menurut cerita mami cantik, pas udah di eropa ternyata Alesha mogok makan. Eng ing eng… Alhasil, kami ikut pikir-pikir ulang deh, takut hal yang sama terjadi padahal alat masaknya udah makan-tempat di koper, oh tidaaak, mending space-nya dimanfaatkan buat oleh-oleh. Dan harus ditanamkan kembali, kami memilih jalan hidup hassle-free travelling.

Akhirnya saya curhat ke orang yang paling dekat sifat dan sikapnya soal jalan-jalan sama saya, tiada lain tiada bukan adalah MAMAH saya sendiri. Hahahhaa. Saya baru ingat waktu hidup di Inggris dan Amerika duluuuu banget, Mamah biasa membawa mas Alvin (kakak saya) dan saya yang masih toddler, juga ade saya yang masih baby. Tanpa pembantu, atau sanak keluarga lain. Saya meminta saran dan wejangan dari yang telah banyak makan garam kehidupan, ciyeh. Masukan si Mamah cuman satu “udah ga usah ribed, beli aja di restoran kaya tey dulu dikasi makan mashed potato dan western food”. Oke Mah. Kalau anda bisa, saya juga pasti bisa!

 

Baik. Supaya membiasakan Mika dengan hidangan dan kearifan lokal di sana nanti, dari sekarang kami masak pasta pasta dan pasta tiap hari. Hahahhaa. Mama mia lezatos!

*sambil masih berdoa mudah-mudahan urusan visa lancar*

 

One thought on “Hello November!

  1. Teyyy. Semangaaat! Pas alesha mogok pokoknya prinsipnya biar ga mengacaukan mood perjalanan, apa aja lah gue jejelin yang alesha mau. Yg penting perut dia kenyang , ga sakit, dan ga rewel. Pas itu dia sukanya roti, croissant, dan pisang aja selama 3 minggu. Yaudah😅 Jgn pusing paling2 berat badan turun dikit. Bisa mengacaukan mood travelling ke negara2 eropa lainnya. Nanti smp rumah kita pompa lagi beratnya🙆🏼.

    Semoga nanti mika tiba2 doyannyarisoto, pizza, sama ravioli ya 😁. Have so much fun dan ditunggu ceritanya!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s