Menyambut akhir pekan yang panjang ini, saya dan suami udah excited, mau cepat-cepat datang lagi ke salah satu kedutaan besar di KL.  Kok  “datang lagi”?

Alkisah begini. Selasa 3 hari lalu, kami datang ke embassy dengan membawa berbagai dokumen lengkap demi mengurus aplikasi visa buat liburan kami nanti. Hari itu saya ambil cuti dari kantor, selain karena hari cuti saya masih turah-turah, tapi karena males juga pake modus “izin” 3 jam absen di pagi hari dan baru masuk kantor siang. Soalnya kalo siang udah gerah, waktunya makan lunch, ngantuk, males mikir, banyak meeting padahal harus mengejar kerjaan yang pagi udah ketinggalan, menurut saya susah banget dapet momentumnya buat fokus kerja di kala separuh hari pertama sudah main sama anak yang lucu gemesin. Alesannya banyak banget ya, hehehe. Padahal mah kesimpulannya males.

Hati gembira mengambil cuti sambil menyimpan harapan bahwa urusan apply visa bisa beres. Namun ternyata staff bagian visa bilang bahwa aplikasi tidak bisa diurus hari itu. Sebabnya adalah mesin finger-print di kedutaan besar tersebut sedang rusak, padahal cap jari itu prosedur wajib dalam pengurusan visa. Baiklah. Cita-cita kami hari itu tidak tercapai. Sedikit kecewa, tapi yang bikin tetap lega adalah staff yang sama tetap memeriksa kelengkapan dokumen kami dan telah memastikan bahwa semua sudah lengkap dan oke, jadi kami bisa percaya diri bahwa visa pasti (inshaAllah) didapat. Kata Mba staff, datang lagi hari Jumat yah.

Jumat, 28 Oktober 2016 ini bukan tanggal merah di Malaysia. Tapi kantor saya officially libur. Harusnya public holiday nya jatuh pada Sabtu 29 Oktober 2016 karena perayaan Deepavali, festival of lights yang dirayakan oleh kaum Hindu atau India. Beruntungnya, saya bekerja di perusahaan “kuli”, salah satu client terbesar yang perusahaan penggaji saya layani adalah national oil company Malaysia, alias Petronas. Petronas itu hobinya memberi hari pengganti libur setiap ada tanggal merah yang jatuhnya pada hari sabtu atau minggu. Misalkan hari libur nasionalnya jatuh di hari Sabtu, otomatis jumat jadi libur sah. Sama halnya jika hari libur nasionalnya jatuh di hari minggu, maka hari senin sudah pasti jadi tanggal merah. Sebagai perusahaan yang menyervis Petronas, kantor saya pun menganut kalender yang sama. Hore.

IMG_4420.JPG
Colorful Deepavali Vibes. Picture taken 2014

Panjang yah intermezzo nya. Intinya, alhamdulillah jadi long weekend. Saya jadi punya time off tanpa harus ngambil cuti lagi dari kantor sedangkan instansi lain tetap beroperasi normal. Ketika staff duta besarnya bilang untuk kembali lagi di hari Jumat, awalnya kami bingung. Kuatirnya adalah di-iming-imingi supaya bisa mengurus di hari Jumat, tapi jangan-jangan mereka lupa kalau Jumat itu tanggalan merah. Ternyata saya yang oneng. Baru sadar kalau bukan Jumat, melainkan Sabtu yang libur nasional. Siiiip banget. Makanya Jumat pagi tadi, lagi-lagi kami hadir kembali lagi di embassy yang sama, harap-harap cemas. Tidak lupa mengawali hari dengan Bismillah. Udah siap dan ngga sabar menanti perasaaan LEGA karena bisa mencoreng checklist sehingga satu tahap lagi mendekati liburan.

Sayangnya, di kunjungan kedua pun kami harus kecewa lagi karena mesin yang sama masih juga rusak!!   Gggrrrr, dua kali gagal itu rasanya hhhhh, padahal semua action item yang diperlukan dari kami sudah lengkap, hanya saja fasilitas dari embassy nya yang ga fit & proper. Sebel. Kalau pake bahasa Jogja, kata yang menggambarkan secara tepat perasaan kami adalah KAGOL.

Berusaha supaya ngga menyia-nyiakan waktu, kami langsung pikir-pikir bikin back-up plan, yaitu mencoba memesan dummy-ticket pesawat & hotel ke negara alternatif saja supaya bisa apply Schengen visa lewat kedutaan besar negara lain. Tapi, kami mati gaya karena saat itu juga sudah Jumat siang, alias apapun bentuk ikhtiar kami buat Plan B, cuma bisa dilaksanakan minggu depan soalnya kantor pada tutup. Ngek. Apa boleh buat.

Banyak kolega di kantor yang saling tukar tanya sebelum akhir pekan yang panjang ini “where are you going, what’s your plan for the long weekend?”

Sesungguhnya my highlight of the long weekend was supposed to be obtaining visa for vacation. Udah. Itu aja, sisanya gegoleran di rumah, mungkin lanjut nyicil packing, ngga kemana-mana dalam rangka pengiritan.

Weeelah, rupanya belum rejeki dapetin, bahkan memulai aplikasi, visa. Yowis ikhlas ya kita, Bapak dan Mika, mudah-mudahan ada hikmahnya, plus diganti dengan kesempatan yang lebih baik. Sementara ini, kami nikmati aja mendung-mendung gerimis quality time di rumah bertiga. Saya ulang lagi poin pentingnya yakni, di rumah aja dalam rangka pengiritan.

Gerakan hidup hemat kami berjalan sudah lama. Kira kira setahun, semenjak November 2015 ketika kami beli beli tiket until liburan di bulan November 2016. Hahaha *tertawa pahit*

Mau jalan-jalan butuh pengorbanan, karena kami belum jadi orang kaya dan kami bukan anak pejabat atau pengusaha milioner. Padahal usaha menjadi orang kaya mah selalu dibahas, tapi ko lama ya terkabulnya. hahaha.

Masih dalam topik membahas liburan dan jalan-jalan kami nanti, saya mau share 9 strategi ngumpulin duit dan taktik penghematan yang kami sudah jalani selama hampir setahun (ikut-ikutan travel tips ala ala travel blogger ceritanya). Kali-kali bisa ditiru dan jadi bermanfaat buat khalayak ramai di segala lapisan masyarakat. Reminder sebelumnya, irit sama pelit itu batasnya tipis. Jangan irit-irit banget sampai menderita juga ya, tetep enjoy.

Berikut ini , ciyeeh.

  1. Rajin menabung di celengan ayam jago (atau yang bentuknya babi maupun kodok yang bisa dibeli di pasar basah maupun pasar modern. Kalau mau design yang agak simple minimalis, bisa juga celengan dari botol selai bekas, atau botol2 cantik beli di IKEA supaya kekinian). Recehan sisa kembalian parkir, kembalian dari kernet pas turun dari angkot atau bus, kembalian belanja bulanan atau mingguan. Jangan masuk dompet lagi. Mending cemplungin ke celengan. Anutlah peribahasa “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Hidup di Malaysia, mata uangnya menggunakan banyak koin receh. Saking banyaknya, saya males naruh kembalian di dompet, bisa-bisa dompet saya jebol sama koin. Kumpulan uang receh kami ada 2 toples besar. Mudah-mudahan bisa cukup buat uang makan selama liburan ya Allah *ngarep*              IMG_4424.JPG
  2. Pandai lah menyicil dan mengatur “timing” belanja. Khusus buat liburan kami tahun ini yang sudah direncanakan dari tahun lalu, kami akan menuju destinasi yang iklimnya dingin di bulan November, transisi antara musim gugur (autumn) dan awal winter. Udah tau begini,saya belanja jaket dan aksesoris winter (untuk suami saja yang belum punya jaket tebel) sengaja di bulan Januari/Febuari, saat season clearance alias pas toko-toko fashion pasti sudah beralih item menjual style pakaian season berikutnya. Nah momen seperti ini, winter clothing jadi di-diskon miring, banting harga. Kemudian, supaya dompet dan isi bank ngga terguncang di satu waktu (biasanya pas akhir-akhir) mendekati liburan, setiap bulan selama 12 bulan, saya menyicil pakaian hangat buat anak saya. Satu bulan beli satu sweater atau celana tebel, misalkan.
  3. Beresin isi lemari. Seperti postingan pertama saya, membongkar isi lemari terbukti bisa berbuah penghematan. Menyumbang pakaian bekas dengan pamrih demi dapetin voucher belanja itu bukan contoh yang baik deng, hehehe, tapi ada nilai positif juga kalau dilihat dari sudut pandang saving money. Ada juga cara lain untuk mendapatkan uang dengan membongkar lemari. Bisa dengan Garage Sale, entah di sekitar rumah, atau buka lapak di pasar. Saya jadi inget, jaman kuliah dan berkegiatan di Palapsi (Pecinta Alam Psikologi) UGM, dulu saya se-tim Air pernah sekali dua kali jualan di Pasar Prambanan dan Pasar Kembang di Kaliurang, Jogja (bener-bener pasar rakyat) jam 4 pagi sebagai salah satu usaha raise fund kami biar bisa ekspedisi arung jeram di sungai Asahan Sumatra Utara dan di Thailand. Atau… (apalagi) kalau isi lemari kita itu pakaian yang fashionable (bukan tipe isi wardrobe saya), bisa juga kesempatan berbisnis jualan on-line. Istilah yang lagi tren di media sosial adalah jualan “pre-loved items”.
  4. Tinggalkan kebiasaan (habit) yang mahal maupun yang ngga perlu. Skip ngopi-ngopi di Starbucks atau coffeeshop sekitar kantor di hari kerja. Saya memilih ambil kopi gratisan dari coffee machine kantor kalau di tempat kerja. Bahkan kalo mau jajan di 7-eleven (atau indomaret di Jakarta), saya mikir dua kali “ini nafsu atau perlu?”. Beli baju abis gajian, nafsu atau perlu? Walaupun seringkali masih suka kalah sama nafsu pengen jajan sih, apalagi belanja buat anak. Hehehe.  Nah, buat para wanita nih, suka silau sama produk kecantikan. Tinggalkan kebiasaan membeli produk mahal karena efek impulsif ataupun efek “latah” teracuni oleh geng atau temen kantor. Sebelum memakai produk yang mahal, pastikan sebelumnya sudah mencoba yang “generic” dan harganya umum tersedia di indomaret, apalagi produk dalam negri (terinspirasi sobat saya bernama Yara, hehehe). Bisa jadi sebenarnya yang seperti itu cocok di muka. Cocok juga di kantong. Klop banget nih kombinasinya.
  5. Nonton film online aja, ga perlu ke bioskop. Bagi pasangan muda yang baru aja punya anak seperti saya, yang ini mah ngga perlu jadi saran, pasti sudah otomatis ngga pernah ke bioskop lagi, bisa-bisa sampai 2 tahun *curhat* Gapapa. Selamat ya, anda menghemat.
  6. Ngumpul ajang silaturahmi atau arisan di rumah. Daripada ketemuan di Mall. Kalaupun di rumah ngga mau report, ajak sahabat-sahabat untuk ikutan potluck dimana masing-masing tamu bawa makanan untuk dimakan rame-rame. Apalagi kalau peer group kita sama-sama melewati fase kehidupan “baru punya anak bayi” seperti lingkaran sahabat saya, ngumpul di mall itu ngga kondusif banget. Rame, berisik, ruang gerak terbatas, kalau anak ngompol atau minta nenen kudu kabur ke nursing room, tapi kalau kabur sebel soalnya ketinggalan ngobrol-ngobrol sama teman-teman. Alhamdulillah rasanya seneng banget waktu terakhir ngumpul sama teman-teman geng Ronin saya di rumah Yaro. Asli, DISASTERRR, riweuh bener tapi seru dan bahagia bersama-sama. Ngga kebayang kalau rempong-rempong di mall, kasihan anak.
    pl1
    Silaturahmi Ronin di rumah AGung & Sasa – sebelum beranak

    pl4
    Silaturahmi Ronin di rumah orang tua Yara setelah beranak
  7. Tarik lah uang dari ATM sesuai bank masing-masing. Ada beberapa bank yang tidak punya fasilitas free-of-charge kalau kita menarik uang dari ATM bank lain. Misalkan bank saya di Malaysia H***, kalau saya bertransaksi menggunakan ATM bank lain, sekali guna – kena tagihan hampir RM 5, alias sekitar Rp 16,000. Inget yah, 16 ribu demi 16 ribu, lama lama bisa jadi 16 juta. Hati hati.
  8. Bijak lah dalam penggunaan listrik di rumah. Baru liat postingan teman kami, mas Yatra, soal “waspada vampir listrik”, di samping memang ade saya juga sering ngingetin kalau lagi singgah di BSD. Meskipun dalam keadaan mati, alat elektronk tetap mengkonsumsi energi, dampaknya pada tagihan listrik dooong. Contohnya charger handphone, ga dipake tapi alatnya masih nimbrung aja nyala di stop kontak. Yang ini saya masih nakal dan lalai. Jadinya tagihan listrik terkadang melambung tinggi, hiks, menyesal kemudian.
  9. Rajin-rajin lah bersedekah. Hahahhaa. Aseli. Niscaya rejeki nya dilipatgandakan ALLAH maha kaya, AMIN.

3 thoughts on “Drama Seputar Visa & 9 Tips Menghemat Demi Liburan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s