Saya ingat jaman saya hamil dan menanti momen persalinan Mika, saya baru pamit dari kantor untuk mengambil cuti melahirkan 3 hari sebelum masuk ruang bersalin. Tadinya menurut rencana dan hitung-hitungan tanggal bersama dokter, harusnya jeda antara saya ambil cuti dengan check-in di Rumah Sakit buat melahirkan itu 5 hari. Tapi si anak bayi memutuskan mau keluar lebih awal, doi udah garuk2 dari dalem perut pakai kukunya yang panjang sampai-sampai ketuban saya merembes di hari Sabtu di mana penggunaan jasa dokter dikenakan overtime charge. Well done nak.

Pagi pertama ketika ngga lagi masuk kerja, hal pertama yang saya raih pas bangun tidur adalah handphone, langsung buka Path, penasaran ada postingan apa kalo saya libur sedangkan orang lain kerja. Nyehehehe. Saya surprised karena ada notifikasi bahwa ada postingan dari ade saya (and he tagged me), padahal ia jarang update status. Rupanya, dia bikin video yang di-upload di Youtube, terus di-share lewat Path dengan captionwalking down memory lane” dalam rangka menyambut saya yang mau jadi seorang Ibu.

Saat menonton video persembahan si ade, (dan bukan pas video tamat, melainkan dari awal rekaman pas musiknya baru mulai)saya nangis se-bombay-bombaynya, mewek semewek-meweknya. Haru berderai-derai. Terenyuh bahagia. Rindu yang menggebu sama keluarga saya yang jauh di BSD, sedangkan saya siap-siap melahirkan berdua saja di KL bersama suami.

Yang terutama adalah rindu sama Papah saya yang hingga kini sudah 10 tahun (atau lebih malah) ngga bisa berkomunikasi (**).

** Sudah 10 tahun Papah saya sakit, kisah sakitnya ga pernah bisa diceritakan dengan singkat, penyakitnya pun bukan yang umum. Suatu hari mudah-mudahan saya bisa menulis tentang Papah. Tapi kayaknya bisa jadi panjaaaang ala biografi. Hehe. Sementara, pendeknya begini. Papah saya kalau dilihat orang awam, seperti orang yang mengalami stroke, tapi bukan. He’s been struggling with a physical drawback related to his brain and added with mental health challenges. He’s physically at home at BSD with Mama, but paralyzed. Sudah ga bisa berbicara**

Denger suara beliau langsung inget all our happy childhood footprints, all our great loving memories, all the amazing blast from the past. Sometimes you can’t remember faces, nor places. But you can remember feelings. Bagi saya ketika menyaksikan video tersebut, I can remember the feeling that Papah is a great father with a huge heart. And I miss his presence.

Hari ini, saya yakin ade saya tengah menghitung hari, menanti life-changing moment, sama seperti saya dan suami tahun lalu.

Sebentar lagi, anytime now, Nevis Herlangga will turn into a father. I’m sure an amazing one with the same big family-man heart like my father’s.

My heart feels like exploding with love. Masih ngga percaya kalau si bungsu akan jadi seorang Ayah. Tapi biar gimana pun, you’re still, and always will be, our baby brother, De.

nevis
This is you, forever, in my head

Mudah-mudah2an bertambah rejeki dan kebahagiaan kita sekeluarga. Doa buat Mamah dan Papah.

Doa buat Nevis & Linda. InshaAllah proses persalinan Linda lancar. All the best, I love you, De.

Ini video yang bikin rindu nya di Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=O-MKhst6YHo

NYC.png
New York 1992. Papah Mamah, Mas Alvin, Tey, Nevis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s